
Keesokan hari Gilang terbangun. Di lihatnya sosok wanita cantik tertidur di sampingnya. Senyum di wajah Gilang melebar, setelah sekian lama berjuang mendekati Olive kini mereka telah menjalin hubungan cinta. Dalam hitungan beberapa hati Gilang sudah membuat hati luluh dengan perhatian dan cintanya. Awalnya Olive selalu menolak kala di ajak berhubungan badan, tapi sekarang Olive pasrah dan menikmatinya. Gilang menyibakkan rambut kekasihnya "Kamu adalah harta yang selama ini ku cari..." Di kecuplah kening Olive sampai membangunkan tidur si wanita itu.
"Maaf, saya telah membangunkan kamu" ucap Gilang.
Olive hanya terdiam dengan perlakuan Gilang padanya. Entah rasa apa yang ia miliki teehadapnya, sampai dia tak bisa di jelaskan dengan kata kata. Dari lubuk hati Olive, ia sangat tidak ingin berhubungan lagi dengan Gilang, namun paksaan demi paksaan yang ia terima membuatnya menyerah. Namun siapa sangka kediaman itu justru membuat Gilang menyangka bahwa dirinya sudah merimanya dengan baik.
"Kamu mau makan apa, biar saya buatkan" Ucap Gilang.
"Terserah mas saja"
Tak perlu waktu lama Gilang memakai pakaiannya lalu turun dari ranjang "Kalau begitu saya buatkan susu sama nasi goreng ya"
Olive pun mengangguk. Setelah itu dia membersihkan diri lalu berhias "Perasaan macam apa sebenarnya yang aku miliki padanya. Aku sungguh tidak tau" Sambil melihat dirinya di cermin.
Setelah selesai beedandan Olive pun turun. Perlahan ia menuruni anak tangga.
"Mas...." Ucap Olive mencari sosok Gilang. Kala kakinya sampai di ruang tamu, di lihatnya sosok Gilang duduk di temani seseorang dengan wajah tertutup koran. Di kiranya itu tamu atau rekar kerja mereka. "Mas, ada tau, siapa?" Dengan lemah gemulai Olive mendekati mereka. Olive duduk di samping Gilang.
"Kok kamu tidak bilang kalau ada tamu..." Olive menatap wajah Gilang yang kala itu terdiam seribu bahasa.
"Mas, kok diam"
Mendengar suara manja sang istri membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan diri, segera ia membuak koran di depan wajahnya "Saya adalah tamu kalian"
Seketika Olive bengkit dari duduknya. Di lihatnya wajah sang suami muncul di balik koran itu.
"Kenapa? kamu terkejut? tidak usah panik, santai saja" Damar meletakkan koran di atas meja sambil melipat kedua tangannya. "Seorang tamu harusnya di tawarin minum, dong. Sebagai tuan dan nyonya, seharusnya bersikap baik" Dengan santai Damar menampar kedua manusia itu.
"Mas, kamu ini bicara apa? aku sangat merindukan kamu.." Segera Olive mendekatinya lalu memeluk sang suami. Reaksi Damar biasa saja.
"Kapan mas datang?" Berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
Damar melepaskan tangan Olive dari lehernya "Jangan bersikap begitu, kasian Tuan gilang. Nanti dia cemburu..." Damar masih bermain sedikit dengan mereka.
__ADS_1
"Mas bilang apa, sih..." Sambil duduk Olive menarik lengan suaminya.
"Loh benar dong. Kan Tuan Gilang jauh dari istri, takut iri" Tutur Dmaar sembari menatap mata Gilang dengan penuh amarah.
Gilang hanya diam saja, karena dia sudah tau jika Damar mengetahui hubungan mereka berdua. Bahkan sebelum Olive turun Damar sudah membuat Gilang bungkam dengan foto di ponsel Damar.
"Benar kan Tuan Gilang Hendarman yang terhormat?" Semakin melihat wajah lelaki itu semakin besar pula emosinya. Damar pun melepas tangan Olive lalu bangkit "Kalian tidak usah sungkan di hadapan saya karena saya sudah melihatnya" Sambil membelakangi sang istri. Air matanya pecah tapi ia berusaha menyembunyikannya.
"Maksud kamu ini apa sih mas? kenapa main teka teki begini" Olive pun bangkit meminta kejelasan dari sang suami.
"Teka teki kata kamu..." Ucap Gilang lantang "Sekarang saya tanya kenapa kalian juga bermain teka teki di belakang saya. Kalian pikir saya ini buta, jadi kalian seenaknya bermain belakang" Amarahnya semakin memuncak.
"Maksudnya apa, mas. Kami tidak melakukan apa apa" Olive berusaha menutupi kebenaran.
"Oh...sekarang kamu masih mau mengelak. Kalau begitu jelaskan semua ini sama saya" Di perlihatkan foto mereka kala di dalam kamar.
"Kalian tidur satu ranjang, berpulukan, dan parahnya lagi tidak ada sehelai benana di badan kalian. Sungguh menjijikkan" Di lemparlah ponsel miliknya sebelum ia meluapkan amarah kepada sang istri.
Olive terdiam sesaat "Mas, saya minta maaf. Saya salah, mas. Saya mohon maafkan saya..." Olive bersimpuh meminta ampunan dari sang suami. Air matanya mengalir deras, namun Damar tidak perduli.
"Mas tongong jangan seperti ini. Tolong maafkan saya, saya mohon mas" Kembali Olive meraih kaki Damar lalu memohon ampun darinya.
Damar menangis merasakan kesakitan yang luar biasa. Kepercayaannya telah di nodai dengan perselingkuhan.
"Sampai kapan pun saya tidak akan bisa memaafkan kamu" Tanpa pikir panjang damar pergi.
"Mas, dengarkan dulu. Jangan tinggalkan saya mas...." Olive manangis meraung, menghentikan langkah sang suami. Namun, semua sia sia karena Damar terlalu banyak menelan pil pahit kehidupan.
"Mas, saya mohon jangan pergi" Olive mengejarnya sambil meraih lengan kanan Damar.
"Kalian lanjutkan saja bulan madunya. Saya tidak akan menggangu kalian lagi" Damar melepaskan tangan Olive.
"Pak, tolong bantu masukkan koper saya" Ucap Damar kepada seorang lelaki di dalam mobil. Sebelumnya Damar telah memesan taksi online dan sudah menunggunya di luar rumah.
__ADS_1
"Baik, pak."Segera koper di masukkan.
"Mas...." Sambil menangis Olive menyeret tangan Damar supaya tidak masuk ke dalam mobil itu.
"Lepas...." Sekali lagi Damar mendorong Olive sampai terjatuh.
"Jalan, pak" Titah Damar.
Olive bangkit lalu mengejak mobil itu "Mas, tolong berhenti (Sambil memukul kaca mobil) mas saya mohon berhenti"
Damar sudah tidak memperdulikan Olive lagi, ia meminta pak supir melaju dengan cepat.
"Tapi, pak..." Melihat wanita itu terus mengejar mobil membuat pak sipir tidak tega.
"Jangan membantah. Cepat jalan...."
"Baik, pak"
Mobil pun melaju dengan kecepatan penuh, sampai Olive tertinggal. Meski hatinya sakit Damar masih melihat sosok istrinya dari spion depan mobil. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Olive seperti itu, tapi saat ini luka hatinya lebih sakit.
Beberapa kali pak supir melihat wajah Damar penuh air mata. Dia beepikir masalah apa yang sedang menimpa si penumpang itu sampai harus hujan tangis seperti itu, bahkan di dalamnya ada drama kesedihan.
"Arrrrght....." Damar memukul pahanya sendiri.
Ketika perselingkuhan itu terungkap pasti semua pihak akan merasakan kesakitan. Sejatinya orang selingkuh itu tidak melampiaskan kesenangan, melainkan menanamkan kesakitan kepada pihak pihak tertentu. Sebagian kehidupan seseorang hancur karena perselingkuhan.
Di sisi lain ada Olive terduduk di tengah jalan, merapati kepergian sang suami. Isak tangis terus mengiringi hilangnya mobil Damar di ujung jalan. Dari kejauhan Gilang berjalan menghampiri Olive "Sudahlah, ayo kita masuk" Seraya membantu Olive berdiri.
"Lepas...." Olive mendorong tubuh Gilang lalu berlari lagi mengejar mobil yang membawa Damar.
"Olive, berhenti. Percuma kamu kejar dia, tidak ada gunanya " Lantang Gilang saat melihat Olive berlari sekuat tenaga.
Olive tidak peeduli, ia terus berlari sampai nafasnya tersengal. Tapi apalah daya mesin tidak bisa di bandibgkan dengan tenaga manusia. Setelah sekian lama beelarian, kakinya lemas sampai ia tak bisa berlari lagi.
__ADS_1
"Apa yang telah ku lalukan...." Olive memukul dirinya sendiri karena semua terjadi atas kesalahannya.