
Keduanya terdiam sejenaka. Empat mata salaing bertatapan. Raut wajah Olive pucat seketika. Gilang pun menelan ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka Damar akan menanyakan hal seperti itu padanya.
"Lho....kok pada diam"
Gilang menarik nafas dalam, sebelum ia kehilangan akal untuk menutupi kebohongannya "Tidak ada hal serius, hanya lupa sesuatu di rumah. Jadi, saya kembali ke rumah lalu tidak sengaja menemukannya"
Olive meletakkan tasnya di samping tempat duduk. Ia berusaha tenang supaya suaminya tidak curiga "Sudahlah, mas. Yang penting sekarang tas sudah kembali beserta isinya"
Dengan duduk bersandar dan tangan di lipat, Damar melihat ada gelagat aneh dari Gilang. Sebab, wajahnya yang terlihat santai berubah menjadi sedikit panik dan pandangan matanya selolah berlarian.
"Eh ada tamu..." Sapa mbok Inah sembari mendekat.
Gilang menjabat uluran tangan mbok Inah "Saya Gilang Hendarman"
Mbok Inah tersenyum "Saya Inah. Pem...."
"Ibu saya" Dengan cepat Damar mengenalkan sosok mbok Inah bagai seorang ibu kandung, ia tidak ingin mendengar mbok Inah merendahkan diri di depan para tamu Damar.
"Ah, Aden. jangan begitu, mbok tidak enak. Saya sebenarnya adalah pembantu di rumah ini, nak." Tutur Mbok Inah dengan rasa bangga sebab, ia tidak pernah malu dengan pekerjaannya saat ini.
Damar menyentuh pundak mbok Inah "Walau mbok bukan ibu kandungku, tetap saja mbok sudah saya anggap ibu kedua saya." Damar pun memeluknya.
"Aden, malu lah ada tamu"
__ADS_1
Damar pun tersenyum lalu melapas pelukannya "Pokoknya mbok adalah ibu saya, titik."
Mbok Inah membalas senyum lalu menyentuh pipi Damar "Mbok belum pernah menikah mana bisa punya anak sebesar ini..." balas mbok Inah dengan candaan tipis, seraya mencubit pipi Damar "Aden lanjut dulu, mbok mau lanjut bersih bersih"
Mana ada ikatan majikan dan pembantu sampai sedalam itu?
Tu Dokter sinting kali, ya
Gilang geleang kepala melihat keakraban keduanya.
"Anak angkat atau anak pungut juga tidak apa apa..." balas Damar dengan melebar senyum.
Dalam perdebatan mbok Inah dan Damar, terlihat Olive tersenyum. Tanpa sadar Gilang menatapnya "Kapan aku bisa dapatkan senyuman itu..."lirihnya.
"Emm...maksud saya sunyum manis mbok Inah ini lho" Canda Gilang.
"Lebih manis senyum wanita di dalam mobil Tuan , dia cantik dan sholehah."
Sintak saja Gilang terkejut "Oh iya, saya ada urusan. saya pamit pulang dulu..."
"Lho kok buru buru..." Damar pun hendak menghentikan langkah Gilang namun, Olive meraih tangannya. "Biar saja dia pulang, maklum pengantin baru"
Ucapan Olive terselip di telinga Gilang sampai ia pun menoleh "Tapi saya akan sering sering datang kemari, boleh?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Kami selalu membuka pintu rumah maki untuk anda"
Gilang melihat tangan Olive yang menempel di siku suaminya, membuatnya mengepalkan tangan meski bibirnya tersenyum.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi" ucap Gilang sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu.
Olive memang sengaja memperlihatkan kemesraan di depan Gilang supaya ia sadar bahwa Gilang tidak akan pernah memisahkan mereka berdua hanya dengan masa lalu mereka.
"Mas, saya ke kamar dulu, ya" Ijin Olive. Tentu saja Damar mengijinkan, sebelum ia duduk bersantai di ruang tamu dengan di temani ibu keduanya tersebut. Di waktu luang seperti saat ini biasanya Damar meminta mbok Inah memijitnya.
Satu persatu anak tangga di naiki, sampai ia terhenti sejenak mengingat tatapan mesum serta kelakuan Gilang padanya barusan.
"Kenapa dia datang di saat saya sudah menemukan hidup yang sempurna, kenapa qlam tidak menelannya saja..." Kutuk Olive penuh rasa kesal.
Sesampainya di kamar, ia meletakkan tas di meja rias, sedangkan ia sendiri menuju kamar mandi hendak mencuci wajah lalu istirahat. Setelah selesai ia pun merebahkan tubuhnya, seraya tangan memegang ponsel "Astaga...." Matanya terbelalak ketika melihat puluhan pesan whatsapp dari nomor baru. Dan itu adalah Gilang. "Maksudnya apa sih..." Olive bangkit lalu membaca satu persaru pesan tersebut.
(Saya tidak suka jika kamu menempel pada lelaki itu)
(Kamu hanya boleh mencintai saya seorang)
(Saya cemburu melihat kqmu dengan dia)
Dan masih banyak lagi. Olive pusing membaca semua pesan Gilang yabg penuh kegilaan, membuatnya emosi dan tidak nyaman. Akhirnya ia memutuskan memblokir nomor Gilang "Menyebalkan...." Olive pun mematikan ponselnya lalu kembali berbaring.
__ADS_1