
Depresi...
Setelah semua usahanya hancur, kini Risa menjadi sangat murung dan menjadi seorang yang pendiam.
Semua keluarga sudah berkumpul disana, dan mereka memutuskan untuk kembali ke Eropa bersama dengan Risa, tentunya setelah Risa keluar dari rumah sakit dan di nyatakan sembuh dari sakitnya.
namun Risa tak mampu menolak atau mengiyakan ajakan dari keluarganya, Risa hanya terdiam, dia sudah tidak punya semangat hidup...
"Kamu kenapa hanya diam seperti ini? bukankah ayah sudah bilang kepada mu jika Revaldi bukan lelaki yang baik untuk mu. jalan hidup kamu masih panjang nak, kita bisa mencarikan jodoh yang terbaik untuk kamu. jangan larut dalam kesedihan...." ucap Indra(ayah Risa).
"Biarkan saja dia seperti itu paman, bukankah semua ini kesalahan dia sendiri. dia yang sudah merencanakan sakitnya untuk mencari simpati dari kak Reval....harusnya yang paman salahkan adalah kak Risa." jelas keponakan Risa.
"Jangan sembarangan bicara kamu..." bentak Indra
"Cukup. kalian semua keluar dari sini, aku tidak ingin melihat kalian adu mulut di depan ku...pergi!." bentak Risa dengan nada tinggi.
Melihat kemarahan di wajah Risa mereka semua keluar dari ruangan...
Risa sangat sedih dengan semua kenyataan ini.
__ADS_1
Dia pun mencoba menghubungi Revaldi hingga puluhan kali, namun Revaldi tak merespon sedikitpun tentang dirinya...
"Revaldi, jika kamu tidak bisa mencintai aku maka untuk apa aku hidup?...lebih baik aku mati agar aku bisa melepaskan dirimu untuk orang lain." Tangis Risa pecah saat dia membuka memori tentang masa lalu mereka.
Tak berapa lama Leo masuk untuk melakukan pemeriksaan.
"Apakah tidak ada hal lain yang ingin kamu lakukan selain menangis? untuk apa kamu terus menerus larut dalam kesedihan." Cetus leo.
"Semua ini karna kamu..." maki Risa
"Ini kesalahan kita berdua jadi jangan pernah saling menyalahkan satu sama lain...." Leo menatap wajah Risa dengan tajam.
"Jangan berani menyakiti Criztine, atau kamu akan tau akibatnya. akan ku pastikan usaha kamu untuk memisahkan mereka tidak akan pernah berhasil...ikatan mereka semakin kuat dan aku sudah menyerah. yang aku inginkan saat ini adalah melihat senyuman di bibir Criztine. meski kebahagiaan nya bukan bersama ku, tapi aku akan selalu mencintai dia dari kejauhan, meski tanpa memiliki. mari kita sama-sama merelakan masa lalu kita Risa...!" Leo mengusap air mata Risa.
Risa merasa sangat nyaman dengan perlakuan Leo.
"Bolehkah aku memeluk kamu?." Risa menundukkan kepala.
"Dengan senang hati..." Leo pun memeluk Risa, dia juga bisa merasakan detak jantung Risa yang semakin lama semakin tidak terkendali.
__ADS_1
"Terima kasih untuk pelukan nya. aku akan berusaha merelakan Revaldi, tapi jika aku berapa di sini maka akan semakin sulit untuk diriku melupakan dia. jadi aku sudah ambil keputusan untuk kembali ke Eropa. " jelas Risa.
"Jika itu yang terbaik maka lakukanlah. aku akan berlibur ke tempat kamu jika ada waktu luang..." senyum Leo.
"Jika di pikir, kamu adalah lelaki yang ramah dan perhatian. adakah lelaki yang tuhan kirimkan untuk ku seperti dirimu? astaga aku mengkhayal sampai ketinggian...hehe." lirih Risa.
"Ck ck ck...aku memang punya pesona yang luar biasa, hati-hati bisa cinta nanti kamu..." ucap Leo bermaksud menggoda Risa.
seketika pipi Risa merona.
"Bagaimana jika kita berpacaran? siapa tau kita cocok. dan kita bisa saling mengisi kekosongan di hati kita.." ucap Risa dengan wajah memelas.
"Coba sini aku periksa otak kamu, jangan-jangan ada saraf yang putus ini..." ucap Leo dengan nada menggoda.
"Hahaha..." Risa tertawa melihat lelucon yang baru saja mereka mainkan.
"Coba lihat diri kamu, tadi kamu nampak depresi dan setelah bertemu dengan ku kamu menjadi ceria seperti ini. itu tandanya kamu baper..." Ucap leo dengan berlari ke arah pintu keluar.
"Dasar kamu..." Risa melemparkan bantal ke arah Leo.
__ADS_1
"Kenapa di dekatnya aku merasa nyaman, aku juga merasa tidak ada beban sedikitpun..." gumam Risa