
"Tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu di depan calon istri kamu. Apa kamu lupa dengan perjanjian kita dulu...."Tentunya Dimas marah atas tindakan putranya yang seakan tidak perduli dengan calon istrinya sendiri.
Gilang kembali menutup pintu mobilnya kemudian berbalik menghadap papanya "Gilang ada urusan penting sama Kenzo dan malam ini harus selesai..."
"Papa tidak mau tau, pokoknya kamu tidak boleh pergi sebelum Alisya kamu antar pulang. Hargai calon istri kamu, masalah kerjaan biar Kenzo hendle sendiri. Toh selama ini kamu sibuk mencari gadis itu dan Kenzo selalu menjadi orang nomor satu yang ada di balik kesuksesan usaha kamu itu..." Dimas sengaja menyinggung perasan putranya agar ia sadar atas tindakan bodoh yang selama ini di lakukan. Usaha mencari seorang wanita sampai membuatnya lalai dengan tanggung jawabnya.
Gilang mengambil nafas dalam dalam "Baiklah, kalau papa mau aku antar dia pulang suruh dia cepat keluar..." Dengan angkuhny Gilang masuk ke dalam mobil. Ia sangat tidak suka berdebat dengan papanya sebab, ia tau bakal panjang jadinya. Saat ini Gilang tidak ingin bertengar agar ia cepat bisa keluar rumah.
Tak berapa lama datanglah Alisya tengah di gandeng Gea "Antar calon istri mu sampai ke rumah"Seraya membuka pintu mobil untuk Alisya.
"Saya duduk di belakang saja, Tante"Tutur Alisya.
Gilang pun segera mengantar Alisya pulang ke rumahnya. Di sepanjang jalan kedua manusia itu hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Alisya merasa canggung atas kediaman mereka sampai ia sedikit melihat wajah Gilang dari kaca depan "Apakah mas keberatan mengatar saya pulang? sejak tadi mas hanya diam" Tuturnya sembari memecah keheningan.
Gilang menghembuskan nafas "Tidak" Singkatnya dengan membelokkan stir kemudi, menepikan mobilnya di sebuah tepi jalan.
"Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu..."
Sontak saja Alisya terkejut kala Gilang menoleh ke belakang menatap matanya, Alisya pun berusaha bersembunyi di balik cadarnya
"Ada apa mas..." Dengan pandangan ke bawah Alisya berusaha tidak memandang mata calon suaminya karena ia tak ingin terjadi dosa lewat pandangan mata keduanya.
Gilang pun berbalik kembali setelah melihat Alisya yang enggan menatap matanya...
"Memangnya aku ini jin sampai dia tidak berani menatap mata ku..."Keluhnya pelan.
"Apakah kamu siap menikah dengan saya yang kamu tahu sendiri kita menikah karena perjodohan. Apakah kamu tidak keberatan jika saya masih belum mencintai kamu nantinya?"
Hati Alisya terasa sakit air matanya hampir jatuh namun, ia berusaha kuat dalam pertarungan rasa ini. Meski ia tau bahwa Gilang tidak mencintainya tapi harapan untuk saling mencintai masih ada dalam dirinya sampai Alisya percaya bahwa Tuhan akan menunjukkan jalan terbaik untuk kehidupannya.
"Kenapa kamu diam.."Gilang mencoba menekan Alisya berharap ia mendapat jawaban yang di inginkan. Harapan Gilang adalah Alisya tidak ingin menikah dengannya, Gilang juga berharap agar dirinya bisa menemukan Olive dan menebus kesalahannya selama ini.
Alisya menggenggam tangnya sendiri dengan sedikit bergetar "Insya Allah saya bisa menunggu sampai mas mencintai saya"Tutur Alisya.
"Baiklah kalau begitu..." Setelah itu tidak ada hal yang Gilang bicarakan dengan Alisya, ia pun segera mengemudikan mobilnya kembali di jalur menuju rumah Alisya. Mereka kembali berdiam diri sampai hampir satu jam lamanya.
Setelah sampai di pintu gerbang Alisya turun dari mobil lalu membukakan pinru gerbang..
"Ishhh...wanita ini" Tanpa perduli Gilang pun masuk lalu menunggu Alisya yang kembali menutup pintu gerbang rumahnya.
"Mari mas masuk..."
Dengan berat hati Gilang masuk ke rumah Alisya. Ini baru pertama kalinya Gilang berkunjung ke rumah Alisya "Silahkan duduk mas, biar saya panggil Abi dan Umi..." Alisya pun meninggalkan Gilang di ruang tengah.
Tok tok..
"Assalammualaikum, Abi, Umi, ada mas Gilang di ruang tamu"
Tiba tiba pintu kamar di buka oleh ibunda Alisya yang bernama Ratih."Sttt...pelankan suara kamu, Abi sedang mengaji" Ratih perlahan menutup pintu kamar. Samar samar terdengar lantunan kitab suci alquran.
"Maafkan Alisya, Umi. tadi Alisya tidak mendengar Abi sedang tadarus..." Tatapan mata Alisya seolah menyesal telah mengganggu Abinya bertadarus.
"Tidak apa apa...biar Umi temui calon menantu Umi dulu, kamu buatkan dia minum"
Alisya pun mengangguk lalu bergegas menuju dapur, sedangkan Ratih merapihkan jilbab dan kembali mengenakan cadar "Assalammualaikum, nak Gilang. Bagaimana kabarnya..."
Gilang mengulurkan tangan hendak salim namun di tolak oleh Ratih dengan kedua tangannya yang mengatup di bawah wajahnya "maaf...."
"Waalaikum sallam, Umi. Maaf tidak sengaja..." Gilang merasa canggung dengan tindakakannya barusan, ia lupa bahwa keluarga Alisya adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi agama.
"Bukan masalah besar. Nak Gilang dan keluarga sehat?" Ratih pun duduk agak jauh dari tempat duduk Gilang.
__ADS_1
Gilang tersenyum tipis "Alkhamdulillah, sehat. Umi sendiri?" Mencoba berbasa basi padahal Gilang sendiri ingin segera pergi dari tempat tersebut.
"Alkhamdulillah, kami juga sehat." Ratih melihat putrinya datang membawa nampan berisikan dua cangkir teh hangat dan beberapa makanan ringan "Silahkan, di cicipi, nak"
Gilang pun meminum teh manis yang di sediakan calon istrinya tersebut. Ketika ia mencium wangi teh itu membuatnya nyaman bagaikan duduk di tepi pantai saat sore hari. Aroma teh itu tidak seperti aroma teh pada umumnya karena ada aroma khas yang baru ia dapati. "Teh ini sangat berbeda dari teh lainnya..." Lirihnya dengan menyeruput teh tersebut.
"Kamu bisa saja, nak."
Gilang meletakkan cangkir lalu mencari sosok lain yang tidak lain adalah ayah dari Alisya
"Abi sedang tadarus, mas. Biar saya panggil dulu, ya" Alisya hendak bangkit namun tiba tiba saja Ayahnya sudah menuruni anak tangga.
"Oh...ada Nak, Gilang" Sang calon mertua menghampiri calon menantunya dengan sambutan ramah "Kok tumben nak Gilang datang malam malam begini"
"Saya sengaja mengantar Alisya pulang, Bi. Hari sudah larut jadi saya mengantar Alisya pulang." Jelas Gilang seraya mengulurkan tangan hendak mencium tangan calon mertuanya.
"Alkhamdulillah...setelah kalian menikah nanti Abi ingin kalian hidup rukun dan saling menjaga"
Deg...
Ucapan itu bagaikan duri yang menancap di kaki Gilang, ia tidak tau harus berbuat apa sebab dalam hatinya ingin menggagalkan pernikahan tersebut
"Abi...jangan buat putri abi jadi malu" Sambung Umi Ratih seraya merangkul pundak putri tersayangnya.
"Maaf, saya angkat telpon dulu" Gilang pun keluar menerima telepon dari seseorang.
"Baik, baik, saya segera datang" Ucapnya dengan terburu buru.
Gilang kembali duduk"Mohon maaf, saya harus segera pulang karena ada beberapa file yang harus segera saya kerjakan."
"Kenapa terburu buru, nak. Tinggallah sebantar di sini kami ingin mengenal kamu lebih dekat lagi..." Ucap Salman Ayah dari Alisya.
"Maaf, Abi. Soalnya besok ada meeting penting dengan klien besar di perusahaan jadi, saya harus segera menangani semuanya sekarang juga. Jika ada waktu luang saya akan datang kembali"
Gilang tersenyum "Baik, Umi. saya pamit pulang dulu..." Seperti biasa Gilang tidak perduli Alisya yang berdiri mematung mengantar kepulangannya.
"Sepertinya anak itu jodoh yang tepat untuk kamu, nak" Dengan senang hati keluarga Alisya menerima Gilang sepenuhnya. Dari cara Gilang bestanggung jawab atas pekerjaannya membuat mereka yakin dengan tanggung jawab yang nantinya akan Gilang emban untuk menjaga dan melindungi putri tersayang mereka.
"Insya Allah, Abi. Jodoh itu di tangan Allah bukan di tangan Abi." Alisya menyembunyikan bahagianya. Namun, kedua orang tuanya tau bahwa Alisya sudah jatuh hati pada Gilang.
"Anak Umi sama Abi sudah dewasa sekarang, kamu harus belajar lebih baik dalam mengurus rumah tanggamu kelak." Ratih memeluk Alisya seraya mencium kening putrinya.
"Insya Allah, Umi. Alisya akan belajar sebaik mungkin."Alisya pun memeluk erat Uminya.
Melihat putrinya hendak berumah tangga membuat Salman bahagia, sampai air mata jatuh di pipinya
"Abi kenapa?" Alisya sadar Abinya tengah menangis
Dengan cepat Salman menyeka air matanya "Abi bahagia melihat kamu akan segera menikah, nak. Air mata ini mewakili kebahagiaan Abi" Seorang ayah memeluk anak yang sejak kecil ia didik sedemikian rupa sampai menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Salman sangat percaya bahwa putrinya akan hidup bahagia bersama dengan Gilang.
"Abi, jangan menangis" Alisya pun hanyut dalam pelukan kedua orang tuanya.
Di sisi lain Gilang dengan cepat mengendarai mobil menuju apartemen Kenzo. Di sana sudah ada Rio dan beberapa teman lainnya, mereka tengah sibuk dengan rancangan bisnis yang menurut mereka sangat penting dan harus di kerjakan dengan berhati hati.
"Bagaimana kalau kita istirahat sejenak..." Kenzo mengambil minuman dingin kemudian memberikannya kepada Rio dan teman lainnya yang tidak lain adalah patner bisnis Gilang.
"Sorry...telat" Datanglah Gilang dengan tergesa gesa.
"Kemana aja sih, Lo? kita udah hampir pingsan kerjain proyek ini...Lo malah baru dateng" Timpal salah seorang temannya.
Gilang melepas sepatunya lalu duduk di atas sofa "Aduh, gua lagi pusing banget. Seminggu lagi gua nikah dan kalian tau sendiri kan, gua itu tidak suka sama Alisya"
__ADS_1
Kenzo menyodorkan sekaleng minuman dingin
"Memang kurangnya Alisya apa sih, dia itu sholehah, baik, dan juga mandiri. Kurang apa coba?"
Rio menepuk pundak Kenzo "Sebaik apa pun wanita itu jika Gilang tidak suka ya jangan di paksa"
Gilang semakin pusing dengan perdebatan antara para sahabatnya tersebut sampai kepalanya terasa berat "Udah lah jangan bahas masalah gua lagi, pusing tau. Mending kita fokus sama proposal kita nanti" Demi mengalihkan teman temannya Gilang pun membuka dokumen dan mulai mengotak atik semua isinya.
Setelah berjam jam lamanya mereka menyelesaikan semua pekerjaan itu lalu satu persatu pulang. Kini tinggal Kenzo, Rio dan Gilang, mereka bertiga masih duduk bersandar di sofa. Sepertinya mereka sangat kelelahan dan Kenzo pun tertidur.
"Gil..." Ucap Rio
"Hem" Gilang menjawab tanpa menatap "Apa sih, gua capek banget"
"Lo yakin mau nikah?"
Pertanyaan Rio membangkitkan Gilang "Sebenarnya sih gua belun siap, entah dari kapan gua mulai mencinrai Olive. Tapi, sudah dua tahun lamanya dia menghilang tanpa kabar." Gilang mengacak rambutnta seakan menggambarkan kekecewaan mendalam.
"Saran gua sih lupain aja Olive terus nikah sama Alisya. Kasian Alisya udah nunggu Lo sampe bertahun tahun lamanya, dulu Lo tinggalin tunangan Lo demi karier sekarang Lo tinggakin cewek baik yang ada di depan mata Lo demi cewek yang pernah Lo ancurin, mending Lo lupain masa lalu dan menata masa depan" Rio berharap sahabatnya mau menerima kenyataan bahwa TUHAN telah mengantarnya pad Alisya.
"Tidak segampang itu..." Gilang bangkit lalu menuju cendela Apartemen "Sudah lama aku tidak meraskan jatuh cinta dan kamu tau sendiri Olive adalah orang satu satunya yang aku cintai. Jika saja hari inu dia ada di sini maka aku akan pergi jauh dengannya, hidup bersama ddngan anak anak kita nantinya" Impian yang Telah Gilabg Rangkai sedemikian indahnya hanyalah sebagai bayangan semu.
Rio melihat punggung sahabatnta itu, melihatnya penuh dengan beban mental "Tapi..."
"Sudahlah, jangan ungkit masalah ku."
Rio mendekat "Kalau begitu Gua sebagai sahabat Lo cuma bisa bantu doa yang terbaik aja, ya."
Tatapan mata Gilang hilang jauh entah kemana. Gelapnya malam itu mencerminkan betapa gelap dunianya saat ini. Kepergian Olive membutakan pandangan serta jalan kehidupannya. Di saat ia ingin memperbaiki kesalahan justru ia semakin di jauhkan dari tanggubg jawabnya.
"Ya sudah kita pulang yuk..." Ajak Rio.
Mereka pun pulang bersama.
Ke esokan hari Gilang terbangun, badannya terasa sakit semua dan kepalanya juta terasa pusing "Mama..." Teriak Gilang dari kamar
"Iya, nak. Ada apa?" Dengan masih menggunakan handuk di atas kepalanya Gea pun datang "Muka kamu pucat begitu..."
"Sepertinya aku kurang enak badan, Ma. Tolong ambilkan obat di laci"
Gea pun mengambil kotak obat Gilang lalu memberinya obat "Kamu tidak usah masuk kerja dulu, biar nak Kenzo yang tangani."
"Tidak bisa, ma. Hari ini ada rapat penting jadi Gilang harus datang" Gilang berusaha bangkit namun kembali terhuyung
"Tuh kan apa mama bilang. Kamu itu sedang tidak sehat. Istirahat sudu saja, ya" Gea merebahkan Gilqng kembali seraya menyelimuti sebagian tubuh putranya. "Biar mama telpon Kenzo" Gea meraih ponsel Gilang lalu menghubungi Kenzo.
"Mama sudah bilang sama Kenzo, katanya dia pasti bisa tangani proyek ini. Jadi kamu harus istirahat dengan tenang" jelas Gea.
"Kenapa lagi dia?" Tiba tiba saja Dinas datang dengan melipat kedua tangannya "Kebanyakan keluar malem ya begitu deh jadinya"
"Mas...kamu ini apaan sih. Anak lagi sakit malah kamu begitu" Protes Gea.
"Memang kebiasaan dia keluar malam kenapa harus marah sama papa, sih ma."
Gialng semakin pusing mendengar pertengkaran kedua orang tuanya itu sampai ia menutupi telinganya menggunakan bantal "Kalian lanjyt di luar" Ucap Gilang kesal.
Dimas handak memaki Gilang kembalu namun Gea lebih dulu menyeret suaminya keluar kamar
"Gilang itu sedang sakit jangan di tambah beban lagi. Lagian si papa kenapa pake bicara gitu sih" Protes Gea.
Dimas duduk santai di ruang tanu dengan melipat satu kaki lalu meraih kora di hadapaannya "Papa bicara apa adanya bukan mengada ngada"
__ADS_1
Gea kesal dengan suaminya, ia pun meninggalkan Dimas di ruang tamu.
"Anak sama bapak sama sama keras kepala" Gea ngedumal sejadinya.