
Kepergian Leo membuat ibundanya terluka dan sedih.
Segala luapan hati putranya membuat air matanya tumpah dan membanjiri pipi.
Di saat Maria mulai menyadari semuanya, kini dia di hadapkan dengan kenyataan bahwa putranya telah pergi meninggalkannya.
Maria duduk di tepi ranjang, teringat segala kekeliruan yang semala ini dia lakukan.
Maafkan Mami nak, selama ini Mami tidak bisa memahami anak kandung Mami sendiri.
Jika saja Mami tidak egois, maka kamu masih ada dalam dekapan Mami.
Kamu berhak marah nak, semua memang salah Mami...
Isak tangis Maria menggambarkan penyesalan mendalam.
Dia mencari album foto lama yang tertata rapi di lemari milik putranya tersebut, ia melihat lemari itu nampak kosong dan hanya meninggalakan beberapa koleksi jas dan beberapa jam tangan kesayangan Leo, yang masih tertata rapih di sana.
Semua hal yang di lihat itu semakin membuatnya kesakitan, namun semua rasa itu tidak sebanding dengan rasa sakit Leo selama ini.
" Dulu kita saling menyayangi, saling memiliki, saling bersama, tapi kenapa sekarang kita bagaikan orang asing? sepertinya memang aku tidak layak di sebut seorang ibu." lirih Maria dengan menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Namun saat dia mulai membalik album, dirinya di kejutkan dengan foto Criztine yang bertuliskan sebuah tinta hitam di bawah foto tersebut....
( Andai aku bisa menggapai mu lebih mudah dari bintang, maka aku akan dengan mudah mendapatkan kamu. Jika kamu adalah tanah maka setidaknya kamu bisa aku sentuh, tapi nyatanya tangan ini tak mampu menyentuh mu)
" Astaga, Tuhan, ternyata dalam diamnya Leo memendam kesedihan sedalam ini?." Lirih Maria dengan terus membaca banyaknya puisi di album tersebut. " Aku sadar jika semua ucapan Leo adalah benar, sekarang saatnya aku mencari putraku..." ia menutup album itu lalu pergi ke sebuah tempat.
" Kemana aku harus mencarinya...?." di sepanjang jalan Maria terus memikirkan keberadaan anaknya.
Semua sahabatnya telah di hubungi, namun tidak satu pun yang tau keberadaan anaknya.
Saat Maria melintas di depan sebuah taman, ia melihat ada Criztine duduk bersama seorang lelaki.
Maria segera memarkirkan kendaraan lalu berjalan menuju arah Cristine berada...
Sontak saja Criztine terkejut lalu menoleh ke belakang.
" Tante..." seketika Criztine berdiri.
" Untuk apa anda kemari? jangan sampai saya melakukan hal buruk pada anda, atas semua kejahatan anda kepada istri saya." Maki Revaldi.
Dia sangat tidak ingin jika kedatangan ibunda Leo akan berdampak buruk bagi Criztine beserta anak dalam kandungannya.
__ADS_1
" Nak Re, Tante tidak akan menyakiti istri kamu. Tante hanya ingin berbicara sebentar saja, boleh kan?." ucap Maria dengan melebarkan senyum.
" Saya tidak akan mengijinkannya." Cetus Revaldi sembari mendekap diri Criztine.
" Mas, biarkan Tante Maria bicara dengan ku sebentar saja." sambung Criztine.
" Tapi sayang..."
" Aku bisa jaga diri baik-baik kok."
Melihat istrinya seperti itu, maka dengan terpaksa Revaldi mengijinkan Criztine bersama dengan ibunda Leo.
Lalu dengan hati gelisah Revaldi menjauh dari mereka.
" Ada hal apa Tante? ada yang bisa saya bantu?." ucap Criztine dengan santun.
Maria menatap dalam mata Criztine.
" Maafkan Tante Nak? selama ini Tante sudah salah menilai kamu, bahkan Tante menjadi Buta dan Tuli dengan semua kebaikan kamu selama ini. Mohon maafkan Tante ...." ibunda Leo bersimpuh di kaki Criztine.
" Tante, tolong jangan seperti itu." Criztine membantunya berdiri. " Tante tidak harus merendahkan harga diri Tante hanya karena masalah yang telah berlalu, semua ini sudah takdir dari yang maha hidup. Mari kita mulai kehidupan baru dengan sesuatu kebaikan."
__ADS_1
" Sungguh mulia hati kamu Nak, terima kasih..." Maria menyentuh kepala Criztine sembari melempar senyum.
Saat ini senyuman itu terlihat tulus dari dalam hati, tidak sungkan Criztine pun membalas dengan senyuman manis.