HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Sesampainya di depan Villa. Damar mengetuk pintu, namun tidak ada orang yang membukanya. Damar melihat jam di tangannya "Astaga, pasti mereka sudah pada tidur" Damar clingak clinguk mengintip jendela bertirai putih. Kondisi ruangan sangat gelap jadi ia tidak bisa melihat ada atau tidaknya orang di dalam. Setelah menunggu lima sampai sepuluh menit, Damar duduk di kursi teras. Badannya terasa sangat lelah, di tampah perjalanan yang jauh dan medan yang mengerikan. Jalan berkelok nan panjang membuatnya pusing. Damar menyandarkan kepala di bahu kursi sambil melepaskan lelah.


"Astaga, masa iya saya harus tidur di sini..." Sembari melihat kursi yang ia duduki. Damar melihat sekitar villa nampak gelap dengan sinar jingga dari lampu taman. Gemericik air mancur mengusik pandangannya "Kenapa harus di kasih kolam kaya gitu. Menambah aura mistis saja" Villa itu sangatlah luas, di depannya terdapat sebuah taman bermain. Taman itu dulunya tempat bermain Gilang dan Amora. Ayunan yang terhempas kedepan belakang kala tertimpa angin membuat Damar merinding. Desir angin malam menyentuh kulit membuat Damar menggosokkan kedua tangannya.


"Dingin sekali..." Badannya menggigil. Sebenarnya ia sudah memakai jaket kulit tebal tapi hawa dingin itu menelusup masuk.


Uhuk uhuk...


Dari kejauhan terdengar suara orang batuk, segera Damar mencari asal suara tersebut. Tak berapa lama Damar temukan asal suara itu, di samping villa terdapat sebuah ruangan kecil dengan lampu masih menyala. Segera Damar mengetuk pintu "Permisi, ada orang di dalam?" Sampai beberapa kali Damar mengetuk, keluarlah seorang wanita setengah baya.


"Tuan siapa? ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Damar tersenyum "Saya mau masuk, bu. Tapi tidak ada yang bukain pintu. Saya Damar, suami Olivia" Jelas Damar.


Si wanita ini sedikit berpikir, apakah iya laki laki ini suami wanita yang ada di dalam. Serau dia wanita itu adalah pasangan Tuannya. begitu yang dia tau.


"Bu..."


Lamunan wanita paruh baya itu buyar di buatnya.


"Oh, iya. Mari saya bukakan pintu..." Tanpa pikir panjang si pengurus villa membukakan pintu. "Silahkan masuk, Tuan. Di sebelah sana ada kamar Tuan Gilang, dan sebelahnya kamar non Olive" Tuturnya sambil menunjuk kamar lantai atas. Ibu pengurus villa pun berkali kali terbatuk sampai Damar memberi sebuah resep obat untuk ibu itu "Tebus obat ini di apotek terdekat, bu. Insya allah batuk ibu bisa sembuh" Sambil menyodorkan lembaran kertas.


Damar mengeluarakan ponselnya "Saya seorang Dokter" menunjukkan foto di ponsel miliknya.

__ADS_1


Seketika Wanita itu menutup mulutnya "Maaf, Dok. Saya tidak tau kalau.."


"Tidak masalah. Ibu banyak harus banyak minum air putih, istirahat cukup dan minum obat teratur." Tutur Damar.


"Oh, iya terima kasih, Dokter. Saya akan menebusnya esok hari" jawab wanita itu.


"Sama sama.."


Setelah meletakkan kopernya dan si penjaga villa pergi, Damar menaiki anak tangga. "Pasti dia akan terkejut melihat saya datang ke sini" Senyumnya mengembang kala membayangkan reaksi sang istri nantinya.


"Kamar Olive yang ini apa yang ini ya, tadi lupa tidak tanya yang kanan apa yang kiri" Damar pun memasuki salah satu kamar. Di kamar itu Danar tidak melihat siapa pun, lalu ia menuju kamar sarunya.

__ADS_1


Kala ia membuka pintu, betapa terkejutnya dia atas apa yang di lihat. Sontak dia kembali menutup pintu. "Astaga, apa yang saya lihat ini benar..." Dengan rasa sakit yang begitu dalam, Damar bersandar di samping pintu. Hatinya terluka, air matanya pun tidak dapat di bendung lagi.


Damar melihat istrinya dalam pelukan lelaki lain. Yang lebih menyakitkan lagi kala melihat keduanua tak berbusana di balik selimut. Damar merasa hancur berkeping keping. Ia tak kuasa menahannya. Segera Damar menuruni anak tangga. Ia duduk termenung di sofa hingga waktu yang lama. Bahkan ia tidak bisa tidur sedikit pun mengingat penghianatan sang istri kepadanya. Sengaja Damar mematikan lampu ruang tamu supaya tidak ada yang tau jika dia ada di sana.


__ADS_2