HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Setelah bertahun tahun lamanya Gilang mulai putus asa, ia tak lagi mencari keberadaan Olive. Kehidupannya menjadi barantakan sampai tidak ada semangat dalam dirinya. Meski begitu, Gilang tetap menjalankan kehidupannya. Kedua orang tuannya menjodohkan dia dengan Alisya dan ia pun menyetujuinya, ia sudah berjanji jika dalam waktu dua tahun tidak menemukan Olive maka ia mau menikah dengan siapa pun yang mereka pilihkan. Gilang tidak menyangkal kebaikan dalam diri Alisya namun, apalah daya jika hatinya masih tertutup. Sejak kepergian Olive ia mulai mencintai Olive, sedikit demi sedikit cinta itu semakin menguasai dirinya.


"Assalammualaikum...."


Saat semua orang tengah duduk di ruang makan tiba tiba saja Alisya datang membawa sesuatu di tangannya.


"Waalaikumsallam....Nak Alisya, mari duduk" sambut Gea seraya menghampirinya


"Terima kasih, tante"Ia pun duduk di salah satu kursi yang masih kosong, tepatnya di sebelah Amora dan berhadapan langsung dengan Gilang. Meski begitu Gilang masih acuh dan dingin, ia masih terus makan tanpa melirik Alisya sedikit pun.


"Kamu bawa apa ini..."


Alisya mengeluarkan sesuatu "Tadi Umi masak banyak jadi Alisya di suruh Umi mengantar ke sini" Lembut Alisya.


"Wah....baunya enak sekali. Pasti kakak sendiri kan yang masak, spesial buat abang calon suami, kan"Goda Amora dengan sedikit menyendok bahu Alisya.


Alisya pun tersipu malu meski wajahnya tertutup cadar namun ia tak bisa menutupi rasa groginya tersebut "Kamu ini bisa saja..."lirihnya


"Beruntung sekali om punya menantu seperti kamu, nak...." Lanjut Dimas memberi pujian.


Uhuk uhuk..

__ADS_1


Gilang tersedak


"Minum dulu, mas..." Segera Alisya memberikan minum padanya.


"Terima kasih..." Gilang pun meminumnya.


Gea dan Dimas saling melempar pandang, mereka senang melihat mereka berdua.


"So swet banger deh....." Ucap Amora.


Gilang pun mulai tidak nyaman dengan tatapan keluarganya saat itu sampai ia menyudahi makanan malamnya.


"Gilang, kamu harus coba dulu masakan dari calon istri mu ini..."Sang ayah menghentikan Gilang seraya menyentuh bahu anaknya tersebut. Ia tau bahwa Gilang mulai tidak nyaman dengan kehadiran Alisya tapi, sesuai perjanjian Gilang harus menuruti perjodohan itu apa pun yang terjadi.


"Maaf Pa aku sudah kenyang..."


Gea ikut menghentikan putranya"Cicipi sedikit saja untuk menghargai Alisya..." Lirih Gea.


"Padahal ini makanan kesukan kakak lho, Ayam Pedas manis." Sambung Amora.


Alisya merasa tidak enak hati sampai ia menunduk kepala "Jika mas Gilang sudah kenyang jangan di paksa, Om. Makan terlalu berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan. Mungki Mas Gilang lelah dengan pekerjaannya..."

__ADS_1


"Dia saja bisa mengerti kenapa kalian memaksa....." Ketus Gilang seraya berjalan menjauh dari ruang makan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Gea menggeleng kepala "Maafkan Gilang ya, nak. Kalian hanya butuh waktu berdua supaya kalian bisa lebih mengenal satu sama lain...." di sentuhlah tangan lembut Aliaya. Anggukan kepala pun Alisya berikan "Jika kami berjodoh pasti Allah memberikan jalan dan jika kami tidak berjodoh maka kami bisa menjadi saudara" Turur Alisya lembut.


Mendengar ketabahan Alisya membuat Dimas geram selaku orang tua Gilang sebab, wanita sebaik Alisya di abaikan begitu saja "Ya sudah kita lanjut makan saja, tidak usah perdulikan anak itu" Dimas pun meminta istrinya menuangkan makanan yang telah Alisya bawa.


"Biar Amora bantu habiskan..."Takut melukai hati calon kakak iparnya Amora pun memberi sedikit tawa dalam makan malam mereka kali ini.


Alisya tersenyum lalu mengambilkan satu potong ayam pedas manis yang ia masak khusus untuk keluarga Gilang. Kebetulan Alisya juga suka memasak. Keluarganya berasal dari kalangan berpunya tapi ia di ajari bagaimana layaknya seorang wanita yang nantinya bergelut di dapur setinggi apa pun pekerjaan seorang wanita pasti akan terjun langsung ke dapur. Jadi, keluarga Alisya sudah menanamkan ajaran baik sebelum anak mereka di persunting orang. Tidak hanya cantik, Alisya juga gadis yang patuh terhadap kedua orang tua. Di usia 7 tahun ia susah belajar di pondok pesantren, jauh dari kemewahan dan juga kedua orang tua. Namun, Aliaya bahagia sebab ia bisa mendalami pendidikan agama.


Ketika mereka masih makan bersama, Gilang turun "Mam...aku ada kerjaan di luar pergi dulu, ya"


Gea bangkit dengan dahi mengernyit "Kerjaan apa malam malam begini? kalau kamu mau keluar tunggu sampai Alisya selesai makan lalu antar dia pulang"


"Benar apa kata mama kamu. Ini kqn sidah malam tidak baik jika Alisya pulang sendirian."Sambung Dimas.


Gilang melihat Alisya yang masih duduk diam


"Biar di antar Amora sama pak supir, aku buru buru" Gilang pun keluar dari rumah.


Dimas bangkit menyusul Gilang "Gilang..."

__ADS_1


__ADS_2