
"Bukan seperti itu, tapi setiap kali aku mencoba untuk lepas dari masa lalu pasti ada saja hal yang membuatku ingat dengan dirinya. apapun yang aku lakukan pasti selalu ada bayang wajahnya."
Sungguh tidak mudah untuk melupakan sesuatu yang pernah membuat kita bahagia, mungkin kata yang tepat bukan melupakan tapi menerima kenyataan bahwa semua itu sudah tidak termiliki oleh kita lagi.
Syukuri seberapa lama kita pernah memiliki, setidaknya kita pernah merasakan semua hal saat bersama....
"Jangan lemah karena masa lalu, hidup itu tidak untuk menoleh ke belakang, melainkan menatap kedepan. jalani hidup kamu dan ciptakan bahagia yang ingin kamu rasakan." Tina menepuk pundak Leo, dia berharap supaya Leo cepat bangun dari khayalan masa lalunya.
"Oh iya, aku ada titipan buat kamu."
Sebuah buku di letakkan di depan Leo.
"Apa ini...?" Heran Leo.
"Baca saja..."
"Menghapus luka? buku apa ini?" Leo mengernyit keheranan.
"Itu dari suamiku, dia bilang kamu harus sering membaca itu supaya kepala kamu lekas sembuh...." Tina menahan tawa di balik senyuman.
__ADS_1
"Mana sempat aku membaca novel seperti ini, duniaku bukan dunia dongeng." Cetus Leo sembari meletakkan kembali buku tersebut.
"Jangan meremehkan dunia novel, di dalam sebuah karya tangan ada sebuah pesan moral yang harus kamu pahami. belajar itu tidak ada batasannya, entah itu karangan novel, atau karya para ilmuan dunia, yang pasti kamu dapat mencerna setiap kalimat di dalamnya." Jelas Tina.
"Hehe, iya deh, iya. sini biar nanti aku baca kalau kamu sudah pulang." Leo merebut buku tersebut dari tangan Tina.
"Novel di ciptakan untuk apa? kenapa kamu suka sekali membaca karangan seperti ini." Ucap Leo dengan membolak-balikkan lembaran putih semu ter-ukir tulisan tangan nan indah tersebut.
"Novel di ciptakan untuk menampung semua imajinasi dari pengarangnya, entah itu di lihat dari dunia nyata, ataupun dari pemikirannya sendiri. di setiap karya tangan tersebut ada sebuah pemikiran melebihi apa yang kita lihat dan dengar setiap hari, jadi tolong hargai karya sang penulis." Tina menjelaskan semua penuh dengan kekesalan, karena sejatinya buku yang dia berikan adalah hasil karangannya sendiri.
"Kenapa harus sewot begitu? aku hanya bertanya." Leo menyenggol bahu kanan Tina.
"Kamu harus baca itu sampai habis, lalu bilang padaku apa kekurangan dari novel tersebut." ucap Tina dengan melirik Leo yang tengah fokus pada buku di tangannya.
"Dasar bodoh! buku itu tidak hanya untuk di baca, tapi kamu juga harus paham maksud dan tujuan si penulis menerbitkan karya itu." Kesal Tina.
" Kok kamu jadi marah? toh penulisnya bukan kamu ini."
"Memang aku penulisnya." Cetus Tina dengan membuang nafas.
__ADS_1
"Hahaha, ini karya kamu? astaga, sungguh mengharukan. tapi sayangnya aku tidak percaya." Leo tertawa lepas.
Tina geram dengan tawa Leo yang seolah memberi penilaian bahwa dirinya tidak mungkin berkarya dalam sebuah buku novel.
"Kalau begitu kembalikan buku itu..."
"Biar aku baca dulu siapa pengarangnya, biar aku bisa membangunkan kamu dari tidur panjang nona."
Di lihatlah sampul buku tersebut, tertulis nama Tina beserta tanda pengenal di bawahnya.
" Apa aku sedang bermimpi?." Leo terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Aku berkata benar-kan? kamu saja yang tidak percaya padaku." ucap Tina dengan menunjukkan sikap sombongnya.
"Oh tuhan, kamu hebat sekali. bahkan kamu sanggup ber-karya dengan semua kesibukan kamu sebagai seorang dokter dan juga seorang istri. memang hebat sahabatku ini." Leo menggeleng kepala, ada rasa tidak percaya namun semua yang dia lihat adalah nyata.
"Pekerjaan dan tanggung jawab bukan sebuah halangan untuk menghasilkan sebuah karya." Jelas Tina.
"Iya, deh sekarang aku percaya! nanti aku akan membacanya sampai tamat." ucap Leo.
__ADS_1
"Terserah kamu, aku mau pulang." Tina beranjak pergi dengan melambaikan tangan.
"Baca sampai habis ya..." Teriak Tina dari kejauhan.