
Tibalah mereka di rumah Leo.
"Selamat datang kembali Tuan." sapa seorang asisten rumah tangga.
"Bibi, tolong bawa masuk semua barang itu." Leo menunjuk sebuah tas besar "Lalu letakkan semua barang itu di kamarku."
"Maksud kamu kita tidur satu kamar?." Risa mengeryitkan dahi.
"Kenapa? bukannya kamu ingin numpang disini, kalau begitu terserah aku dong." Cetus Leo.
Hati Risa seakan berhenti bernafas mendengar semua ucapan Leo membuat dia membayangkan hal-hal indah yang nantinya akan terjadi diantara mereka.
"Hey, pasti lagi mikir kotor ya? kelihatan dari wajah kamu." Leo melemparkan sebuah godaan pada Risa.
"A...aku tidak memikirkan apa pun! pasti kamu yang berpikiran jorok ya?."
"Tidak mungkin! kamu tidak akan bisa menggodaku, lihat saja tubuh kamu tidak begitu menarik." Ucap Leo dengan mencubit hidung Risa.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyaksikan tingkah laku mereka berdua...
"Mohon maaf Tuan saya permisi masuk ke dalam dulu." asisten pun masuk ke dalam rumah.
"Kamu membuatku malu.." lirih Risa.
"Apakah kamu masih punya malu? aku kira kamu...." belum sempat Leo melanjutkan ucapannya, Risa lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah air mata.
"Apakah aku menyakitimu? maaf, aku hanya bercanda." Leo mengusap air mata Risa.
"Tidak masalah, aku sudah cukup tau tentang diri ini." ucap Risa.
Leo sangat merasa bersalah, dia melepaskan tangan dari bahu Risa...
__ADS_1
"Ahhhh...." Leo hendak berdiri sendiri, namun dia belum begitu pulih, sehingga dia masih bertumpu pada bahu Risa.
"Dasar ceroboh! kamu tidak boleh banyak gerak. sini aku bantu." Risa kembali memapah Leo.
Tatapan mata Leo tidak lepas dari wajah cantik Risa...
"Bantu aku untuk sampai di kamar."
"Dimana?."
"Bawa aku naik, nanti aku tunjukkan kamarku."
Mereka menaiki anak tangga dengan perlahan...
"Itu adalah kamarku..." Leo menunjuk sebuah kamar yang terletak di sudut ruangan.
mereka masuk kedalam kamar tersebut, Risa terkejut saat dia mendapati sebuah foto Criztine yang berada di atas meja kamar.
"Aku tidak lelah! aku ingin keluar sebentar." Ucap Risa.
Belum sempat Risa melangkahkan kaki, Leo lebih dulu meraih lengannya.
"Maaf jika ucapanku membuat kamu bersedih..." Lirih Leo.
Air mata mengalir begitu saja tanpa terkendali, namun sebelum Leo menyadari semua itu, Risa lebih dulu mengusap air matanya.
Kini dia menoleh dengan senyuman tipis.
"Aku tidak apa-apa!." Ucap Risa
"Duduklah..."
__ADS_1
Risa mematuhi perintah Leo...
"Aku tidak pantas berada di samping seorang baik seperti kamu, aku hanyalah wanita kotor." Lirih Risa dengan menundukkan kepala.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? tolong jangan membuatku semakin merasa bersalah." Leo menggenggam kedua tangan Risa, serta mereka saling menatap.
"Aku tidak melihat kamu seperti apa yang kamu katakan, bagiku kamu adalah seorang yang baik." Leo berusaha meyakinkan diri Risa
"Leo, terima kasih...." Risa memeluknya dengan sangat erat, ada perasaan yang tidak sanggup dia ucapkan.
"Ijinkan aku untuk mengenal dirimu lebih jauh..." Bisik Leo.
"Maksud kamu?." Risa melepaskan tubuh Leo.
"Aku tau kamu mulai menyimpan rasa terhadapku, maka dari itu aku ingin lebih dekat dengan dirimu."
"Apakah ini sebuah pernyataan cinta? ataukah aku yang terlalu berharap?." lirih Risa.
"Bisa di bilang seperti itu." Cetus Leo.
"Tapi...."
"Tapi apa?." Tanya Risa heran.
Leo tidak ingin tenggelam dalam bayangan masa lalu, kini dia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya.
walaupun dia tidak begitu yakin bahwa perasaan itu adalah cinta, namun melihat semua hal yang telah di lakukan Risa membuat dia ingin mengenalnya lebih dari seorang teman maupun sahabat.
"Ijinkan aku untuk mencintai kamu secara perlahan, tidak mudah bagiku untuk melupakan Dia." Jelas Leo.
Sebelum ucapan itu keluar dari mulut Leo, Risa sudah mengetahui bahwa Leo tidak sepenuhnya mencintai dia.
__ADS_1