HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Belum sampai Gilang membuka pintu mobil, terdengar suara jeritan dari dalam "Olive..."Segera Gilang berlari masuk kembali, di lihatnya Olive terbaring di lantai, sedangkan Mbok Inah ada di sampingnya.


"Non bangun, non..." Mbok Inah menepuk pipi Olive berusaha membuka mata Olive.


"Olive..." Gilang segera menghampiri Olive "Mbok tolong buka pintu mobil" Sambil memapah tubuh Olive, Gilang dan Mbok Inah berlari kecil untuk menyelamatkan nyawa Olive. Darah semakin mengucur deras sampai kemeja putih Gilang di penuhi warna merah.


"Mbok, kamu ikut ya"


Mbok Inah pun masuk ke dalam mobil, duduk menopang kepala Olive.


"Darahnya masih belum berhenti juga" Mbok Inah panik melihat pergelangan tangan Olive yang semakin di banjiri darah, melihat semua itu tentu Gilang segera ambil tindakan. Ia merobek kemeja yang di kenakan di bagian lengan kirinya, kemudian di ikatkan pada pergrlangan tangan Olive.


Setalah itu, Gilang segera mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Kebetulan jarak ke rumah sakit lumayan jauh, harus menempuh satu jam perjalanan. Di tanbah jalanan kota ynag sering macet. "Ah....kenapa pake macet segala" Memekul stir kemudi.


Tanpa sengaja mbok Inah melihat tangan Gilang berdarah "Tangan, Tuan terluka?"


Gilang melihat trlapak tangannya penuh dengan darah "Nggak apa apa, mbok. Yang penting sekarang itu bagaimana kita bisa keluar dari kemacetan ini" Melihat padatnya kendaraan di sekitarnya membuat Gilang semakin panik.


Tin, tin, tinnnnn...


Klakson mobil ia nyalakan berkali kali, namun masih saja macet tidak bisa di hindari.

__ADS_1


"Mbok, tunggu si sini biar saya lihat di depan ada apa" Keluarlah Gilang kemudian berjalan mencari tau penyebab kemacetan.


"Ada apa di depan sana?" Banyaknya orang berkerumun membuatnya penasaran.


"Ada apa ini?" Tanya Gilang pada seseorang di barisan paling belakang, banyaknya orang di sana membuat Gilang kesulitan melihat subjuk apa yang di lihat oleh mereka.


"Ada kecelakan beruntun pak, pengendara motor tewas di tempat" Jelas Seorang pria tersebut.


Gilang menyentuh keningnya sambil memijatnya pelan, ia hampir kehilangan akal. Akan tetapi, di saat ia melihat di sebelah jalan ada ojek pangkalan, segera ia menghampiri tukan ojek tersebut "Pak saya bisa minta tolong antar ke rumah sakit, mobil saya terjrbak di belakang sedangkan saya sedang membawa orang sakit. Bapak bisa bantu saya?"


Bapak tukang ojek pun segera mengiyakan.


Tak berapa lama Gilang pergi kemudian memapah tubuh Olive sambil Mbok Inah berjalan di belakang, memegangi kepala Olive "Non, tahan sebentar lagi ya, non pasti kuat"


"Lah, gimana cara bawanya ini, pak?" Tukang ojek itu terkejut kala melihat seorang wanita terkulai di gendongan Gilang.


"Pokoknya kamu naik dulu" Suruh Gilang. Setelah pak ojek naik, ia pun menaikkan Olive "Mbok, juga naik" Tanpa ragu Mbok Inah pun naik, sambil memeluk Olive dari belakang.


"Aduh, pak. saya tidak berani bonceng tiga, bisa bisa saya kena tilang" Protes pak ojek.


Gilang tidak kehabisan akal, ia pun mengambil uang dari dompetnya "Jangan banyak bicara, sekarang kamu antar mereka ke rumah sakit" Jumlah uang yang banyak membuat pak Ojek melotot sampai air liurnya hampir keluar.

__ADS_1


"Oke, oke saya bisa antar, pak" dengan semangat pak ojek itu menerima sejumlah uang kemudian segera membawa mereka menuju rumah sakit.


"Nggak peduli di tilang lagi deh gue yang penting suit segepok" Lirihnya sambil menyeringai bahagia.


Gilang pun kembali ke dalam mobil.


Hampir satu jam lamanya Gilang menunggu di dalam mobil hingga akhirnya jalanan kembali normal, ia pun segera menuju rumah sakit terdekat.


"Pasien atas nama Olivia Sunandar..." Bertanya pada resepsionis.


"Pasien bernama Olivia Sunandar ada di ruang Cempaka no 05"


Tanpa basa basi Gilang pun menuju ke ruangan tersebut.


"Dia...." Gilang terkejut melihat sosok Damar dengan memakai pakaian Dokter duduk di luar ruangan, wajahnya nampak panik dan terus melihat ke arah pintu.


Perlahan Gilang melangkahkan kaki ke arah Damar "Bagaimana kondisi Olive?"


Sontak saja Damar menolek arah suara tersebut "Kamu?" Ia pun bangkit dari duduknya lalu menatap Gilang tajam, di lihatnya telapak tangan Gilang penuh darah dan lengan kemeja robek.


"Oh jadi sebelum kejadian kalian sudah bersama?" Mengepalkan tangan hendak melayangkan tinju, namun Mbok Inah menghantikan Damar dengan memagang tangannya.

__ADS_1


"Lepas, mbok. Orang seperti dia tidak pantas di beri hati. Sudah jelas jelas kalau Olive itu istri saya, masih saja nerusaha mendapatkan dia. Dasar gila kamu" Damar tersulut emosi sampai menarik krah baju Gilang kemudian mencengkeramnya kuat kuat. Tatapan Damar penuh kebencian "Ini semua nggak akan pernah terjadi kalau kamu nggak datang dalam kehidupan kami. Kalau sampai istri saya kenapa napa, maka nyawa kamu taruhannya" Mendorong kuat tubuh Gilang sampai Gilang hampir terjatuh.


Karena Gilang sadar semua adalah salahnya, maka dia tidak berani mengelak.


__ADS_2