
Hari mulai senja, mereka memutuskan untuk kembali pulang.
Di sepanjang jalan Criztine terus menatap layar ponsel, ia sedang sibuk dengan game baru milik suaminya.
Entahlah game apa itu, yang pasti Criztine sangat menyukainya.
" Uhhh kenapa lagi sih ini...." Criztine merasa kesal saat game yang dia jalankan kalah begitu saja.
" Ada apa? sepertinya kamu kesal sekali?." Revaldi melirik Istrinya dengan fokus pada stir kemudi.
" Aku kalah..."
" Kalau begitu tidak usah main. Nanti wajah cantik istri ku ini menjadi jelek kerena cemberut macam itu." Revaldi mencolek dagu Criztine.
" Mas, aku lagi kesel, kamu malah menggoda ku." Criztine berpaling muka lalu melihat di luar kaca mobil.
Tampak rampai jalanan sore itu, di tambah dengan banyaknya para pekerja yang hendak pulang.
" Sayang, kamu marah?." Ucap Revaldi.
Tidak ada satu jawaban sedikit pun dari Criztine, entah dia sedang marah atau memikirkan sesuatu.
" Sayang..."
" Ada apa Mas?." ucap Criztine.
" Kamu sedang memikirkan apa? jangan bilang kamu memikirkan wanita tadi."
__ADS_1
" Tidak! hanya saja Tante maria bilang bahwa Leo kabur dari rumah..." lirih Criztine.
" Apa?." mendadak Revaldi menginjak rem.
" Aw....hati-hati dong mas."
" Maaf sayang, maaf. Apa benar yang kamu bilang barusan...?." Revaldi terkejut atas hilangnya sahabat lamanya.
" Kenapa lagi si pak Dokter itu? apa dia kabur karena tidak tahan melihat kita bahagia...." perlahan Revaldi kembali melajukan mobilnya.
" Katanya dia tidak setuju dengan perjodohan antara dia dan wanita pilihan Maminya. Dan sepertinya dia sedang bersama seorang wanita..." Jelas Criztine.
" Apa kamu tidak salah dengar? selama aku kenal Leo, tidak sekali pun dia bermain dengan wanita malam. Atau jangan-jangan...."
" Jangan-jangan apa?." Criztine menatapnya penuh keingin-tahuan.
" Jangan bicara macam itu nanti jatuhnya kamu fitnah lho mas."
" Bercanda sayang....hehe." Revaldi menyeringai melihat wajah istrinya.
" Oh ya, nanti kamu tinggal di rumah dulu ya, aku akan mencari Leo bersama dengan Jimmy dan Dimas."
Criztine hanya tersenyum.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah.
Sebelum pergi, Revaldi menghubungi kedua sahabatnya lalu mengajak mereka bertemu di sebuah tempat.
__ADS_1
" Sayang, Daddy pergi dulu ya, kamu jaga mommy." Usapan lembut di perut Criztine.
Kecupan manis tidak lupa ia tinggalkan di kening Criztine.
" Hati-hati mas..." Lambaian tangan serta senyuman manis mengiringi keberangkatan Revaldi
Criztine masih kepikiran dengan hal yang terjadi antara Leo dan maminya.
Tentunya ada masalah serius yang membuat Leo melakukan hal senekat itu.
Selama Criztine mengenal keluarga Leo, tidak sedikit pun dia melihat Leo menentang perintah dari kedua orang tuanya.
Bahkan dia rela meninggalkan Criztine hanya kerena mengikuti ucapan kedua orang tuanya.
Bulan malam ini sangatlah indah.
Di keheningan malam ini, aku bisa merasakan kedamaian dalam hidup ku untuk yang pertama kalinya.
Hembusan angin malam membawa perasaan benci ini lalu membawanya terbang menembus langit.
Sekarang aku sadar, bahwa luka yang pernah aku terima adalah jalan untuk bahagia ku sekarang ini.
dan dimana pun kamu(Leo) berada dan dengan siapa pun, semoga saja kamu bisa bahagia dan melalui semua rintangan dengan mudah.
Criztine duduk di teras rumah sembari menatap bulan berhias bintang-bintang.
" Semua perjalanan hidup pasti akan ada kejutan di dalamnya." senyuman manis Criztine menambah indahnya malam.
__ADS_1