
Beberapa hari kemudian.
Keluarga Revaldi mendapat kabar atas kepergian Ayah Criztine. Kabar duka itu membuat Criztine terpuruk, ia tidak mengerti dengan semua kenyataan ini.
Baru saja beberapa hari dia sampai di tanah kelahirannya lalu mendapat kabar mengejutkan.
" Sayang, kamu harus kuat menghadapi semua ini." Revaldi memeluk tubuh lemah istrinya.
Usai pemakaman ayahnya, Criztine terkulai lemas dengan kebisuan serta air mata.
" Aku ingin sendiri dulu mas." Criztine melepas pelukan suaminya lalu merebahkan diri membelakangi Revaldi yang tengah duduk di tepi ranjang.
" Kalau begitu aku pergi sebentar." ucap Revaldi lalu melangkah pergi menuju sebuah tempat.
" Kalian harus mengungkap sebab dari kematian mertuaku, sepertinya aku sedikit menaruh curiga atas diri seseorang." Ucap Revaldi pada seorang kepercayaannya.
Saat ini Revaldi duduk di sebuah Cafe, ia menunggu kedatangan seorang saksi mata.
" Rencana kita berhasil Tante, wanita itu merasakan akibatnya karena sudah berhadapan dengan kita."
Suara itu terdengar sampai ke telinga Revaldi.
Saat dia berbalik badan, ia mendapati seorang gadis cantik dengan seorang wanita setengah baya, mereka terlihat sangat bahagia.
Tawa dan canda terdengar lantang di telinga.
__ADS_1
" Tau rasa dia, siapa suruh dia menghasut anak Tante."
" Criztine memang layak di hukum."
Mendengar nama istrinya di sebut, lantas membuat Revaldi berdiri lalu menghampiri mereka.
Kebetulan mereka duduk di belakang meja yang telah di pesan Revaldi.
" Jadi kalian dalang dari kematian Ayah mertuaku?."
Ucapan Revaldi sontak membuat mereka terkejut, seketika itu mereka merasa ketakutan.
" Siapa kamu?." Tanya Gea.
" Nak Revaldi." Ibunda Leo tersenyum kaku menutupi rasa takutnya.
" Lepas, sakit tau." Gea meringis kesakitan saat lengannya di genggam dengan begitu kuat dan kasar.
" Kalian harus bertanggung jawab atas perbuatan kalian ini." Cetus Revaldi sembari membawa mereka menuju mobil.
" Maaf Tante, Revaldi terpaksa kasar."
Setelah ia membereskan kedua wanita itu, dia bergegas menuju kantor polisi.
" Disini tempat kalian mempertanggung jawabkan perbuatan kalian."
__ADS_1
" Kamu salah paham nak, Maksud Tante bukan Criztine istrimu, melainkan yang lain." mencoba menutupi kesalahan demi keamanan diri. Itulah yang saat ini Maria coba lakukan.
Setelah melapor, mereka berdua segera di tangani oleh pihak berwajib.
Ada beberapa bukti nyata dari pesan singkat keduanya.
Satu jam setelah pemeriksaan, datanglah Leo dengan masih mengenakan pakaian Dokternya.
" Ada apa ini?." Tanya Leo pada Revaldi.
" Mama kamu dan calon istri kamu itu telah berbuat hal buruk pada Ayah mertuaku. Sehingga membuat beliau meninggal dunia." Jelas Revaldi dengan api amarah.
" Apa? meninggal? kamu jangan bercanda Re, mana mungkin Mama menyakiti Ayah Criztine. Kamu pasti salah paham." Leo menolak kenyataan bahwa ibundanya telah berbuat kejahatan.
Kerena ketidak percayaannya itu, kini membuatnya kesal lalu meninggalkan Revaldi.
Namun saat Leo hendak melangkah pergi, tiba-tiba Revaldi menyodorkan sebuah pesan singkat yang berada di ponsel ibundanya.
" Butuh bukti apa lagi?." Cetus Revaldi.
" Astaga, Tuhan. Kenapa Mama bisa sejahat ini?." Tangis Leo pecah melihat semua kenyataan tersebut.
" Sekarang terserah padamu Le, apakah kamu ingin membebaskan mereka atau sebaliknya. Aku serahkan semua keputusan ini padamu, karena aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri. Aku percaya padamu, bahwa kamu tidak akan pernah membebaskan seseorang dari status pribadi. Tapi jika kamu ingin mereka keluar dari sel, maka silahkan saja."
Revaldi menyerahkan segalanya pada diri Leo, karena sebenarnya dia tidak tega jika harus menuntut keadilan dari ibu sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Sebenarnya hukum tidak pernah memandang status sosial atau pun yang lainnya.
Namun ada beberapa pertimbangan dari diri Revaldi yang tidak mudah di ungkapkan.