
Dengan tangan menukuk di atas meja kepala bersandar di atasnya "Apa sih kurangnya Alisya? santun, sholehah, anggun, mandiri, anak orang kaya pula. Andai saja...." Kenzo segera menggelengkan kepala "Astaga...kenapa jadi berpikiran kaya gini sih" beberapa kali ia memukul pelan kedua pipinya.
"Sudahlah....mending aku mulai kerja saja"Membuka laptop lalu mencari file penting di dalamnya.
Di sisi lain ada Gilang tengah mencari keberadaan Olive dan tidak ada satu pun petunjuk, ia pun memutuskan untuk singgah sebentar di cafe WX sekedar melepas penat. Namun, siapa sangaka ia melihat sosok gadis kecil tengah duduk bersama tiga gadis lainnya. Gilang mencoba mengingat gadis itu "Bukankah dia itu gadis...." Gilang beranjak menuju tempat duduk gadis tersebut.
"Permisi....boleh saya bicara berdua dengan kamu?"Ucap Gilang lembut
Ke empat gadis cantik itu menatap Gilang...
"Kya....tampan sekali" Ucap salah satu di antara mereka
Dua wanita lainnya juga terpesona atas ketampanan Gilang sampai mata mereka tak lepas darinya "Kakak tampan, ada yang bisa kami bantu?" Seseorang menawarkan diri
Gilang tersenyum lalu menggeleng "Saya ada perlu dengan teman kalian ini...."
"Mau bicara apa ya, kak. Sepertinya saya tidak kenal kakak..." heran Chika.
__ADS_1
"Kita bicara di meja saya saja, ya..."
Mereka pun pindah ke tempat duduk Gilang
"Kakak siapa, ya?"
Gilang tersenyum lalu"Coba kamu ingat, kita pernah bertemu di Rumah Sakit"
Sekejap Chika mengingatnya kembali "Oh, iya. kakak ini yang waktu itu ketemu di depan Rumah sakit, kan"
"Bantuan?"
Gilang memasang wajah serius dengan mengatupkan kedua tangan di atas meja "Boleh saya minta alamat rumah Olive"
"Oh...kak Olive. Sudah seminggu ini kami mencari kebaradaan kak Olive tapi tisak ketemu." Chika menundukkan kepala, ia sedih telah kehilangan orang yang ia sayangi selama ini. Bahkan, Chika tidak bisa menghubungunya karena ponselnya sengaja Olive tinggalkan.
"Jangan bohong kamu..." Gilang menaikkan nada bicaranya sampai orang orang menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Kakak jangan marah dulu, saya bicara jujur. Kalau kakak tidak percaya mari ikut saya ke rumah kak Olive..." Chika pun bangkit lalu menuju mejanya mengambil tas dan berpamitan dengan teman temannya.
Mereka pun pergi bersama menuju kosan Olive.
"Nah... itu rumah kak Olive" tunjuk Chika pada sebuah rumah berbentuk persegi dengan sekatan kecil dan enam pintu kecil layaknya kos kosan.
"Di sini...?" Gilang meyakinkan dirinya sendiri "Ini jauh lebih sempit dari kandang ayam..." Jiwa orang kaya meronta saat melihat tempat yang di bilang rumah namun hanya berukuran sekitar 3 kali 6 meter tersebut. Bahkan, Gilang salah fokus dengan jemuran jemuran yang terlihat tidak rapi di depan kamar kamar kecil tersebut. "Apalah orang orang ni...jemur pakaian dalam di tempat seperti ini" Gilang menggelengkan kepala melihat pemandangan langka seperti ini, ia terlahir kaya dan tidak tau hal semacam ini.
Chika tertawa lirih sebab, baru pertama kali ia mendengar ada orang mengeluh hanya karena jemuran "Kakak mau cari kak Olive apa mau mengkritik para penghuni kos?" Ucap Chika santai.
Gilang pun kembali ingat atas tujuan awalnya "Kamu panggil dia..."
"Mau di panggil sampe tenggorokan kering pun, kak Olive tidak akan keluar..." Jelas Chika.
"Coba dulu..."
Chika menggelengkan kepala kemudian mendekati pintu dan mengetuk pintu tersebut berkali kali namun, tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1