HASRAT

HASRAT
pelajaran hidup


__ADS_3

Kembali pada pencarian Olive. Hampir dua minggu lamanya Olive belum juga di temukan. Semua pencarian belum menbuahkan hasil. Tiba tiba saja ketika Gilang sedang duduk di ruang dokter, ia teringat sesuatu, hampir seluruh kota telah ia jelajahi tapi masih ada satu tempat yang belum di kunjungi. Tempat itu adalah rumah orang tua angkat Olive letaknya di pinggir kota. Untuk saat ini Gilang tidak bisa langsung ke sana sebab ia tengah menemani Alisya cek kandungan. Bagaimana pun anak di dalam perut Alisya adalah darah dagingnya sendiri. Wajib hukumnya bagi seorang ayah memastikan kondisi anaknya meski masih di dalam kandungan sekali pun. Gilang tidak bisa lepas dari tanggung jawab sebagai seorang ayah, meski ia tidak menginginkan ibu dari anak itu. Jika bukan karena anak itu mungkin Alisya sudah menjanda.


Selesai melakukan cek kandungan mereka langsung keluar ruangan.


"Alhamdulillah ya mas anak kita sehat, detak jantungnya juga normal. Rasanya udah nggak sabar pingin lihat dia" Ucap Alisya sambil berjalan menggendeng suaminya. Gilang hanya diam dengan pandangan ke arah perut sang istri. "Syukurlah....."


"Setelah ini kamu pulang naik teksi, saya sudah pesankan taksi online untuk kamu" ucap Gilang sambil berjalan keluar dari rumah sakit.


"kamu mau kenama, mas?" tanya Alisya.


Gilang menghentikan langkan sembari melepas kaca mata yang ia kenakan "Saya mau mencari Olive. Nanti kalau ada apa apa langsung kabari saya. Satu lagi kamu tidak boleh terlalu capek ingat pesan dokter tadi.. ...." tuyurnya.


Secuil perhatian itu saja membuat Alisya sangat terharu. "Mas juga jangan lupa makan"

__ADS_1


Memutar kedua bola mata "Tidak usah khawatirkan saya...." Ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Sabar ya sayang Bunda janji akan memperjuangkan cinta Ayah kamu, demi masa depan kita nantinya. Bantu Bunda ya sayang" lirihnya pada janin di dalam rahim.


"Kenapa saya tidak kepikiran mencarinya di sana...." Ucap Gilang sembari meluncur ke rumah orang tua angkat Olive.


"Sejauh apa pun kamu saat ini saya yakin jika kamu dan anak kita dalam kondisi baik baik saja" rasa percaya diri terlampau tinggi sampai Gilang tidak memikirkam kemungkinan terberat dalam keyakinannya itu.


"Semoga Ayah kamu di berikan perlindungan oleh Allah, amin" Alisya sangat khawatir dengan kondisi suaminya itu, pasalnya sejak hilangnya Olive saat itu, ia tidak ada sedikit pun waktu luang untuk beristirahat. Sepulang kerja langsung keluar, pulang larut malam, sampai di rumah langsung tidur. Setiap saat satiap waktu tidak ada hari tanpa mencari sosok Olive. Jika di tanya apakah hati Alisya tidak sakit? sudah jelas sakit sekali. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa merubah hati suaminya secepat kilat untuk melupakan wanita yang di cintai. Namun Alisya berharap suatu hari nanti Suaminya akan membalas cinta itu lalu melupakan opsesi terbesarnya. Alisya sendiri sadar jika tidak mudah membuat seseorang jatuh cinta kalau di dalam hatinya masih tersimpan cinta untuk orang lain.


"Nduk, kamu istirahat dulu biar nanti ibu yang terusin....." Sebut saja ibu Yani, beliau adalah wanita paruh baya yang telah menolong Olive saat itu. Beliau hidup berdua dengan Pak Umar, suami Ibu Yani. Kebetulan mereka tidak punya anak, konon katanya si bapak tidak bisa memiliki keturunan. Meski begitu Ibu Yani tetap di samping suaminya. Mereka memutuskan untuk menjalani hidup dengan ketentuan Tuhan. Sebenarnya mereka ingin mengadopsi anak tapi mereka takut jika nanti kehidupan anak itu akan sengsara karena mereka tidak sanggup memberikan kehidupan yang layak untuknya. Pada akhirnya mereka mengurungkan niat mengadopsi anak. Mereka telah sepakat untuk tidak memikirkan anak. Entah abak yatim piatu atau anak tetangga sekali pun sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri. Setiap kali ada rejeki pasti keduanya membelikan sesuatu untuk mereka. Dengan begitu mereka sudah merasa bahagia, begitu kata meraka.


Sembari mengusap keringat di kening "Iya, buk. Hari ini cuaca panas banget ya, tapi kita harus tetap semangat" Ucap Olive lalu duduk di sebuah tikar. Setiap hari Pak Umar dan ibu Yani berjualan keliling di sekitar komplek rumah orang tua angkat Olive. Tepatnya di sebrang jalan. Karena mereka hanya berjualan keliling jadi mereka memakai alas tikar saja. Biar bawanya juga lebih ringan.

__ADS_1


Tiba tiba pak Umar datang membawa dua gelas es kepala muda "Minum dulu nak pasti kamu kehausan. Air kelapa ini baik untuk ibu hamil dan calon bayinya." Tuturnya lembut."Ini buat ibu, biar badan seger" Secangkur lagi ia berikan kepada istrinya.


Dengan senang hati Olive menerima segelas es kelapa muda lalu meminumnya "Hah.....Seger ya pak, buk. Alhamdulillah tenggorokan langsung adem" Sambil mengulas senyum bahagia. Belum pernah Olive merasakan kebahagian seperti ini, meski sederhana tapi bahagianya luar biasa. Bersama kedua orang ini kembali Olive temukan kasih sayang kedua orang tuanya yang di rindukan selama ini.


"Nak, kamu kenapa?" Bu Yani menyentuh pundak Olive kala melihat air mata menetes di ujung mata.


"Nggak apa apa kok, buk. Makasih banyak ya pak, buk, sudah mengijinkan saya tinggal bersama kalian. Jujur bersama kalian saya sangat bahagia" Menyentuh kedua tangan Ibu Yani kemudian menciumnya.


"Jangan sungkan begitu nak, Olive. Malah kita yang harus minta maaf sudah merepotkan nak Olive" Si bapak ikut duduk bersama keduanya.


"Saya malah senang pak bisa bantu bantu, lagi pula kalau wanita hamil kebanyakan rebahan tidak baik buat janin. Mending di buat gerak sekalian olahraga biar debaynya sehat ibunya pun kuat"


"Debay?" Pak Umar dan ibu Yani saling bertukar pandang, tidak tau apa maksud perkataan Olive.

__ADS_1


"Iya, pak. Debay itu singkatan dari dedek bayi"


"Oh....dedek bayi" ucap mereka serempak. Melihat kedua orang tua itu membulatkan mulut membuat Olive tertawa bahagia. Mereka pun ikut tertawa bersama.


__ADS_2