HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Rasa tidak di hargai membuat Gilang menjadi seorang jahat, sampai ia melakukan hal buruk demi mendapatkan sesuatu yang bukan miliknya. Dengan cepat Gilang mencari sosok wanita di video yang tersebar luas di media. Tidak butuh waktu lama Gilang pun menemukan keberadaan wanita tersebut.


"Ada apa kamu mengajak saya bertemu di sini" Di sebuah resto ternama kedua orang asing saling bertemu.


Gilang melipat kedua tangan sambil bersandar di kursi resto tersebut "Saya mau kamu bantu saya..."


Fanya mengernyit, melihat wajah laki laki asing di depannya. Mereka belum saling kenal tapi sudah berani minta bantuan "Siapa kamu berani minta bantuan sama saya, enak saja. Di kiranya saya ini pembantu kamu" Fanya memukul meja di depannya sampai orang di sekeliling mereka menatap dengan tanda tanya.


Dengan santainya Gilang mengulas senyum "Jangan marah dulu, turunkan nada bicara kamu." Mencondongkan badan, melihat wajah cantik Fanya lebih dekat lagi "Lebih tepatnya kita saling menguntungkan..." Membisikkan sesuatu di telinga Fanya, dan Setelah itu senyum di bibir Fanya mengembang.


"Oke....saya setuju kerja sama dengan anda." Sembari meraih jus di meja lalu mengaduknya perlahan. Fanya sangat bahagia bisa bertemu dengan Gilang, kerana mereka bisa kerja sama dengan baik.


Kedua manusia ini lantas menyusun rencana unuk memisahkan Damar dan Olive demi memenuhi hasrat terbesar dalam hidup mereka. Memiliki yang telah lama di tinggalkan, dan kembali ingin merajut sebuah kain yang koyak. Tapi, mereka lupa di balik kuatnya tekat kuat itu terdapat pondasi kuat(Pernikahan) yang tidak mudah di tembus begitu saja.


Drttttt...


Di tengah perbincangan mereka ponsel Gilang bergetar, di lihatnya nama Alisya.


"Siapa? istrinya ya" Tany Fanya sedikit menyindir. Di lihat dari wajah kusut Gilang kala melihat nama di layar ponselnya sudah jelas wanita itu tidak ia inginkan.


"Bukan, dia pembantu saya. Jangan bahas dia lebih baik kita pesan makan dulu, sayang sekali datang ke resto terkenal tapi tidak pesan makanan." Di raihlah daftar menu.


Di rumah Alisya sibuk menghubungi Gilang karena cemas dari pagi sampai malam suaminya itu tidak kunjung pulang. Bahkan Gilang tidak mengantar kepulangan mami dan Ayahnya ke bandara. Kedua orang tua Gilang merasa kesal sampai mereka memuruskan untuk meninggalkan Gilang, tidak hanya itu mereka juga sangat malu dengan Alisya karena sikap Gilang yang kurang baik terhadap istrinya tersebut.


"Mas, kamu ini ada di mana" Terlihat Alsisya mondar mandir di depan pintu sembari terus berusaha menghubungi suaminya.


Seringnya Alisya menelepon sampai Gilang mematikan ponselnya.


Alisya dengan sabar terus menunggu di depan rumah sampai jam menunjukkan pukul 21:30.


"Semoga mas Gilang dalam linsungan Tuhan." Sejak pagi Alisya merasa gelisah.


Tin, tin...


Terlihat mobil Gilang memasuki pekarangan rumah. Alisya menyambutnya dengan senyum, meski hatinya menahan sakit.

__ADS_1


"Ngapain kamu di luar?" Tanya Gilang saat turun dari mobil.


Alisya mendekati Gilang lalu meraih tangan kanan suaminya "Sudah kewajiban saya menunggu mas pulang, karena seorang istri tidak akan tenang hatinya kalau belum memastikan keslamatan suaminya" di ciumlah tangan Gilang.


"Jadi kamu berharap saya celaka di luar sana?" Lagi lagi Gilang mencari pekara.


"°Tidak, bukan seperti itu, mas. Saya hanya...."


"Minggir....nggak usah di jelasin saya sidah tau" Gilang pun meninggalkan Alisya.


Di balik cadar hitam yang di kenakan ada air mata yang tertahan, di balik ketabahan ada hati yang rapuh dengan perkataan, di balik kokohnya kaki terlihat luka tak tertahankan.


"Mas, tunggu dulu" Alisya berlarian kecil mengikuti langkah kaki suaminya, Gilang tidak menghiraukan malah ia segera mempercepat langkah lalu masuk ke dalam kamar.


"Mami sama Ayah sudah pergi"


"Apa?" Gilang berbalil arah seketika "Kenapa kamu tidak memberitahu saya, mereka itu orang tua saya"


Di sentuhlah lengan sang suami "Sudah, mas. Berulang kali saya kirim pesan singkat juga berusaha menelepon mas, tapi mas tidak mau meresponnya." Tutur Alisya lembut, pandangan mata keduanya bertemu sampai mereka terdiam sejenak.


"Alasan saja..."Melepas tangan Alisya lalu berbalik menuju lemari pakaian "Kalau mereka sudah tidak betah tinggal di sini ya sudah mau gimana lagi..." Mengambil pakain kemudian melepas kancing kemejanya.


"Saya bisa sendiri kok" Setelah dasi terlepas, Gilang menolak tangan Alisya membuka kancing bajunya.


"Baiklah saya akan siapkan makan malam untuk mas dulu" Alisya hendak bergeges pergi namun Gilang meraih tangannya.


Jantung Alisya berdetak kencang, senyumnya melebar. Kali pertama Gilang menyentuh dirinya "Ada apa mas?" Alisya pun berbalik menatap wajah suaminya.


Melihat ada kecanggungan di mata Alisya, Gilang pun segera melepas tangannya "Tidak usah repot, tadi saya sudah makan." Segera Gilang merebahkan diri ke atas ranjang.


"Kalau begitu saya buatkan teh saja, ya"


"Nggak usah berisik bisa nggak, sih. Saya capek seharian kerja mau istirahat" Ketus Gilang.


Dengan berat hati Alisya pun keluar kamar, sengaja ia belum makan demi menunggu sang suami "Kapan saya bisa duduk berdua di ruang makan dengan kamu mas, saya juga ingin melayani kamu layaknya istri" Lirihnya sambil menuruni anak tangga.

__ADS_1


Alisya menuju dapur, menyalakan kompor hendak memanaskan sayur.


"Non..." Tiba tiba Tuti datang dengan membawa gelas kosong.


"Astaga, kamu mengejutkan saya, bi"


"Maaf, Non" Tuti meletakkan gelas kemudian mendekati Alisya "Non belum makan" Melihat sayur masih utuh, membuat Tuti yakin jika Alisya belum makan.


"Belum, Bi. Tadinya mau nungguin mas Gilang, tapi dia sudah makan di luar" Dari nada suara Alisya terdengar kecewa. Tuti juga tau bagaimana tukusnya Alisya ingin melayani suaminya, sampai seharian dia rela berbrlanja ke pasar sendiri demi memulih bahan dan kualitas ayam dan sayur yang bagus. Tidak hanya berbelanja, Alisya pun memasak dengan sepenuh hati, ia membuatkan makanan kesukaan sang suami, Ayah pedas manis dan sayur sehat lainnya.


"Bagaimana kalau bibi temani saya makan" Alisya memohon sambil memegang kedua tangan Tuti.


"Tapi, saya sudah makan, non. Saya temani duduk saja ya"


"Ayolah Bi makan sedikit saja"


"Baiklah, tapi sedikit saja ya non"


Alisya mengangguk sambil melebarkan senyum.


Semoga dengan ini saya bisa melihat wajah non Alisya tanpa cadar. Dari dalam saja cantik luar biasa apa lagi luarnya, pasti paras bidadari


"Biar Tuti yang siapakan Non." Segera Tuti menyiapkan makanan di meja makan.


Benar saja Alisya membuka cadarnya. Tuti snagat takjub melihat kecantikan wajah Alisya sampai mulutnya mengangga.


"Kenapa, Bi?" Tanya Alisya kala melihat wajah Tuti.


Ucapan Alisya membuyarkan lamunan Tuti "Subhanallah....Non Alisya cantik sekali"


"Kodrat semua wanita itu cantik, Bi. Hanya bagaimana seseorang itu menilainya" Tutur Alisya lembut sembari mengulas senyum "Ayo, di makan Bi keburu dingin"


Dengan perut kenyang, Tuti pun terpaksa makan demi menemani sang majikan.


"Beruntung sekali Tuan Gilang bisa menikah dengan Non Alisya, orangnya sabar, baik, cantik lagi. Meski suami pulang malam masih saja mau menunggu hingga larut malam, non Alisya juga tidak akan makan apa pun sebelum Tuan Gilang makan. Kalau saya sih lapar ya makan non ngapain nunggu suami" Celetuk Tuti.

__ADS_1


Tanpa di sadari ada sosok Gilang berdiri di samping pintu Ruang makan. Tadinya ia hendak memanggil Alisya karena ada telepon dari orang tuanya.


"Astaga, dia sampai rela kelaparan demi saya"


__ADS_2