HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 231


__ADS_3

BIAR WAKTU MENENTUKAN JALANNYA.


Hari ini mengalami luka, kelak di hari nanti pasti temukan bahagia. Sungguh tidak mudah melupakan. Tapi lebih sakit bertahan namun menyakiti hati lain, lebih baik pergi untuk mempertahankan senyuman.


Luka hari ini memberi banyak pengalaman, pembelajaran, kesabaran, dan cara merelakan.


Waktunya menata hati untuk senyuman yang akan datang. Menggulingkan luka demi masa depan. Memperbaiki hati demi cinta yang lain.


Semua cerita kehidupan terbungkus dalam satu uraian panjang(Masa). Berselimut keindahan berbalut kepedihan.


Hidup tidak hanya bagaimana cara mendapatkan, tapi juga bagaimana cara menjaga senyum lainnya.


Kesalahan dalam berlabuh adalah titik terberat dalam hidup, berpaling tak mungkin, bertahan menyakiti.


Lalu harus bagaimana?


Biar waktu menentukan jalannya!


Mencintai Ayah seorang anak dari wanita lain, membuatnya menyelimuti diri dengan penderitaan. Meski diri merasa sakit dan hampir menyerah, tapi demi melihat senyum seorang anak tak berdosa mereka rela berpisah. Cinta mereka tidak salah, tapi waktunya tidak tepat.

__ADS_1


Dalam pelukan sang kekasih, Gea meluapkan luka di hatinya...


" Dimas, kenapa semua terjadi saat aku benar ingin bersama mu? aku ingin membenci mu, mendorong keluar dari otak ku. Tapi kenapa sulit sekali..." Lirihnya atas sayatan luka dalam mencinta.


Dalam kesakitan yang tengah di rasa, Dimas mampu merasakan betapa sakitnya Gea saat ini. Dengan sedikit mendongakkan kepala seraya berdoa hal terbaik menghampiri keduanya tanpa harus berpisah.


" Maaf, atas masa kelam ku ini. Tapi jangan beranjak pergi."


Wajah Gea terlihat sakit dengan lukisan buliran permata di pipi.


" Sebelum memikirkan bahagia untuk ku, terlebih dulu pikirkan putra mu."


Untuk beberapa lama mereka saling terdiam dalam satu pandangan.


Ke mana Gea melajukan kendaraan, di situlah Dimas berada. Masih dalam diam, terus menatap jalanan di depan tanpa merespon permohonan Dimas. Berulang kali Dimas meminta kembali bersamanya, tapi tak ada satu kata(iya) dari mulutnya.


Terdapat luka dalam diam, tersimpan rasa dalam tatapan.


Terdapat sebuah Fakta dari sebuah kata.

__ADS_1


Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah Dimas. Dengan sangat berhati-hati, Gea membuka pintu mobil lalu memberikan atas kaki padanya. " Pakailah ini supaya kaki mu tidak sakit."


" Aw...." Ketika hendak turun dari mobil, Dimas hampir terjatuh Namun Gea membantunya.


" Bantu aku masuk sampai Rumah..." Dengan meraih pundak Gea lalu merangkulnya meminta topangan untuk dirinya yang berpura sakit. Dia sengaja melakukan seperti itu supaya mendapat perhatian dari wanitanya.


" Ayah..." Dari dalam rumah keluarlah seorang anak lelaki. " Paman benar adalah Ayah ku." Di peluklah Dimas dengan erat Sampai Gea tidak kuasa menahan rasa sakit di hatinya.


" Sayang, biarkan Ayah masuk baru bicara nanti." Datanglah seorang wanita cantik berkulit putih bersih. Lily, seorang wanita yang telah melahirkan seorang putra untuk Dimas.


Saat sampai di depan pintu Lily terkejut dengan kehadiran Gea yang tidak lama di jumpai di Rumah Sakit.


" Kamu?" Dengan mendekat sembari menunjuk Gea. " Bukankah kamu wanita itu? untuk apa kamu kesini?"


" Saya hanya kebetulan melihat suami anda di jalan, jadi saya antar dia pulang." Gea menyerahkan Dimas pad Lily, sebelum dia pergi dari tempat tersebut.


Fita, Ibunda Dimas hanya terdiam di dalam rumah menyaksikan kenyataan pahit itu, membuatnya tidak mampu bertemu dengan Gea atau sekedar memberi pembelaan untuknya. Hasil Tes DNA membuktikan bahwa Dimas adalah sah Ayah kandung dari Gilang.


" Lepaskan aku..." Dimas yang tadinya berpura sakit seketika berlari memeluk Gea dari belakang. " Jangan katakan hal yang membuat ku sakit. Aku hanya akan menjadi suami kamu bukan orang lain." Dagunya menempel di pundak gadis manis kepunyaannya.

__ADS_1


" Ayah..." Lirih Gilang.


Sakit hati Gea kala mendengar suara anak itu. Bagaikan kata dalam jeritan, bagai pusaran angin di tengah lautan. Tenang tapi menyakitkan.


__ADS_2