
"Kalian semua tinggalkan kami berdua, dan tolong bilang kepada wanita itu untuk tidak masuk kesini!"
Semua anggota medis menuruti perintahnya...
"Apa yang kamu pikirkan hingga membuatmu seperti ini...?" Tanya Nathan heran.
"Aku tidak sedang memikirkan apapun! hanya sebuah musibah kecil...." Leo berusaha menutupi rasa sakit dalam dirinya.
"Jangan menutupi kepahitan dengan senyuman palsu kamu itu, aku sudah mengenal dirimu sejak kecil, jadi sehebat apapun kamu menyembunyikan luka, maka aku akan mengetahuinya!." cetus Nathan.
Leo merasa saat ini dirinya bagaikan budak cinta yang hidup dalam bayangan masa lalu.
kehidupan Leo hancur berantakan, dia menjadi seorang yang lemah atas cinta.
"Jujur rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit saat dia meninggalkan diriku! saat dia memilih untuk bersama dengan yang lain, oke aku terima. tapi saat dia pergi jauh, maka hati ini seolah meronta. walaupun disini aku tidak bisa memiliki dia, namun setidaknya aku masih bisa melihat senyum dan tawanya. tapi saat ini dia benar-benar meninggalkan diriku dan hidupku...." Leo tak kuasa menahan air mata kesedihan.
Nathan merasa sangat sedih melihat sahabatnya melupakan luka yang begitu mendalam...
dia mengenal Leo adalah sosok lelaki yang tangguh, akan tetapi tidak untuk sekarang.
__ADS_1
saat ini hal yang bisa di lakukan oleh Nathan adalah membuat Leo kembali menemukan cinta baru untuk menyembuhkan luka dalam hatinya.
"Sudahlah...jangan lagi kamu memikirkan hal yang sudah lalu. masih ada wanita yang siap menerima cinta kamu, dan sepertinya wanita itu menyukai kamu." ucap Nathan.
"Wanita? siapa?."
"Wanita yang bersedia menemani kamu selama beberapa hari ini, dia bahkan tidak meninggalkan kamu sedetikpun." Nathan meraih ponselnya.
"Coba kamu lihat sendiri.." Nathan menyodorkan ponsel dengan semua gambar saat Marisa tengah menunggu Leo.
"Dia adalah wanita pengganti untuk kamu, jadi tidak usah pikirkan hal yang sudah lalu. toh saat ini Criztine sudah bahagia, kini saatnya kamu membangun bahagia untuk dirimu sendiri."
"Maksud kamu?." ucap Nathan heran.
"Nanas itu cantik dari sudut pandang, akan tetapi buahnya berlubang, manis memang! akan tetapi lidah kamu akan terasa gatal saat kamu tidak bisa mengupas buah itu dengan benar. untuk memakan buah nanas itu pun kita butuh waktu panjang, maka begitu pula dengan proses yang harus aku lewati demi bisa mencintai dirinya." Jelas Leo sembari melebarkan senyum.
"Ucapan kamu terlalu berat untuk di cerna tuan, kalau begitu aku pergi dulu masih banyak pasien yang harus aku tangani." Ucap Nathan dengan melangkah pergi.
Leo terdiam sejenak, entah apa yang sedang dia pikirkan yang jelas saat ini ada hal yang sangat ingin dia pertimbangkan...
__ADS_1
"Jangan melamun..."
Suara itu membuyarkan lamunan Leo.
"Apa kamu ingin makan sesuatu Dokter?." Lirih Risa sembari mendekati Leo.
"Tidak! oh iya, bagaimana kamu tau jika aku mengalami kecelakaan dan di rawat disini?."
Risa tersenyum tipis, sebelum dia menjawab ada sesuatu yang hendak dia tunjukkan kepada Leo.
"Coba kamu lihat di layar ponselmu, siapa orang yang terakhir kali menghubungi kamu..."
Leo meraih ponsel di tangan Risa yang tidak lain adalah ponsel miliknya sendiri.
"Sepertinya orang itu adalah kamu."
"Maka dari itu seseorang memberi kabar padaku bahwa kamu sedang mengalami kecelakaan dan di bawa kesini, saat itu juga aku segara meninggalkan Eropa hanya demi kamu Tuan Dokter!." Jelas Risa.
Entah bahagia apa yang saat ini di rasa oleh Leo, akankah rasa bahagia itu adalah benih cinta?, ataukan bahagia itu adalah karena ada seseorang yang perhatian terhadap dirinya?
__ADS_1
entahlah! intinya saat ini Leo merasa nyaman berada di dekat Risa.