
Malam hari, setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Dimas kembali ke rumah.
" Dimana Gea?" Tanya Dimas pada seorang asisten rumah tangga.
" Saya tidak tau, Tuan."
Dimas pun melangkah menuju kamar ibundanya, namun dia melihat ibundanya sudah tertidur pulang di kamar. " lebih baik, aku lihat Gea ke kamarnya saja." Dengan wajah lelah, Dimas menuju Kamar Gea yang terletak di samping tangga.
Tok tok...
" kamu sudah tidur?" Dimas masih terpaku di depan pintu kamar Gea. " Aku masuk ya?" Tidak ada jawaban apa pun dari dalam.
Pasti dia sudah tidur.
Perlahan, Dimas membuka pintu kamar, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ranjang kosong, tanpa adanya Gea disana.
" Loh, dimana dia?" Dimas mencarinya di seluruh ruang kamar, hingga keluar dan mencarinya di penjuru rumah. Namun kembali dirinya tidak menemukan keberadaan Gea.
" Ponselnya juga tidak bisa di hubungi." Merasa khawatir, Dimas keluar dan mencari keberadaan Gea.
" Sudah malam seperti ini, kenapa dia tidak pulang, dimana dia sebenarnya?" Mobil melaju dengan cepat mencari di semua tempat yang biasa di kunjungi Gea.
Namun lagi-lagi, Dimas tidak menemukannya.
Setelah penat mencari, Dimas baru ingat jika ada satu tempat yang belum dia datangi, ialah Apartemen milik keluarganya.
Tak berapa lama, mobil menuju tempat tersebut.
" Kamar atas nama Listya Gea Hendarman, Dimana?"
Setelah mendapat informasi, segera dia menuju life lalu segera mencari kamar dimana kekasihnya berada saat ini.
__ADS_1
Dia menekan tombol di samping pintu, dan tak berapa lama pintu di buka.
" Siapa?" dengan hanya memakai kimono, Gea membuka pintu. " Dimas." Segera Gea kembali ingin menutup pintu.
" Gea, tunggu!" Dimas memasukkan tangannya ke dalam pintu, supaya Gea tidak bisa menutup pintunya. " Kenapa kamu tidak pulang? jelaskan padaku." Dengan kuat, Dimas mendorong pintu itu.
Gea berlari menuju ranjang, lalu bersembunyi di balik selimut. Air mata dan ketenangan yang baru saja di dapat, seakan kembali menancapkan tombak kepedihan.
" Kamu ini kenapa sih?" Dimas menutup pintu, lalu mendekatinya. " Kamu marah, karena aku tidak bisa pulang cepat hari ini?" usapan lembut di bahu kekasihnya. " Maaf, ya sayang. Hari ini kantor banyak kerjaan."
Penjelasan Dimas hanyalah sebuah dongeng tidur yang membuat Gea muak.
" Gea.." Lirihnya sembari membuka selimut yang menutupi wajah Gea.
Setalah selimut berhasil di buka, Gea masih terdiam dan berusaha menyembunyikan air matanya. " Oh, kamu sibuk. Sibuk kerja atau sibuk sama wanita lain."
Kalimat itu membuat Dimas marah, hingga dengan kasarnya Dimas meraih lengan Gea lalu membuatnya duduk berhadapan dengannya. " Kamu meragukan aku?"
" Sudah berapa wanita yang kamu tiduri?"Ucap Gea.
Plak..
Satu tamparan keras Dimas layangkan di pipi Kanan Gea. " Jangan asal bicara kamu." Teriak Dimas.
" Pukul aku sampai kamu puas. Karena setelah ini, aku akan pergi jauh dari kehidupan kamu." Dengan kembali menyodorkan pipi kirinya. " Tampar, ayo tampar."
" Jadi kamu ingin putus dariku? Oke, akan ku kabulkan." Dimas beranjak dari ranjang.
" Ingat! jangan pernah menyesal."
" Lebih baik aku pergi sebelum aku menghancurkan hubungan kalian."
__ADS_1
Langkah Dimas terhenti...
" Maksud kamu?"
Gea mendekati Dimas dengan melepas sebuah cincin di jari manisnya. " Aku tidak ingin menjadi penghalang untuk kehidupan kamu. Sekarang kamu bisa bersama dia dan anak kalian." Ucap Gea sembari memberikan cincin yang Dimas berikan sebagai tanda ikatan hubungan mereka kala itu.
" Jadi, kamu sudah tau tentang itu?" Dimas berusaha meraih lengan Gea, namun Dia menghindar lalu membelakangi Dimas." Pergi dari sini."
Dimas segera memeluk Gea dari belakang. Dia sangat merasa bersalah atas kebohongan yang berusaha dia sembunyikan, namun pada akhirnya kebohongan tersebut membuatnya dalam posisi seperti sekarang ini.
" Gea, tolong maafkan aku, Jangan pernah pergi dariku."
" Maaf, aku tidak bisa." Gea pun melepaskan tangan Dimas." Pergilah. Aku ingin sendiri."
Melihat Gea seperti itu, Dimas segera meraih tangannya lalu menjatuhkan tubuh Gea di atas ranjang.
" Dimas, lepas."
Dimas menatap wajah kekasihnya dengan perasaan bersalah. Apalagi dengan tanda merah di pipi kanan Gea, hal itu membuat Dimas semakin merasa bersalah.
Cup...
Kecupan manis di berikan olehnya di pipi kanan Gea. " Jangan pernah berpikir untuk pergi dari diriku."
" Pergi kamu." Dengan kasar, Gea mendorong Dimas hingga terjatuh ke lantai.
Segera dia menghubungi pihak keamanan untuk segera membereskan Dimas...
" Pak, tolong ke kamar 207. Ada seseorang yang mengganggu saya."
" Gea...tolong dengar penjelasan ku dulu." Dengan berusaha bangun, Dimas memohon ampun pada kekasihnya atas datangnya kembali masa lalunya. Namun belum sempat Dimas memberi penjelasan, datanglah dua lelaki dengan berwajah garang, meraih kedua lengannya lalu membawanya keluar dari kamar Gea.
__ADS_1