
Pertengkaran hebat keduanya membuat Olive memutuskan untuk menepi sejenak dari semua huru hara ini "Sepertinya satu satunya jalan adalah pergi sejenak" Dia memilih meninggalkan semua hidupnya demi kedamainan yang ia inginkan. Ya, Olive memilih pergi dari kota itu tanpa sepengetahuan siapa pun, tanpa membawa apa pun dan dengan siapa pun. Saat ini dia menyewa sebuah penginapan di pinggir kota. Penginapan sederhana tapi membuatnya tenang sementara waktu. Di sana Olive mematikan ponselnya agar tidak ada satu pun orang yang bisa menghubunginya, termasuk Damar dan Gilang.
"Ini kunci kamarnya nona, kalau anda butuh bantuan panggil saja saya di rumah samping itu" sebuah kunci di serahkan pemiliknya.
"Iya, bu terima kasih" Di raihla kunci tersebut lalu ia masuk ke dalamnya. Kamar yang cukup luas. Tidak mewah seperti rumahnya atau penginapan orang orang kaya, penginapan Olive sama dengan sebuah kamar kos kecil dengan dapur umum di sebelah kamar dan kamar mandi terpisah dari kamar alias kamar mandi bersama. Setiap bulannya dia harus membayar 500 ribu rupiah. Untung saja Olive membawa beberapa uang dan kartu atm miliknya, di setiap bulannya dia menerima hampir 15 juta dari suaminya dan ada kartu atm dari Gilang yang saat itu sengaja di berikan Gilang untuknya. Waktu itu Olive menolaknya tapi lupa mengembalikan kartu itu sebab saat memberikan kartu atm itu dengan cara menyelipkan pada sebuah kue yang ia berikan untuk Olive. Gilang juga bilang bahwa uang di dalamnya untuk biaya hidup anaknya. Tapi Olive punya harga diri jadi dia tidak menggunkan uang di dalam atm itu sedikit pun, bahkan dia tidak ingin tau berapa nilai rupiah di dalamnya. Dia lebih memilih menggunakan uang pemberian dari suaminya yang ia simpan di atm. kalau di hitung jumlah uang di atam cukup untuk menginap di sebuah hotel mewah hingga berbulan bulan lamanya. Namun, Olive tidak melakukan itu karena akan lebih mudah bagi Damar dan Gilang mencari jejaknya. Olive sendiri juga sudah merubah penampilannya dengan menggunakan rambut palsu dan mamakai masker dan kaca mata hitam.
__ADS_1
"Ini jalan terbaik untuk semuanya..." ia duduj di tepi ranjang melihat sekeliling ruangan yang nampak muram, di tambah pencahayaan minim dan warna cet mulai memudar. Matanya terus berkrliling melihat sekitar ruangan sampai dia di kejutkan dengan pemandangan aneh di jendela. Di luar jendelanya ada banyak pakaian menggelantung di jemuran. Sepertinya itu milik si pemilik kos.
"Jadi ingat waktu sulit ku dulu..." Merebahkan diri di atas ranjang hingga perlahan ia terlelap.
"Aden kok pulang sendiri, kemana Non Olive?" Tanya Mbok Inah saat Damar turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Belum, Den. Sejak tadi Mbok coba telepon tapi tidak bisa. Mbok kira Non Olive sedang bersama Den Damar" Ucapnya lagi.
Damar segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya "Dia sudah pulang duluan sejak tadi lho Mbok. Kalau begitu biar saya coba telepon dulu" Berkali kali menelepon sang istri tapi masih belum ada respon.
"Bagaimana Den? ada kabar dari non Olive"
__ADS_1
Damar menggeleng kepala "Mungkin dia di temoat teman temannya Mbok. Biar nanti saya telepon teman temannya satu persatu. Saya mau bersih bersih dulu" Ucap Damar lalu meninggalkan Mbok Inah.
"Ya Tuhan kenapa Den Damar berubah menjadi sedibgib es begini. Biasanya dia selalu khawatir kalau seditik saja istrinya keluar tanpa kabar, tapi kenapa jadai seperti ini" Mbok Inah merasa heran atas perubahan besar dalam diri Damar. Sudah sejak lama dia tidak lagi memperlihatkan kemesraan dan kemarmonisan yang dulu mereka perlihatkan, sekarang banyak diam.