
Sesaat kemudian terdengar suara klakson mobil di depan pintu gerbang. Di lihatnya penjaga gerbang, berlarian membuka pintu besi tersebut. Sebuah mobil putih mamasuki pekarangan rumah dan berhenti di halaman. Segera Alisya bangkit, berjalan menuju mobil tersebut.
Tak lama keluarlah sosok lelalki tampan memakai kemeja putih dengan perawakan kekar dan tinggi. Benar, sosok lelaki itu adalah Gilang Hendarman. Laki laki yang baru saja sah menjadi suaminya"Mas...." Alisya mengulurkan tangan. Namun, Gilang tak perduli, ia malah menepis tangan Alisya dengan dirinya. "Mas, kamu darimana saja? saya khawatir" Ucap Alisya seraya mengikuti langkah kaki suaminya.
Meski Alisya tau Gilang tidak membutuhkan perhatian darinya namun, sebagai seorang istri sudah menjadi kewajiban baginya memastikan kondisi suaminya. Meski kerap kali Perlakuan Gilang membuatnya sakit hati.
Alisya akan terus bersabar sampai suaminya mau menerima dan mencintainya dirinya.
Sejak pertama kali di pertemukan, Alisya jatuh hati pada Gilang. Entah rasa itu datangnya bagaimana dan seperti apa, yang Alisya tau hatinya terketuk oleh Gilang. Sebelum melihat wajah Gilang, Alisya sudah tersenyum sendiri mendengar nama laki laki itu.
"Mas...."
Lagi lagi Gilang diam. Tak ada satu pun kata yang ingin ia katakan pada Alisya. Hari ini membuatnya sangat kesal. Untuk sekedar menjawab pertanyaan Alisya saja sungkan, apa lagi harus menatap wajahnya.
Sungguh keterlaluan sikap Gilang kali ini. Meaki begitu kesalahan ini terjadi juga bukan kehendaknya. Pihak ketiga yang di harapkan menjadi pihak utama, datang setelah pihak utama masuk dalam kehidupan pihak kedua(Gilang). lalu si pihak kedua ingin menjadikan si pihak ketiga(Olive) menjadi pihak utama dan di utamakan. Pada dasarnya semua angan pihak kedu hancur setelah mengetahui bahwa Olive telah bersanding dan bahagia bersama dengan yang lain. Meski begitu, si pihak ketiga masih mempunyai tempat utama di hati Gilang.
"Mas...."Alisya meraih lengan suaminya dari belakang. Seketika Gilang menoleh, melihat lengannya di sentuh oleh tangan lembut Alisya.
"Jangan sentuh saya...."Ketusnya seraya menyingkirkan tangan Alisya dari lengannya "Jangan perdulikan saya. Kemana pun dan dengan siapa pun saya pergi. Kamu tidak punya hak bertanya maupun melarang saya. Mengerti!" Tatapan mata Gilang memancarkan amarah. Alisya terpekik melihat respon ketus suaminya. Tidak sekali pun ia mengira akan ada reapin sekasar itu dari Gilang.
__ADS_1
Gilang pun kembali berjalan, memasuki rumah. Langkah kakinya terdengar ketia ia menaiki anak tangga. Alisya memilih bungkam dan hanya mengikuti suaminya.
Huhfff.....
Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang pengantin yang tertata rapi. Di hiasi bunga mawar di balik selimut "Bau apa ini?" Ketika Gilang menoleh kiri kanan, di lihatnya kelopak bunga mawar terhias indah di atas tempat tidurnya. Segera Gilang bangkit lalu membuka selimut putih "Hah...apa ini" sembari menatap Alisya "Hah....kamu kira saya akan menyentuh kamu, gitu? itu tidak akan pernah terjadi, mengerti kamu?!" Setelah menertawai hal itu, Gilang pun meraih spray lalu menyeretnya sampai kelopak bunga berhampuran kemana mana. Ada beberapa kelopak mengenai wajah Alisya. Sungguh hancur hatinya melihat semua itu "Bukan saya yang menghias itu semua, mas. Tapi...."
"Cukup! Saya tidak mau dengar penjelasan kamu."
Brak...
Pintu kamar di banting dengan keras. Gilang pun keluar kamar. Ketika dia turun di lihatnya empat mata menatap dirinya dengan tajam.
"Pernikahan ini bukan kemauan saya. Jadi, jangan salahkan saya atas tindakan saya ini" Jawab Gilang dengan santai.
"Apa kamu bilang..." Lagi lagi Dimas hendak melayangkan pukulan.
"Tunggu, Pa" Kali ini bukan Gea yang menghentikan Dimas melainkan Alisya, menantu pertama mereka. Alisya pun menuruni anak tangga "Ini sudah jadi masalah pribadi kami. Papa dan mama tidak berhak masuk ke dalam permasalahan kami sebelum saya atau suami saya mengadu kepada kalian. Kami sudah dewasa, punya cara sendiri menyelesaikan masalah ini. Tutur Alisya seraya menyentuh tangan mertuanya.
"Suami seperti ini masih saja kamu bela, nak" Jari telunjuk Dimas mengarah tepat di depan mata Gilang "Bahkan menyebut dia lelaki saja, papa malu" Dimas tersulut emosi, ia pun segera meninggalkan mereka bertiga "Mama, kita pulang sekarang. Mereka tidak butuh kita lagi" Ucapnya dari kejauhan.
__ADS_1
Alisya meraih tangan mama mertuanya "Maksud Alisya tidak seperti itu, Ma. Alisya hanya...."
Gea tersenyum "Mama percaya sama kamu, sayang. Dari pada memperkeruh masalah, lebih baik Mama pergi dulu" Ucap Gea seraya mengusap bahu menantunya "Yang sabar, Nak. Menghadapi manusia seperti dia "Seraya menatap kesal diri Gilang.
Sekali lagi Gea mengusap bahu Alisya "Sudah, Mama pulang dulu, ya" Tanpa pikir panjang Gea pun pergi.
Setelah kepergian mereka, Gilang berjalan melalui Alisya "Bisa banget kamu cari muka depan orang tua saya..."
Deg...
Ucapan itu seolah menancap dalam hatinya. Luka tak berdarah tapi menyakitkan.
"Astagfirullah. Kenapa bilang seperti itu, mas. Saya tidak bermaksud...." Ketika Alisya hendak menjelaskan, Gilang lebih dulu mengacungkan jempol "Kamu memang hebat..." Seraya duduk di sofa.
Alisya masih mematung di depan tangga, melihat kelakuan Gilang sampain membuat air matanya menetes deras "Ya Allah, beri hambamu kekuatan lebih. Ikhlaskan hati hambamu ini" ucapnya dalam diam.
"Kalau kamu mau nangis jangan depan saya. Pergi sana..." Ketus Gilang seraya menyalakan Tv. Gilang menyalakan nada Tv dengan keras.
Alisya pun memilih diam lalu kembali menuju kamar.
__ADS_1