HASRAT

HASRAT
Milik siapa


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, sikap Damar berubah menjadi sedingin es. Dia tidak lagi perhatian atau hanya sekedar ngobrol berdu saja sangatlah jarang. Sejak kejadian itu dirinya kembali mengingat betapa sakitnya kala melihat wanita yang di cintai tengah bercinta dengan laki laki lain. Setiap kali melihat senyum di bibir Olive dirinya merasa sangat tersakiti. Kini hari demi hari Damar sering menghabiskan waktu di rumah sakit, hampir setiap hari ia menyibukkan diri di sana. Hari lebir pun ia gunakan untuk bekerja. Di sisi lain ada Gilang yang rajin mengirim makanan dari, rujak, martabak manis, sup buah, dan makanan lainnya. Pernah pula dia mengunjungi rumah Damar diam diam hanya ingin melihat Olive. Namun, Olive menolak menemuinya. Meski begitu Gilang tak henti henti memikirkan cara supaya bisa bertemu dengan Olive. Sangking seringnya dia berjuangan dan kerapnya Olive di abaikan sang suami, membuat Olive perlahan luluh. Awalnya Olive tidak pernah mau makan apa pun yang Gilang kirimkan padanya, tapi lama kelamaan ia mau memakannya. Mungkin karena dia ingin makan atau karena lapar. Entahlah, Olive juga tidak bisa mengendalikan dirinya. Setiap dia ingin makan sesuatu di saat itu juga Damar tidak di sampingnga. Akhirnya dia pun memutuskan pesan online. Terkadang pula Olive keluar sendiri membeli makanan yang di inginkan. Setiap hari tidak ada kata tidak bagi Gilang untuk mengawasi gerak gerik Olive. Puluhan bahkan ratusan pesan singkat ia kirimkan pada Olive ,tapi tidak juga di respon olehnya, hanya di baca tanpa di balas. Gilang pun tidak pantang menyerah, dia selalu memantau kondisi Olive sampai sampai dia meminta tetangga sebelah rumah Olive untuk selalu mengintai pergerakan Olive dari rumahnya.


"Damar? mau kemana dia" Tanpa di sengaja Gilang melihat Damar masuk ke dalam mobilnya. Melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tentu membuat Gilang hawatir sampai ia mengekor di belakang mobil Damar.


Setelah beberapa menit kemudian sampailah mereka di sebuah depan TPU di pinggir kota. Setelah Damar keluar dari mobil membawa seikat bunga di tangannya "Dia mau kemana" Turunlah Gilang. Perlahan ia mengikuti langkah Damar sampai Gilang terkejut melihat Damar berjongkok di sebuah makan baru.


"Bukankah itu makan Fanya"


Ya, Fanya telah meninggal dunia. Setelah beberapa hari pasca operasi, Fanya menghembuskan nafas terakhirnya. Dari saat itulah Damar takut gagal dalam menangani pasien. Padahal Fanya bukan satu satunya pasien yang tidak bisa tertolong, mungkin dia juga merasa bersalah karena kematian Fanya terjadi sebab masalah yang di ciptakan Fanya terhadap dirinya.


Di sisi lain ada Olive yang diam diam juga mengintai tidak jauh dari tempat Gilang berada. Tapi, dia tidak melihat diri Gilang sebab Gilang bersembunyi di tengah tengah pohon.


"Sepenting itukah Fanya dalam kehidupanmu, mas" Tak terasa air mata mulai menggenang di ujung netranya.


Karena tak kuasa menahan air mata, Olive pun hendak pergi dari persembunyiannya. Sialnya dia malah terpeleset sebab jalanan licin "Aw...."


Suara itu mengejutkan Damar dan juga Gilang "Olive...." Ucap Damar sembari bangkit menghampirinya. Sedangkan Gilang hanya bisa memundurkan langkah supaya dia tidak ketahuan sudah menguntit Damar.


Belum sempat Damar menghampirinya Olive lebih dulu bangkit lalu berjalan kembali menuju parkiran mobil.


"Olive tunggu...." Teriak Damar kala mobil Olive hampir berjalan. Damar juga bebrapa kali memanggilnya kembali namun Olive tidak menghantikan mobil.


"Ini kata kamu kerja, mas(sambil geleng kepala) aku hanya minta kamu temani ke dokter tapi kamu menolak dengan alasan kerja, kerja, dan kerja. Tapi buktinya kamu mrmbohongiku" Rasa kecewa dalam diri Olive membuat amarahnya meluap sampai mobil mrlaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Di belakang sana sudah ada Damar yang mengejar laju kendaraan Olive "Astaga, apa yang telah saya lakukan? pasti dia akan sangat kecewa sama saya" Damar terus melihat mobil Olive dari kejauhan sampai akhirnya ada krndaraan lain menghadang di depan mobilnya sampai dia kehilangan jejak Olive.


"Sial...." Memukul stir kemudi saat mobil yang di kendarai Olive benar benar menghilang dari pandangannya.


"Dengan begini Olive akan sadar jika satu satu laki laki yang tulus mencintai dia adalah aku bukan laki laki pengecut itu" Gilang merasa senang melihat kejadian di depan matanya itu.


Drt....


Ponsel Gilang bergetar panjang tanda sebuah panggilan masuk. Dia pun melihat siapa gerangan orang yang meneleponnya itu, ternyata itu adalah ibundanya "Ya ma ada apa?" Pungkasnya.


Ckit...


tiba tiba Gilang mengerem mobilnya "Saya akan kesana sekarang juga" Segera Gilang menuju tempat yang telah di beritahu Gea.


"Astaga, kenapa berantakan seperti ini" Melihat dekeliling ruangan di penuhi dengan baju berserakan dan barang barang lainnya juga ada di lantai.


"Kita kerampokan, mas" Lirih Alisya.


"Kerampokan, bagaimana bisa? kamu itu bagaimana sih bisa jaga rumah atau tidak? di rumah ini ada banyak penjaga kenapa sampai kemalingan, ngapain saja kamu seharian?"


"Maaf, mas tadi saya sedang keluar sebentar sama Tuti terus lupa kunci pintu. Pak satpam tadi ijin mau pulang karena istrinya sakit keras" Jelasnya sambil menguspa sisa air mata.


"Jadi kamu ijinkan dia pulang saat saya tidak di rumah?" Dengan tatapan jahatnya Gilang memandang mata Alisya.

__ADS_1


Alisya hanya mengangguk.


"Yang bayar satpam di sini itu saya, kenapa kamu tidak ijin sama saya terlebih dahulu. Jadinya seperti ini kan?"Bentak Gilang.


"Cukup, Gilang! harusnya kamu menanyakan bagaimana kondisi istri dan anak dalam kandungannya bukan malah memakinya sesuka hati kamu. Mama tidak terima kamu menyakiti menantu mama terus menerus seperti itu" Gea sudah tidak tahan lagi melihat tingkah putranya yang membuat geram setiap harinya.


"Ha....Anak? maksud mama dia hamil" dengan wajah terkrjut Gilang melihat sang istri lalu melihat perutnya yang di lihatnya tidak menunjukkan adanya kehamilan, Atau karena baju syari yang di kenakan Alisya membuat Gilang tidak mengetahuinya. Dan setelah kejadian pada malam di mana mereka bercinta waktu itu, Gilang sudah tidak lagi menyentuhnya sama sekali jadi wajar jika dia tidak tau menahu tentang kehamilan Alisya.


"Bagus sekali kamu Gilang (Suara tepuk tangan dadi belakangnya) istri hamil tapi kamu tidak tau?"Seketika tatapan mata Dimas menjadi sorot kemurkaan. Dimas yang baru saja pulang dari rumah Revaldi langsung menuju ke runah putranya karena mendapat kabar dari sang istri bahwa rumah Gilang kemalingan.


Gilang membisu bagai patung hidup. Matanya terus menatap ke arah Alisya namun Alisya tidak berani menatap mata suaminya. Bukan niat hati menyembunyikan kehamilannya ini tapi di saat ia ingin memberitahu semua kebenarannya, di situlah dia juga menerima sebuah kepahitan di mana Olive tengah mengandung dan Gilang mengakui anak itu sebagai darah dagingnya.


"Laki laki macam apa kamu ini...." Dimas geram hingga langsung mendekatinya kemudian mencengkeram leher Gilang.


"Ayah, tolong jangan marah sama Gilang, dia tidak bersalah dalam hal ini"Ucap Alisya membela sang suami.


"Orang seperti dia masih kamu bela? dia itu jauh lebih buruk dari seekor binatang" Mendorong tubuh Gilang sampai dirinya hampir terjatuh.


"Mas...." Alisya hendak meraih tangan Gilang namun Gea menghentikannya lalu menarik tangannya "Untuk sementara waktu kamu jangan tinggal di sini, biar mama jagain kamu dan calon cucu mama" Sangking kesalnya Gea membawa pergi Alisya dari rumah itu. Lagi lagi Gilang hanya bisa diam tanpa bersua. Dia masih tidak menyangka bahwa Alisya mengandung darah dagingnya.


Brak...


Dimas menendang pintu kamar Gilang kala ia hendak keluar dari kamarnya "Saya menyesal telah membesarkan kamu"

__ADS_1


__ADS_2