HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 214


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertemuan Leo dengan keluarga Gea, kini dia sudah bisa bernafas dengan laga, sebab aset perusahaan orang tuanya sudah di kembalikan. Dengan begitu, Leo bisa mengembalikan sejumlah uang yang dia pinjam dari Revaldi, untuk membayar dana yang di pinjam dari perusahaan lain.


Di dalam kamar pribadinya, Leo merebahkan diri..." Semoga saja Gea benar berubah, karena sepertinya Hendarman sangat mengharap dia bersama dengan Dimas. Tapi bagaimana jika Dimas tidak mau? apakah Gea akan kembali menjadi wanita seperti dulu lagi? atau dia akan mendesak kedua orang tuanya untuk memojokkan Dimas, sama halnya dengan diriku dulu?." Perasaan takut mulai membayangi Leo. Semua yang dia alami membuatnya menjaga Dimas.


" Ah...berpikir apa aku ini? lebih baik aku tidur, dari pada memikirkan masalah orang lain." Leo menutup kedua matanya dengan batal.


" Arghh..." Karena resah, akhirnya dia tidak bisa tenang, dan memilih untuk bangkit dari tidurnya. " Otak ku terlalu takut dengan semua itu..."


Drt.....


" Siapa lagi ini...?." segera Leo meraih ponselnya yabg ada di meja kamar. " Nomor tidak di kenal..."


" Paling-paling orang salah sambung." Leo mematikan ponselnya, lalu berjalan keluar dari kamarnya.


" Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya, Nak?." Tanya ibunda Leo yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


" Persiapan apa lagi Ma? bukankah semua sudah di persiapkan." Jawab Leo sembari duduk di samping ibundanya.

__ADS_1


" Mempersiapkan hati untuk benar-benar berlabuh di hatinya."


" Sejak beberapa hari ini aku sedikit melemah..."


Maria menatap tajam mata putranya." Jangan main-main kamu Le..."


Leo terkiki mendapati ibundanya marah, karena selama beberapa bulan ini, Leo selalu melihat senyum di wajah ibundanya, jadi dia ingin melihat wajah garang ibundanya tersebut.." Baru kali ini aku melihat mama marah, aku sungguh rindu dengan cerewetnya mama, dan kejamnya amarah mama itu." Leo mencubit pipi ibundanya, seolah dia sedang bermain dengan anak kecil.


" Leo, kamu sungguh membuat mama kesal." Maria mencubit hidung Leo, lalu memeluknya dengan erat. " Putra ku, satu yang mama inginkan, jika kamu sudah menjatuhkan pilihan, maka tolong jangan sakiti dia, beri dia cinta sepenuhnya, jangan pula kamu berbagi rasa dengan wanita lain. Mungkin untuk melupakan masa lalu kamu bersama Criztine, sangat lah sulit. Tapi Nak, tidak akan bertahan lama hubungan yang masih di dasari cinta masa lalu. Percayalah, meski kalian tidak bisa saling memiliki, tapi kalian bisa saling melihat kebahagiaan dalam kehidupan kalian masing-masing."


Ucapan Maria seolah menceritakan rasa sakitnya di masa lalu, dan di masa sekarang.


Leo bisa menggambarkan bagaimana sakit dan sulitnya harus berjuang dengan satu cinta, berperang melawan rasa lain yang menyelimuti cintanya.


" Mama..." Leo meraih wajah ibundanya dengan tatapan mata yang sangat dalam, sedalam ikatan mereka berdua.


" Aku akui selama ini aku masih mencintai Criztine. Tapi untuk melupakan cinta ini, aku sungguh butuh waktu yang lama. Meski begitu, aku janji tidak akan menjadi lelaki pengecut seperti apa yang telah Ayah tiri perbuat selama ini."

__ADS_1


Perlahan air mata Maria terjun dari matanya...


" Mama menyayangi kamu nak." Lirih Maria sembari menguatkan hati agar tidak lemah di hadapan putranya.


" Hentikan air mata ini. Karena air mata mama terlalu berharga untuk menangisi semua kejadian ini." Leo menyeka air mata ibundanya, lalu mencium keningnya.


" Terima kasih, Nak. Hanya kamu satu kekuatan mama di dunia ini."


" Begitu pula dengan mama di dalam hidup ku." Jawab Leo dengan senyuman di bibirnya.


" Tapi Nak, selama kamu masih menyimpan rasa untuknya, apa kamu yakin bisa menjalani kehidupan kamu dengan yang lain? Ingatlah nak, sungguh dosa bagi seorang lelaki yang beristri membayangkan wanita lain di hadapan istrinya. Perlahan kamu harus mencairkan perasaan cinta itu, Mama yakin Kamu pasti bisa."


Orang tua selalu mengingatkan segala hal yang menurutnya keliru, tapi sebelum mengingatkan, orang tua harus mencari titik tenang untuk menyampaikan niatnya.


Dalam kondisi tenang, keduanya bisa saling menghubungkan pemikiran mereka tanpa harus mengundang amarah dalam diri.


Bicara secara bertahap lalu menyampaikan dengan baik, pasti mereka(anak) bisa memahami dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2