HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 152


__ADS_3

" Bukan maksud untuk menggurui, tapi Aku hanya ingin Mama tau jika selama ini aku terbebani dengan kemauan mama dan juga papa. Leo harap jangan pernah ungkit tentang Criztine apalagi sampai menjatuhkan nama baiknya, karena saat ini dia sudah bahagia...."


"Dia benar wanita tidak baik. coba kamu pikir jika dia mencintai kamu lalu kenapa dia menikahi cucu Presdir? tentunya dia wanita haus harta." Maria semakin memaki habis diri Criztine, apa pun yang di lakukan oleh Criztine bagi dirinya tidak ada satu hal yang baik.


Kebencian keluarga Leo bermula saat kebangkrutan keluarga Criztine, Entah ada hasutan dari mana hingga tiba-tiba Leo di larang keras menjalin cinta dengan Criztine.


Leo sempat terdiam dengan menahan segala amarah dalam diri.


"Sebenarnya yang gila harta itu bukan Criztine, melainkan Mama sendiri." Cetus Leo." Kalau Mama masih membahas tentang keburukan Criztine, maka jangan salahkan aku jika ucapan dan tingkah laku anakmu ini akan menyakiti hati mama." Leo segera melangkah pergi, ia keluar rumah tanpa berganti pakaian atau hanya sekedar membersihkan diri.


Baju dokter masih melekat pada tubuh indah lelaki tersebut.


Kenapa semua kembali seperti sedia kala? sampai kapan mama akan memendam kebencian terhadap Criztine?


aku sangat merasa bersalah atas tuduhan dari mama, karena sesungguhnya Criztine adalah wanita yang baik. dia adalah korban kesakitan atas perbuatan ku dan juga keluargaku.


Criztine, semoga saat ini kamu bahagia dengan jalan hidup yang baru.


semoga Revaldi bisa memberikan kamu kebahagiaan yang selama ini tidak pernah kamu dapat dari aku.

__ADS_1


Wajah kusam, lelah, bercampur menjadi satu dalam diri Leo saat ini.


Semua beban pikiran mulai kembali memenuhi otaknya.


Saat mobil mulai mulai melaju perlahan, ia di kejutkan dengan pesan suara di ponselnya.


Ada sedikit rasa bahagia saat ia mendengarkan suara itu...


(Pak Dokter, kamu jahat sekali. kenapa tidak memberi kabar padaku...) Suara manja itu terdengar sangat indah di telinga.


"Saat ini dia satu-satunya wanita yang harus aku perjuangkan. Tidak akan aku biarkan sejarah pahit antara aku dan Criztine, terulang kembali pada Risa." Lirih Leo sembari menulis pesan singkat untuk sang kekasih.


Tak terasa mobil berhenti di depan rumah mewah bergaya klasik.


"Pak, Jimmy ada di rumah?." Tanya Leo pada seorang bapak tukang kebun.


"Tuan jimmy sedang tidak di rumah! beliau bilang ada urusan di perusahaan." Jelas bapak tersebut.


"Baiklah terima kasih..." Senyum santun ia layangkan pada bapak tukang kebun.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak ada saat aku butuh sekali tempat untuk berbagi?." Leo menggerutu kesal.


Leo memutar kemudi untuk menuju kantor Jimmy...


Sesampainya disana, ia menuju ruang kerja Jimmy yang dulunya adalah ruang kerja Revaldi. Gelar CEO sudah menjadi tanggung jawab besar bagi Jimmy.


Tap tap tap....


langkah kaki Leo terdengar elegan, saat ia berjalan di sekitaran lorong, semua mata tertuju padanya.


Banyak yang berasumsi tidak-tidak atas datangnya Leo dengan baju Dokter yang masih melekat di tubuh.


Tok tok...


"Masuk..." Ucap Jimmy dari dalam ruangan.


"Kamu sibuk?." Ucap Leo sembari membuka pintu.


" Leo..." Jimmy terkejut lalu berjalan menghampiri sahabat dekatnya tersebut.

__ADS_1


"Ada masalah apa sob? Kita ke ruang istirahat di sana." Jimmy menunjuk sebuah pintu di dalam ruang kerjanya.


Di balik pintu itu ada sebuah kamar kecil nan mewah, dulu kamar itu adalah tempat peristirahatan Revaldi saat dia masih memimpin di perusahaan.


__ADS_2