HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Setelah pergi dari kediaman Damar, Gilang pun kembali ke rumahnya. Di perjalanan pulang Gilang hanya diam dengan sejuta amarah di wajahnya. Sikapnya mulai terlihat kasar dari pertama masuk mobil sampai mengemudikan mobilnya dengan kencang. Berkali kali Alisya berkata "Mas pelan pelan, bahaya" Tapi, Gilang tidak perduli. Saat ini otaknya di penuri rasa cemburu, lemah lembut serta sifat manja Olive kepada suaminya terpampang jelas di matanya.


Alisya pun tidak ingin membuat suasana menjadi lebih panas lagi, ia memilih berdoa agar mereka berdua selamat dari mara bahaya. PerjaLanan menuju rumah Gilang terbilang sedikit jauh, sampai Alisya merasa mual.


"Mas, mas, saya mau muntah...." Karena sudah tidak tahan lagi, Alisya menepuk pundak suaminya. Gilang pun pecah keseimbangan. "Menyebalkan...." Segera Gilang menepikan mobilnya "Cepat..."


Alisya pun keluar, terdengar suara Alisya muntah. Namun, Gilang masih diam di dalam mobil dengan sesekali menghentakkan jari jemarinya pada stir kemudi. tangan kanannya menyangga kepala dan matanya menatap ponsel yang ada di samping tempat duduknya "Kenapa dia belum menjawab pesan saya..." Karena kesal ia pun memukul stik kemudi dengan sangat keras.


"Sial, apa sih bagusnya cowok kolot macam dia. Di banding saya, dia tidak ada apa apanya" Gilang berceloteh semua yang ia bisa.


"Sudah mas, ayo jalan..." Ucap Alisya. Tanpa pikir panjang, Gilang melaju dengan sedikit mengurangi kecepatan.


"Besok besok, kalau mau naik mobil saya bawa kantung plastik. Biqr tidak merepotkan" ketusnya dengan melihat wajah pucat Alisya dari kaca depan mobil.


"Maaf, mas. Saya mual sebab...."


"Halah, sudahlah tidak usah banyak cakap, bikin pusing saja" Amarah Gilang terbawa sampai pada Alisya.


Meski hati Alisya sakit tapi ia berusaha sabar, Karena ini sudah jalan yang harus di tempuh. Alisya memilih diam.


Setelah beberapa saat, tibalah mereka di rumah Gilang. Rumah yang megah dengan balutan warna putih dan gold, kemewahan terlihat jelas dati luar. Taman yang luas dengan banyaknya buanga bungan, juga pohon pohon kecil tertata rapih. Sesampainya di depan rumah Gilang keluar lebih dulu "Pak, tolong keluarkan barang di belakang" Ucapnya pada seorang yang berdiri di samping mobil Gilang.


"Baik, Tuan." Dengan segera bagasi mobil di buka lalu membawa masuk dua koper milik Alisya.


Alisya pun keluar dari mobil lalu mengikuti suaminya. Terlihat, Alisya kesulitan dengan gaun yang ia kenakan, gaun mewah menjuntai panjang dengan tentunya terasa berat. Karena sedikit susah untuk berjalan, Olive pun sedikit mengangkat bawah gaunnya

__ADS_1


"Berat sekali gaun ini..." Ujarnya sembari kembali berjalan.


"Bibi..."


Dari kejauhan datang seorang wanita paruh baya dengan memakai seragam memasak dan tangan memegang spatula "Iya, Tuan"


Gilang mengernyitkan dahi "Kabiasaan, kalau di panggil pasti lama..."


"Maaf, Tuan. Bibi tadi lagi masak di dapur jadi tidak dengar" jelasnya


Gilang melihat spatula itu "Letakkan dulu spatula itu baru bicara..." Ujarnya kembali


Sang asisten pun tersenyum malu, lupa jika masih membawa alat dapur "Maaf, Tuan. Tadi itu..." Ketika handak menjelaskan, Gilang lebih dulu meraih spatulanya lalu menatap mata sang asisten dengan tajam "Buatkan saya minuman dingin dengan sedikit soda dan jangan lupa banyakin esnya" Segera Gilang menaiki anak tangga.


Alisya menganggukkan kepala lalu kembali mengikuti suaminya "Mari, bi..."


"Awww...." Alisya menubruk badan Gilang dari belakang. Ia tidak memperhatikan langkah suaminya, sampai ia menubruk tubuh kekar dan tinggi tersebut.


"Punya mata tidak, sih?" Kesal Gilang seraya masuk ke dalam kamar.


"Maaf, mas. Saya tidak sengaja"


Gilang menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa melepas sepatunya "Kalau kamu mau mandi, jangan pakai handuk saya. Ambil di lemari sebelah sana..." Di kamar itu kebetulan ada dua lemari, yang satu milik Gilang dan yang satunya di siapkan olehnya untuk istrinya kelak. Meski dulu Gilang membeli ini di atas namakan Olive. Bahkan ada ukiran nama mereka di depan pintu sebelah kaca.


Ya, memang Gilang teropsesi dengan Olive. Sesungguhnya opsesi itu lahir dari rasa bersalah yang berkepanjangan. Sejak kejadian itu, Gilang menjadi gila. Tidak ada satu menit dalam hidupnya tanpa memikirkan Olive. Karirnya hampir di ambang kehancuran, beruntung ada para sahabat yang menjadi pondasi kokoh bagi perusahaannya. Keterpurukakan Gilang memakan waktu panjang sampai, baginya tidak ada hal lain selain mengagumi Olive.

__ADS_1


"Baik, mas." Setelah itu Alisya duduk depan cermin samping tempat tidur, lalu membuka cadar untuk yang pertama kalinya. Melihat wajah sang istri, Gilang terkejut. Kecantikan parasnya, mancung hidungnya, dan bibir yang indah. Saat dirinya di perhatikan oleh suaminya, sepantasnya Alisya memperlihatkan wajahnya tersebut. "Inilah saya, mas." Sembari melebarkan senyum.


Gilang berpaling muka "Hem...." Sembari membelakangi tubuh Alisya.


Alisya merasa kecewa melihat keacuhan Gilang saat itu.


Ya Allah, jika engkau berkehendak pasti semuanya terjadi.


tolong bukakan pintu hati suami saya, berikan saya ruang di hatinya, Amin


Alisya bangkit hendak membuka resleting gaun tersebut namun, tangan kecil itu tidak bisa menggapainya "Mas...." Alisya mendekali suaminya


"Hem..."


"Tolong bantu lepas gaun ini..."


Seketika itu Gilang menoleh lalu duduk "Kamu jangan minta yang macam macam dari saya, karena kamu hanyalah istri di atas kertas."


Bagai di tusuk belati yang tajam, Alisya merasa sangat terhina. Ia hanya ingin meminta bantuan dari sang suami namun, tidak di sangka tanggapan Gilang membuatnya menangis.


"Lho kenapa menangis? saya hanya bicara yang sesuangguhnya" Kesal Gilang seraya bangkit dari kasur "kalau kamu tidak suka, ya sudah"


Alisya menyeka air matanya lalu meraih tangan suaminya "Maaf, saya cengeng. Tapi saya hanya meminta bantuan karena tangan saya tidak bisa menggapainya " Alisya pun menunjukkan bahwa tangannya tidak bisa menggapai reslering tersebut.


"Minta bantuan saja sama bibi, kan bisa" ketusnya.

__ADS_1


Kerana tidak ingin berdebat, Alisya pun turun ke bawah meminta bantuan dari asisten rumah tangga. Sedangkan Gilang duduk di balkon rumahnya. Cahaya mentari sore menyeka wajahnya. Semburat rindu ia titipkan pada angin kala itu. Dengan kedua tangan bersila di balkon, ia mendongak ke atas "Selama kamu masih bisa terlihat olehku maka, kamu adalah milikku"


__ADS_2