HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Setelah Gilang selesai meeting, segera ia menuju ke rumah Damar. Sesampainya di depan rumah, ia melihat mobil Damar baru saja keluar dari gerbang rumahnya.


"Sepertinya Olive tidak ikut dengannya" Sekilas Gilangvmelihat kaca mobil terbuka dan hanya ada Damar sendiri.


"Aku yakin hubungan mereka tidak akan bertahan lama lagi...."Ucap Gilang sambil menyunggingkan senyum. Harapan terbesar dalam hidupnya adalah bisa memiliki Olive seutuhnya. Akan tetapi Gilang terlupa jika sebuah hubungan tidak akan behagia dengan cara mencuri pasangan orang lain.


Gilang mencoba menelepon seseorang, dan seseorang itu adalah Olive. Berulang kali menghubungi nomor Olive, tapi nomornya tidak bisa di hubungi.


"Lebih baik saya coba tanya saja" Gilang pun turun dari mobil kemudian berjalan menuju rumah mewah dengan pagar hitam tersebut, ia sengaja berhenti di sebrang jalan supaya bisa memantau kediaman Damar.


"Permisi..." Gilang mengintip dari sela sela pagar. Datanglah seorang pria paruh baya, ia berlari kecil menuju arah pagar.


Tidak lama setelah itu datanglah penjaga gerbang sambil berlari kecil kemudian membuka pintu pagar "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


Gilang melihat arah pintu rumah berharap melihat Olive "Dokter Damarnya ada?"


"Tuan Damar baru saja pergi belum lama, Tuan." Ucap Penjaga gerbang.


"Oh.....kalau istri Dakter Damar ada?"


"Kebetulan Non Olive baru saja pulang, saya panggilkan sebentar anda bisa menunggu di ruang tamu" Segera mereka masuk ke dalam rumah. Gilang duduk di ruang tamu sedangkan pak penjaga menaiki anak tangga menuju kamar tuannya.


tok tok..


"Non, di bawah ada tamu tuan Damar yang ingin bertemu non Olive" Ucapnya dari balik pintu.


Kala itu Olive baru saja keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk di kepalanya.

__ADS_1


"Iya, sebentar" Tak berapa lama Olive membuka pintu, di lihatnya pak penjaga gerbang berdiri tegak sambil menundukkan kepala.


"Siapa pak?"


"Saya kurang tau, Non. Mungkin teman Tuan Damar atau temannya saya kurang tau" Jelas pak penjaga.


"Baik. Tolong suruh nunggu sebentar lagi ya"


Pak penjaga pun mengangguk lalu pergi.


"Siapa sih jam segini nyari mas Damar..." Rasa penasaran itu mendorongnya segera melihat sosok tamu tersebut.


"Kamu...." Betapa terkejutnya Olive saat melihat sosok Gilang tengah duduk di sofa ruang tamu, melipat kaki sambil bermain ponsel. Segera Gilang bangkit, lalu hendak mendekati Olive.


"Stop..." Olive menghentikan Gilang sambil memundurkan langkah "Jangan mendekat atau saya akan teriak" Ancam Olive.


Olive merasa ketakutan saat langkah kaki Gilang semakin mendekat, sedangkan langkahnya terhenti karena terbentur tembok.


"Jangam mendekat...." Mengacungkan sebuah guci kecil yang ada di atas meja dekat tempat Olive berdiri saat ini.


Pyar...


Di batinglah guci itu sampai ujung guci meruncing dan sebagian hancur berceceran.


"Olive, jangan main main buang guci itu nanti kamu bisa terluka" Gilang merasa panik kala melihat bagian guci yang runcing hampir mengenai pergelangan tangannya.


"Lebih baik saya mati daripada harus ikut sama kamu..."

__ADS_1


Gilang mencari celah supaya bisa merebut guci di tangan Olive.


"Oke,oke saya tidak akan memaksa kamu, tapi buang dulu gucinya" Sambil melangkah kaki perlahan, kemudian dengan cepat meraih guci tersebut. Tanpa sengaja Gilang memegang bagian guci yang runcing sampai tangannya berdarah.


"Lepaskan...." Olive berusaha meraih gucinya kembali, meski tidak berhasil.


"Tidak, kamu tidak boleh melukai diri kamu sendiri lebih baik saya yang terluka" Banyaknya darah mengalir di tangan Gilang membuat Olive mematung.


"Aku tidak perduli lagi dengan keselamatanku karena hidup saja sudah enggan. Kamu adalah penyebabnya" Tatapan kebencian tersorot jelas di mata Olive.


Gilang melepaa guci yang ia genggam seraya menundukkan kepala, hatinya benar benar hancur bagai serpihan guci yang di lihatnya.


"Pergi kamu dari sini" Usir Olive dengam nada tinggi.


"Tapi saya mau bicara sebentar saja..."


"Saya bilang KELUAR" teriak Olive sampai membuat Gilang terkejut kerena baru pertama kali melihat wanita yang ia cintai murka sampai seperti itu.


"Cepat, Keluar...." Tanpa sadar Olive menginjak serpihan guci hingga membuat kakinya berdarah.


"Olive..." Gilang hendak mendekatinya tapi Olive segera mundur lagi sampai serpihan itu masih menancap di kaki.


"Kamu pergi atau saya akan..." Meraih serpihan guci lalu menggores lengannya.


"Jangan.....oke, oke saya keluar tapi jangan lukai diri kamu sendiri" Segera Gipang keluar dari rumah Damar dengan tangan berdarah.


Kaki Olive melemah, sampai perlahan duduk bersandar di tembok "Pergilah kamu sejauh mungkin, dengan jauhnya kamu tidak akan membuatku tersiksa lagi" Air mata Olive keluar deras.

__ADS_1


Ia tidak perduli dengan pergelangan tangan yang berdarah juga kakinya. Yang paling ia rasakan sakit di hati bukan lagi sakit di luar. Darah terus mengalir keluar sampai Olive kehilangan kesadaran.


__ADS_2