HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Tok tok...


"Masuk..."


Seorang perempuan masuk membawa sesuatu di tangannya "Permisi, pak. Tadi ibu Alisya menitipkan ini kepada saya" Tuturnya seraya menyerahkan bingkisan tersebut.


"Alisya? memang dia ke sini?" Tanya Kenzo.


"Iya, Pak. Tadinya hendak di berikan sendiri, namun tidak tau kenapa di titipkan lagi pada saya. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak" Segera ia pergi dari ruangan.


"Gimana kalau dia dengar percakapan kita?" Kenzo panik bukan main, memikirkan betapa sakit hati Alisya saat ini. Bahkan ucapan mereka mengarah pada hal buruk, pasti membuatnya terpukul.


Dengan santai Gilang duduk mengesampingkan bingkisan makan siang yang telah istrinya siapkan "Biarkan saja, toh saya tidak perlu repot mengatakan keinginan saya untuk pisah. Saya malah senang mendengarnya."

__ADS_1


"Gila kamu Gil. Gimana kalau dia ngadu sama keluarga kamu lalu mengadu sama keluarganya juga? bisa panjang urusannya" Seharunya Gilang yang panik tapi justru kebalikkannya, Gilang nampak santai tapi Kenzo yang panik.


"Maka dari itu saya memperpendek urusan yang panjang" Gilang merasa ini adalah awal keberuntungannya. Dia tidak perlu memperalat siapa pun untuk lepas dari pernikahannya, sedangkan pelungan sudah di depan mata. Sambil tersenyum ia berharap semoga perpisahan itu segera terjadi.


"Maksudnya apa? bicaralah yang mudah saya pahami" Tak habis pikir sahabatnya menjadi egois seperti sekerang ini. Biasanya Gilang selalu memikirkan perasaan orang lain di banding dirinya sendiri. Semua sifatnya telah berubah, Gilang yang dulu tidak pernah menyakiti wanita sekarang menjelma menjadi penjahat wanita. Gilang yang dulu sangat acuh dalam cinta sekarang menjadi budak cinta. Cinta yang salah membuatnya kehilangan akal sehat.


"Tapi bagaimana pun status dia adalah istrimu. Sudah kewajiban kamu menjaga hatinya dan...."


Kenzo hanya mampu diam, mengingat ini adalah rumah tangga sahabatanya. Benar kata Gilang jika dia berada di posisinya pasti tidak akan sekuat Gilang atau malah lebih parah dari kondisi Gilang saat ini. Semua yang terjadi sepenuhnya bukan salah Gilang. Karena sedari awal Gilang sudah tekankan cintanya hanya milik Olivia seorang.


Permainan cinta kadang terasa menyakitkan, terkadang membosankan, terkadang pula menyenangkan.Akan tetapi, tidak akan tercipta rasa cinta jika sang maha Cinta tidak menghendakinya. Hati seorang lelaki tengah di permainkan cinta sampai merusak akal sehat juga hati nuraninya.


"Ah, sudahlah. Sekarang kamu buang makanan ini, saya tidak lapar" Gilang membuka laptop di depannya "Tapi, kalau kamu mau makan saja" Ucapnya sembari membuat jari jemarinya sibuk.

__ADS_1


"Biar saya makan saja. Kasian makanan ini tidak punya salah kenapa harus menerima penghinaan" Merasa kasihan pada Alisya, Kenzo pun memakan yang di bawakan Alisya untuk Gilang.


Gilang melirik Kenzo yang tengah makan "Habiskan, habiskan, sekalian sama wadahnya"


Kenzo menyunggingkan senyum "Ayam pedas manis ini sangat luar biasa. Besok kalau ada makanan gratis bagi saya, ya..." Sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


Gilang menelan ludah, aroma masakan itu menusuk hidungnya.


Kruuk...


Suara perut menari ria "Lapar ya, nih makan..." Menyodorkan sisa nasi "Enak loh..."


Gilang melihat tempat makan "Ish...ogah banget. Mending kelaparan dari pada makan makanan bekas kamu. Di tambah lagi gak selera sama masakan dia" Gilang meraih gagang telepon "Belikan saya makan siang, bawa ke ruangan." Ucapnya pada seorang di telepon.

__ADS_1


__ADS_2