HASRAT

HASRAT
Melepas dengan ikhlas


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Gilang dan Mbok Inah mendapati kenyataan pahit. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang Dokter beserta tim medis lainnya keluar dengan wajah menunsuk di susul dengan suara roda ranjang rumah sakit. Seseorang kelaur dari ruang operasi dengan seluruh tubuh tertutup kain putih.


"Nggak mungkin pasti itu orang lain" membuang pandang sembari melihat ke arah dalam siapa tau di dalam Olive masih di sana. Namun, tiba tiba saja seorang Dokter terhenti di depan Gilang "Kami sudah berusaha sekeras mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain...." Ucapan itu lantas membuat kedua kaki Gilang melemas. Tatapan mata yang membulat di genangi air, dan perlahan jatuh membasahi pipi.


"Mas Gilang siapa yang Dokter itu maksud? katakan sama saya kalau itu bukan Non Olive, iya kan itu pasti orang lain" Mbok Inah melihat beberapa orang tadi hampir tenggelam di sudut jalan. Atas kediaman Gilang saat ini membuat Mbok Inah langsung berlari ke arah mereka.


Gilang masih mematung di depan ruangan operasi. Perlahan kakinya melemas "Nggak mungkin ini pasti hanya mimpi" kedua lututnya menyentuh lantai dengan wajah terus menunduk melihat ke bawah, air matanya meluap deras tanpa henti.

__ADS_1


Sesampainya di kamar jenazah, Mbok Inah langsung melihat wajah Olive di balik kain putih yang menutipi wajah ayunya.


"Non Olive....." Mbok Inah menjerit dengan keras mendapati kenyataan yang tak terduga. "Non Olive jangan bercanda, Mbok Inah tau Non Olive pasti bercanda, kan? ayo bangun cepat, bangun" menghuyung tubuh terbujur kaku tersebut sambil mengusap ujung kepala "Mbok Inah mohon jangan bercanda seperti ini" Air matanya tak bisa di bendung lagi setelah beberapa saat mengelak dari kenyataan.


"Olive......" tiba tiba saja ada suara laki laki menjerit memanggil nama Olive. Dia adalah Damar.


"Nggak mungkin, kamu jangan main main kaya gini dong. Aku nggak suka ya kamu bercanda kaya gini, nggak lucu sayang. Ayo bangun, bangun, bangun" Damar tidak ingin percaya dengan apa yang ia lihat, meski terkadang apa yang di lihat adalah nyata. Beberapa kali Damar menghuyung badan Olive sambil menepuk salah satu pipi sang istri berharap mukjizat datang padanya. Namun, siapa yang bisa melawan takdir. Sekeras apa seorang melawannya pasti akan kalah dengan sang maha pencipta.

__ADS_1


Damar memeluk jasat sang istri sambil terus bicara tidak jelas. Banyak hal yang ia bicarakan sampai Mbok Inah merasakan betapa sakitnya hati Damar saat ini.


Di depan pintu ada sosok Gilang berdiri melihat ke dalam ruangan tersebut (Andai hari ini aku tidak menui kamu pasti saat ini bukan kamu yang terbaring di sana. Andai bisa akan ku tukar nyawa ini dengan kamu sayang.)


"Pak maaf pak Dokter ingin bertemu dengan anda" Ucap salah seorang suster.


Gilang menyeka air mata lalu berjalan ke ruang Dokter.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Damar mulai menerima kenyataan bahwa kematian tidak bisa di tolak atau pun di tunda. Hatinya sakit dan tentunya hancur, namun setelah beberapa kali Mbok Inah menenangkan hati Damar akhirnya dia mau mengerti.


"Kalau saja bisa akan ku tukar posisiku saat ini dengan mu sayang. Aku sangat mencintai kamu sampai kapan pun, sampai kita bertemu di surga nanti. Maaf selama ini aku banyak melakukan salah...." Air mata tak lagi berderai deras seperti tadi. Perlahan ia mulai mengikhlaskan.


__ADS_2