HASRAT

HASRAT
Milik siapa


__ADS_3

Masih dalam diam sosok Gilang terus menatap tak tentu arah. Saat ini ia tidak peruli barang apa saja yang di curi oleh pencuri itu sebab hatinya tengah gundah gulana.


"Bagaimana ini bisa terjadi" Kedua kepalan tangan menghantam tepi ranjang. Binar matanya memancarkan amarah "Arghhhhh..." ia cengkeram rambutnya sampai acak acakan.


"Ma jangan bawa saya jauh dari suami saya, sungguh itu tidak di benarkan. Sesungguhnya seorang istri harus selalu berada di sisi suaminya dalam keadaan apa pun. Ini salah saya ma bukan kesalahan Mas Gilang" Ketika mereka baru saja sampai di teras rumah tiba tiba ucapan Alisya membuat kedua orang tua Gilang menghentikan langkah. Siapa sangka wanita yang sering di sakiti oleh putranya mampu bertahan sampai sesakit apa pun itu. Antara sedih dan kagum keduanya saling bertukar pandang kemudian Gea mengalihkan pandang kepada Alisya "Untuk apa kamu memikirkan hak dan kewajiban kamu sebagai seorang istri kalau dia saja tidak memperlakukan kamu seperti layaknya seorang istri" Tutur Gea sembari menyentuh dagu sang menantu, membuat Alisya menatap mata ibu mertuanya. Mata indah Alisya berkaca kaca membuat Gea langsung memeluk menantunya.

__ADS_1


"Maafkan mama telah membuatmu menderita seperti sekarang ini, seharusnya mama tidak pernah menjadohkan kalian. Mungkin jika kalian tidak di jodohkan maka kehiudpan kamu sekarang ini tidak sepahit kehidupmu bersama Gilang" Air mata Gea terurai di pelukan menantunya, begitu pula dengan Alisya. Dimas hanya bisa melihat keduanya "Sudahlah, jangan sia siakan air mata kalian untuk laki laki tidak punya hati itu. Menurut saran saya untuk sementara waktu Alisya tinggal dengan kami dulu saja, setelah satu atau dua hari baru kita pikirkan lagi kedepannya" Tegas Dimas seraya meninggalkan keduanya. Mendengar kata kata Dimas membuat kedua wanita saling berpelukan, saling mrlepas pelukan.


"Tapi Alisya tidak mau meninggalkan mas Gilang,ma. Tolong jangan paksa Alisya" pinta Alisya.


Gea mencoba memberi pengertian. Sesama kaun hawa dia tau rasanya tidak di anggap dan selalu di sisihkan.

__ADS_1


"Kamu memang benar, fitrah seorang istri itu memang bersama suaminya. Tapi, ada kalanya istri juga harus memberi waktu supaya suami berfikir apakah yang dia lakukan sudah memenuhi standar suami yang di gariskan Tuhan atau belum. Saran mama kita pergi dulu untuk bebarap waktu, tunggu sampai Gilang menyadari kesalahannya setelah itu terserah kalau kamu mau kembali lagi" mendengar ucapan Gea membuat Alisya tertunduk dengan sesekali tangannya menyentuh ujung netra indahnya. Di balik cadar yang menutupi aurat terdapat hati yang rapuh. Seorang wanita tengaj berjuang sendirian melawan rasa sakitnya demi mempertahankan ikatan pernikahan sakral keduanya.


Setelah terdiam berberapa waktu, Alisya pun menuruti kemauan mertuanya. Setelah mobil Dimas keluar dari pekarangan rumah, Gilang pun berjalan menuju jendela kamarnya yang menghadap samping rumah di mana mobil Dimas tengah melaju meninggalkan rumahnya. Tatapannya terasa kosong dan tangan mengepal erat.


"Permainan seperti apa lagi yang harus saya mainkan? bukankah sudah banyak derita dalam kisah ini, sekarang di tambah lagi kisah yang baru. Sebenarnya kisah seperti apa yang di inginkan hidup ini..." Tepi jendela menjadi sasran kemarahan Gilang saat ini. Kehidupannya menjadi kacau balau setelah bergulat dengan kisah cinta tanpa ujung. Mencintai seseorang memanglah bebas, namun ada batasan dalam mencintai.

__ADS_1


__ADS_2