
" Dimas, Tolong Jaga perasaan malaikat kecil mu." Berusaha keras tidak menangis nyatanya sulit. Hanya ada satu pilihan pergi dari sana.
" Lepas..." Sengaja Gea menginjak kaki Dimas yang terbalut perban, karena dengan cara seperti itu dirinya bisa melepaskan diri.
" Aw...." Seketika Dimas menggelinjang kesakitan. " Gea...jangan pergi." Dengan tertatih Dimas berlari mengejarnya. Bersusah payah berlari untuk menghentikan Kepergian Gea, Tapi semua sia-sia. Kesakitan tengah mengguncang jiwanya sehingga tidak ada waktu baginya untuk tinggal lebih lama disana.
" Ayah..." Gilang melihatnya tertatih dan terjatuh hingga membuat anak itu berlari dan membantu Dimas berdiri.
" Kenapa Ayah memeluknya? apa dia wanita jahat? jika benar, Gilang akan menggigitnya sampai dia menangis." Celoteh bocah manis nan menggemaskan itu. Kepolosannya membuat Dimas segera mengusap air mata. Tak ingin terlihat lemah di depan putranya segera Dimas melebarkan senyum sembari mengusap kepala anak tersebut.
" Gilang tidak boleh seperti itu. Tidak baik, Nak."
" Mas, Dimas. Biar aku bantu..." Lily menjulurkan tangan.
" Biar Gilang membantu ku." Berusaha menghindari kontak mata dari mantan kekasihnya mungkin akan lebih baik.
Meski benar Gilang adalah darah dagingnya tapi Lily masih orang lain baginya.
__ADS_1
Dia mengacuhkan aku hanya karena wanita itu? lihat saja sebentar lagi...
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Pundak mungil Gilang berusaha menopang tangan kiri Dimas...
" Sayang, ada apa dengan kakimu? kenapa kamu sampai seperti ini." Fita mendekati putranya lalu membantunya duduk.
" Hanya luka kecil, Ma. Besok pasti sembuh."
Fita melihat tatapan mata Dimas begitu sayu, tak bersemangat. Tatapan nanar, namun kosong. Hembusan nafasnya terdengar berat. Seberat kisah cintanya.
" Ayah mau kemana?"
" Gilang, Sayang. Untuk sementara waktu jangan ganggu Ayah dulu." Segera Dimas meminta asisten Rumah tangga membawanya menaiki anak tangga.
Tak berapa lama sampailah di depan kamar...
" Bibi, jika nanti Gea datang tolong beri tau saya."
__ADS_1
" Baik, Tuan."
Segera Dimas masuk, duduk dengan meluruskan kakinya di atas kasur. Dimas mencari keberadaan ponselnya. Segera menghubungi Gea. Berulang kali mengirim pesan singkat, bahkan hampir dua puluh kali panggilan, tidak satu pun terbalas.
" Bagaimana caranya menghadapi kehidupan ini jika Dia memilih menyerah lalu pergi?Sekuat hatinya berjuang memperbaiki diri, sebanyak itu pula ujian dariku." Dengan mengacak rambut lalu membaringkan diri.
Di sisi lain Gea tengah merasakan kelukaan teramat dalam. Rasa itu membawanya menuju tempat Psikolog. Di Rumah Fee di luapkan lah semua kesakitan itu, dengan menjadi pendengar tanpa menyalahkan Fee mampu sedikit mengurangi beban kehidupan Gea. " Sekarang coba relakan sesuatu yang kamu anggap bukan milik mu lagi. Tapi jangan lukai diri dan juga orang lain. Kesalahan masa lalu setiap orang pernah mengalami. Fokus dengan perbaikan diri saja, Paling tidak kamu bisa tinggal sementara waktu di rumah ku supaya kamu bisa tenang sementara waktu."
" Terima kasih tawarannya. Tapi saya tidak mau jadi pengecut hanya karena masalah percintaan. Tanggung jawab perusahaan ada di bahu saya. Mungkin saya akan meminta Ayah untuk memindahkan kuasa kepada Abang saya. Jika terus menerus menetap di sini, akan sulit untuk merelakan dia."
" Baiklah, kalau begitu. Oh iya, kita makan dulu yuk pasti kamu belum makan.."
" Tidak usah repot kak. Saya sudah makan. Kalau begitu saya pamit dulu ya.." Segera Gea bangkit.
" Ingat! jika butuh bantuan hubungi aku." Sembari mengantar Gea sampai di depan pintu. " Jika berjuang melupakan adalah pilihan, maka kuatlah."
Gea tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia pun pergi.
__ADS_1