HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Damar masuk ke dalam rumah dengan kondisi badan basah kuyup.


Astaga, apa bedanya aku dengan mereka, yang telah berselingkuh di belakang ku.


Bayangan itu terus membekas di ingatannya, ketika kedua bibir berpadu menjadi satu.


"Aden...." Ucap Mbok Inah seraya menghampiri sang majikan.


Olive masih memaku dengan ponsel di tangan, matanya tak henti melihat layar ponsel, di mana ia melihat sebuah video dari sosial media. Video itu ia dapatkan dari salah satu temannya. Dengan air mata tertahan di pelupuk mata, Olive melihat sosok suaminya. Hatinya sangat terluka, prasangka buruk mulai menyelimuri hati. Selama ini beluk pernah sekali puk Olive melihat sang suami dekat dengan seorang wanita sampai seperti itu. Tatapan mata Olive nasuk dalam celah mata Damar yang nampak kosong.


"Kenapa harus pulang segala, mas? bukankah enak main hujan sambil berciuman" Cetus Olive sambil menggenggam erat ponsel di tangan kirinya.


Seketika Damar tersentak, bagaimana Olive bisa tau tentang kejadian itu.


"Apa maksud kamu? " Berjalan mendekati sang istri.


"Kamu lihat saja ponsel kamu..." Tak kuasa menahan air mata, akhirnya Olive pun berlari menuju kamar. Di karenakan ponselnya mati terkena air hujan, jadi ia melihat Mbok Inah.


"Mbok, pinjam hpnya"


"Baik, Den"


"Astaga, jadi ada yang merekam kejadian itu" Segera Damar memeberikan ponsel mbok Inah kemudian berlari menaiki anak tangga.


Mbok Inah melihat layar ponselnya "Astaga..." Mulut Mbok Inah mengangga, tidak percaya jika majikannya melakukan kissing di bawah guyuran hujan. Meski hujan turun dengan lebat, tapi kedua manusia di bawah payung teduh terlihat jelas sebab sentuhan tangan profesional.


"Drama apa lagi yang terjadi di rumah tangga Den Damar ini. Kenapa cobaan tidak henti menimpa keduanya." Mbok Inah menggelangkan kepala, tidak mengerti berapa banyak cobaan menghantam rumah tangga mereka. Sejak hadirnya kembali Gilang dalam kehidupan mereka, ada saja hal buruk menimpa keduanya. Sebelumnya rumah tangga Damar dan Olive baik baik saja tidak ada sedikit pun isu miring. Namun, kini masalah terus saja mengalir seperti arus ombak di laut lepas.

__ADS_1


"Apa lebih baik telpon nyonya sama tuan? Ah, tapi kalau sampai mereka tau pasti semakin runyam jadinya." Mbok Inah terlihat mondar mandir sembari melihat kamar Damar. Sosok Damar terlihat berdiri di depan pintu sambil memanggil sang istri. Mbok Inah sensiri juga tau jika dulunya hubungan mereka sempat di tolak oleh keluarga Damar, karena beberapa hal. Jadi, Mbol Inah tidak mau ambil resiko. Ia pun tak ingin memperkeruh keadaan.


"Biarkan mereka selesaikan semuanya sendiri. Toh, dalam rumah tangga pasti ada naik turunya sebuah rasa. Kalau mereka sudah kesulitan dengan malasah mereka, baru kedua orang tua harus di beri tau" Setelah memikirkan hal itu, Mbok Inah pun meninggalkan tempat tersebut.


"Sayang, dengar dulu penjelasan ku. Buka pintunya kita bicara baik baik" Menggedor pintu beberapa kali, namun tetap saja tidak ada respon dari Olive.


"Buka atau aku dobrak pintunya?" Dalam hitungan menit masih tidak ada respon akhirnya Damar mendobrak pintu kamar. Berberapa kali memukulkan badan pada pintu kayu tersebut, hingga badannya terasa sakit.


"Aw...." merasa sakit pada lengan kanannya, Damar beralih menggunakan lengan kiri. Memundurkan langkah lalu kembali menghantamkan badan.


Brakkk...


Akhirnya setalh berjuang keras pintu pun terbuka.


"Saya bisa jelasin semua" Segera Damar menghampiri Olive yang tengah duduk di atas ranjang sembari memangku bantal. Melihat ada serpihan kaca di lantai, sebeb Olive membanting foto pernikahan mereka yang terpasang si dinding kamar.


Damar menarik nafas dalam, kemudian berjalan mendekati Olive.


"Kamu bilang itu kecelakaan, mas?" Mengerutkan kedua alis dengan tatapan tidak percaya. Mana ada ciuman dalam unsur kecelakaan.


Damar mencium kedua tangan Olive "Sungguh itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan."


"Aku capek, mas. Aku mau istirahat" Olive merebahkan diri sembari membelakangi Damar.


"Olive..." Menyentuh lengan Olive namun tangan Olive melepasnya.


"Sudah malam aku mau tidur. Jangan ganggu..." Ucap Olive sambil menutup wajahnya menggunkan selimut.

__ADS_1


Damar melihat arah pintu lalu ia menutup pintu. Olive kira suaminya telah pergi tapi Danar hanya menutup pintu.


"Kamu tidak tau kejadian itu dan kamu menghakimi aku atas kesalahan yang tidak aku inginkan. Harusnya kamu mendengarkan aku dulu sebelum kamu menilai tentang ku, dan sekarang kamu ingin membalas sakit itu, mas." Lirihnya dalam peluka malam.


Langkah kaki Damar terhenti melihat isak tangis dan ucapan sang istri. Ia berdiri di samping ranjang menatap punggung sang istri.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Haruskah aku menutup mata saat kejadian itu aku lihat dengan jelas, atau aku harus menerima bahwa memang semuanya nyata*.


"Sayang, maafkan aku" Damar pun naik ranjang memeluk tubuh sang istri.


Sontak Olive terkejut. Ia mengira bahwa sang suami telah pergi dari kamar.


"Lepas...." Berusaha melepas tangan Damar.


"Tidak. Saya tidak akan melepaskan kamu sampai kamu percaya sama saya" Membalikkan badan Olive sampai mereka saling berhadapan.


"Apa sih, mas. Lepas. Ganti baju dulu badan kamu basah main naik ranjang sembarangan" Maki Olive.


"Biar saja, yang penting saat ini kamu harus percaya dulu sama saya."


"Hey, dengar dulu.(Menekan kedua pipi Olive, pandangan mata bertemu satu dengan yang lainnya) wanita itu adalah Fanya, dia adalah wanita yang dulunya hendak menikah dengan ku, tapi..." Belum sempat Damar mejelaskannya Olive sudah meneteskan air mata.


"Jadi kamu pernah gagal menikah tapi kamu tidak cerita tentang masa lalu kamu ini, mas? masa bodoh dengan masa lalu kamu itu tapi dia kembali datang dalam hidup kamu dan...."


Cup...

__ADS_1


Damar mencium bibir Olive dengan ganas agar terhindar dari perdebatan besar.


"Emmmm...." Suara Olive terpekik kala terhadang bibir Damar. Beberapa kali Olive memukul tubuh sang suami.


__ADS_2