HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 166


__ADS_3

 


Beberapa hari setelah itu, Criztine berangsur kembali semula. Ia mulai menjalankan rutinitas sebagai seorang istri.


 


Pastinya ia masih merasakan rasa sedih, akan tetapi ia kembali bangkit saat dirinya disadarkan oleh Leo.


Pada saat itu dirinya masih tidak bisa menerima kepergian Ayahnya, namun saat Criztine merasa sakit pada perutnya dengan sigap Leo membawanya ke rumah sakit terdekat.


Di sana Criztine hampir kehilangan anaknya, namun atas Kuasa Tuhan ia di perkenankan untuk kembali menjaga janin dalam kandungannya itu.


Criztine menatap haru saat melihat hasil USG, ia nampak menyesali semua perbuatannya.


Mungkin karena ia terlalu stres atas kepergian Ayahnya, dan juga amarah yang di pendam membuatnya hampir kehilangan buah hatinya.


Tapi semua badai sudah berlalu, kini Criztine perlahan menerima kenyataan bahwa kehidupan seseorang sudah di takdirkan oleh Sang Maha Hidup.


" Selamat pagi sayang." ucap Revaldi dengan memeluk Criztine dari belakang.


" Pagi...kamu tidak berangkat ke kantor mas?." ucap Criztine.


Ia melihat suami tercintanya masih menggunakan baju tidur kimono dan sepertinya Revaldi belum membersihkan diri.


" Aku tidak masuk kantor hari ini, karena Jimmy sudah melakukan perubahan besar pada perusahaan sehingga kini dia mulai bisa menangani masalah di kantor." Jelas Revaldi sembari beralih duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


" Hey, mandi dulu." Criztine menepis tangan Revaldi saat Ia hendak mengambil tempe goreng di meja.


" Sayang, aku lapar." wajah memelas Revaldi membuat Criztine kesal.


" Mandi dulu, atau aku dan anak kita tidak mau makan bersama dengan kamu." Karena kesal Criztine pun pergi meninggalkan Revaldi.


" Cintaku janganlah marah. Oke, oke, aku mandi lalu kita makan bersama." ucap Revaldi.


"Emuah....." Revaldi mengecup pipi Criztine lalu berlari kecil menuju kamar.


 


*Astaga, dia membuatku hampir meledak.


 


 


Criztine tersenyum dengan mengusap perlahan perutnya.


 


Ia kembali menyiapkan makanan kesukaan suaminya lalu tidak lupa segelas susu ia siapkan.


" Mas, nanti bawakan aku ponsel di kamar ya?." Ucap Criztine lantang.

__ADS_1


" Iya." Jawab Revaldi.


Tak berapa lama Revaldi datang dengan membawa ponsel Criztine.


" Untuk apa kamu menyuruhku membawa ponsel ini?."


" Mas, aku ingin membebaskan Tante Maria dan juga Gea."


Ucapan Criztine sontak membuat Revaldi murka.


" Apa kamu tidak ingat bagaimana mereka menghabisi nyawa Ayah? lalu kamu dengan mudah membebaskan mereka? apa kamu yakin?." Revaldi menatap kesal istrinya tersebut.


" Aku tidak ingin menyimpan dendam dalam hati mas, aku ingin hidup damai seperti sedia kala." Criztine menunduk.


" Tapi hukum harus di tegakkan sayang, biarlah pihak berwajib menghukum mereka atas perbuatan yang mereka lakukan." Jelas Revaldi.


" Sudah dua minggu lamanya mereka mendekam di jeruji besi itu mas, sekarang biarkan mereka terhukum oleh alam. Aku tidak tega melihat Tante Maria yang sudah tua mendekam dalam sel. Coba kamu bayangkan betapa tersiksanya dia saat ini. Bahkan....."


"Sttttttt....Sudahlah, kita bicara itu nanti saja. Aku lapar." karena kesal atas keputusan Criztine, Revaldi memilih membungkam mulut istrinya menggunakan kelembutan telapak tangannya.


Mereka pun memulai sarapan pagi bersama tanpa ada suara sedikit pun.


Hening suasana pagi itu membuat Criztine merasa sangat bersalah.


" Sayang, kita jalan-jalan yuk." Ajak Revaldi.

__ADS_1


" Kemana mas?."


" Sebuah tempat dimana kita bisa memandang indahnya dunia. Pastilah kamu akan menyukai tempat itu." Revaldi tersenyum indah setelah beberapa menit terdiam bagaikan patung.


__ADS_2