HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 192


__ADS_3

" Sekarang kamu baru merasakan apa itu sakit?." Maya sedikit mendorong bahu Dimas. " Rasa sedih dan air mata kamu tidak sebanding dengan luka yang telah kamu gores di hati adik ku!." Kecaman Maya seolah meruntuhkan dunia Dimas saat ini.


Sehingga Dimas tidak mampu membela diri atau sekedar mengelak...


Tidak ada setiap detik baginya untuk tidak tersiksa atas kepergian Alexa dan buah hati mereka.


" Sekarang semua penyesalan kamu sudah terlambat. Carilah kebahagiaan kamu! Setidaknya kamu bisa menebus kesakitan di hati Alexa dengan kembali bangkit dan mencari kebahagiaan yang tengah menunggu mu di luar sana." Ucap Maya.


Sebenarnya Maya tidak tega melihat Dimas terpuruk seperti saat ini.


Namun Maya dan keluarganya sangat kecewa dan juga sangat merasa kehilangan Alexa.


" Sudahlah...sekarang kamu tidak perlu menyesali semuanya, karena percuma saja. Abu tidak akan kembali menjadi kayu." ucap Maya.


Melihat Dimas lemah tak berdaya, membuat Maya enggan untuk berlama-lama disana. Setelah beberapa menit Maya berdiri melihat makam adiknya, Dia pun segera pergi.


Seulas senyum mengiringi langkahnya, setalah puas menyiksa diri Dimas....


Dimas kembali menangis, dia tidak kuasa menahan luapan kesedihan dalam diri.


Kehormatan seorang lelaki rela di pertaruhkan demi seorang wanita yang sangat dia cintai.


Air mata bagi seorang lelaki adalah kelemahan.


Tapi lelaki juga adalah manusia, dimana mereka( Lelaki ) juga punya hati.


Mencoba kuat lalu bangkit kembali....

__ADS_1


" Sayang, aku pergi dulu." Di usap lah ujung batu nisan itu lalu Dimas segera pergi.


Sepanjang jalan hatinya sangat kacau.


" Bagaimana caranya aku menemukan wanita lain yang bisa seperti kamu Lexa." Lirih Dimas.


Sepanjang angan-angannya tidak pernah sedikit pun untuk tidak memikirkan Alexa.


Namun sebenarnya Dimas sering bermain-main dengan banyak wanita malam.


Akan tetapi tidak ada satu pun wanita yang mampu memikat hatinya...


Kerap kali dia bermain dengan mereka untuk sekedar melepas Hasrat dalam diri.


Mungkin melalui mereka, Dimas bisa melupakan masalahnya untuk sementara waktu.


Sontak saja Dimas terkejut lalu mencari tempat untuk menepi....


" Iya, Ma. Ada apa?." Sepertinya Dimas mendengar ada kegaduhan di rumahnya.


Suara Isak tangis dari ibundanya membuat Dimas cemas.


" Sial! Dia kembali menyakiti Mama..." segera mobil melaju cepat.


Sesampainya di rumah, Dimas di kejutkan dengan pertengkaran antara Mama dan Papanya.


" Cukup....!." Dimas berlari lalu memeluk Mamanya. " Mama, baik-baik saja kan?."

__ADS_1


" Anak dan ibu sama saja. Sama-sama tidak bisa mengerti aku..." Kecam Didy(Papa) sembari melempar vas bunga ke arah Fita(Istri).


" Cukup! Kenapa Papa selalu melukai kami? apa selama ini tidak cukup Papa menyiksa kami? dan kenapa Papa membawa wanita hina ini masuk ke dalam rumah ku?." Amarah Dimas tidak terbendung.


Luapan kekecewaan membelenggu hidupnya, membeku-kan rasa belas asih terhadap Ayah kandungnya.


Plak....


Satu tamparan keras mengenai wajah Dimas.


" Kamu tidak sadar dengan siapa kamu bicara? aku adalah Ayah kamu! tidak akan menjadi kamu yang sekarang ini, jika tidak ada Aku."


Tamparan keras di wajahnya tidak sebanding dengan kerasnya benturan mental yang di berikan Ayahnya.


" Tolong jangan berdebat.... Kalian ini adalah anak dan ayah. Tidak baik jika kalian bertengkar seperti ini." Fita berusaha melerai meski sejujurnya dia juga tersakiti.


" Diam kamu." Didy hampir melayangkan satu tamparan.


Namun dengan sigap Dimas segera menangkis tangan Didy.


" Jangan sekali-kali anda mengangkat tangan kepada Mama saya. Saya tidak akan membiarkan tangan kotor anda menyentuh Mama saya."


" Lancang sekali kamu bicara seperti itu kepada Ayah kamu sendiri..." sambung Wanita yang berdiri di samping Didy.


" Siapa kamu? Tau apa kamu tentang hidup kami?." Dimas menatap kejam wanita tersebut dengan satu jari menunjuk tepat di wajahnya.


" Dimas, tenanglah nak. Mama baik-baik saja." Fita memeluk erat putranya.

__ADS_1


" Tapi wanita ini harus di beri pelajaran! Aku tidak suka mereka datang dan menginjakkan kaki di rumah ku. Sekarang aku minta kalian pergi dari sini, pergi."


__ADS_2