
aku duduk dengan gelisah dan gugup mencoba merangkai kata di hadapan ibu tami manager keuangan di kantor Omar Company tempat ku bernaung. sejujurnya aku agak takut jika ajuan pinjaman ku tidak di setujui mengingat begitu besar nominal yang aku butuhkan. Bu tami memandangku dengam penuh selidik membuatku semakin merasa gugup padahal sifat wanita berumur 46 th ini sangatlah lembut tapi juga tegas. "jadi ada keperluan apa kina" sapa bu tami memulai percakapan... "ehh,,, a...anu bu begini.. jawabku sambil memilin kedua jariku yang berada di bawah meja, aku semakin gugup ketika bu tami memandaku lekat. "iya,,, bagaimana apa ada masalah" kembali bu tami bertanya. "bu... jawabku ragu... sebenarnya saya kesini ada keperluan yang mendesak ucapku terbata sambil berusaha menetralkan detak jantungku, ah... rasanya mengajukan permohonan pinjaman lebih berdebar dari pada menghadapi ujian semester karena baru pertama kalinya aku mengajukan pinjaman dikantor setelah 2 tahun bekerja, jikalau ini tak mendesak aku tak akan melakukan nya tapi ini semua demi pertaruhan nyawa ayahku yang terbaring lemah di rumah sakit. "saya ingin mengajukan pinjaman bu, ayah saya sedang di rawat di rumah sakit, saya perlu uang untuk biaya operasi ayah saya bu..." ucapku terbata. "baiklah kina isi saja formulir pengajuan pinjaman nya nanti akan ibu acc"... "ta,,, tapi bu saya butuh pinjaman dengan nominal yang besar bu, apakah akan ibu setujui... " bu tami memandang lekat wajahku yang hampir menangis dan gugup. "memang nya berapa yang kau butuhkan kina" tanya bu tami. "du,, dua ratus juta bu" jawab ku dengan makin gugup. "dua ratus juta itu nominal yang besar kina, perusahaan tidak akan mungkin menyetujui nya".... "tolonglah bu jawabku dengan suara serak yang menahan air mata kalau perlu saya akan bekerja seumur hidup di perusahaan ini untuk melunasi pinjaman saya, ayah saya harus segera di operasi bu, tolong saya bu"... "tapi kina kita tidak tau kedepan nya seperti apa, siapa tau ada hal yang tidak di inginkan hingga kamu tidak bisa melunasi nya misal nya jika kamu di pecat karena kinerja kamu yang tidak baik".... "saya janji bu, saya akan bekerja dengan baik sampai saya bisa melunasi hutang saya a,,,atau kalau perlu saya akan mengadaikan sertifikat rumah saya sebagai jaminan"... "ehm,,, baiklah begini saja kina, ibu akan coba bicarakan ini dengan sir rayhan semoga sir rayhan bisa membantu ibu akan kabari secepatnya, jangan terlalu khawatir semoga ayahmu segera sembuh"... "terima kasih bu, kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja"...
********************************
"kina,,, gimana... bisa...? tanya amanda begitu aku duduk di kubikel ku... aku meggeleng lemah "jadi.... " tanya amanda kembali sambil memegang tangan ku seolah memberikan kekuatan. "Perusahaan ga bisa memberikan pinjaman sebesar itu tapi bu tami akan coba bicara pada sir rayhan siapa tau sir rayhan bisa membantu" jawabku sambil bergetar.
__ADS_1
"yang sabar ya kina, semua pasti ada jalan keluarnya ".
"tapi.... gimana kalau sir rayhan tidak memberikan pijaman itu manda, gimana nasib ayah... atau gimana kalau gue pinjam ke rentenir aja mereka pasti bisa bantu gue".
aku terdiam setelah mencerna apa yang manda katakan, semua yang di biacarkan nya emang benar sampai tua juga aku ga bakalan habis buat bayar hutang ke rentenir. otak ku benar-benar ga bisa di ajak berpikir, buntu karna memikirkan ayah. "lu bener manda, tapi gue bingung banget mesti dapat uang dari mana untuk operasi ayah.. "
__ADS_1
"gue tau ini sulit buat lu kina, tapi lu harus percaya gue akan selalu ada bantuin lu sebagai sahabat, kita akan cari sama-sama biaya itu, gue akan coba pinjam sama saudara gue, lu yang sabar ya... " sambil manda menepuk punggung tangganku, aku pandangi manda dengan terharu, ku peluk sahabatku yang 2 tahun ini selalu bersama-sama.
"makasih manda" ucapku
ceritanya masih nyambung ya, jangan lupa like dan komen nya, biar author semangat nulis nya, makasih 😘
__ADS_1