HASRAT

HASRAT
Milik siapa


__ADS_3

Dalam keramaian kota dan padatnya jalanan siang itu membuat Damar kesulitan mengejar mobil sang istri. Terjebak dalm kemacetan dan hqnya bisa berdiam diri. Bunyi klakson mobil lain membuatnya semakin panik. Entah apa yang terjadi di depan sana sampai jalanan macet total.


"Kenapa jalanan macet sekali tidak seperti biasanya" Ucapnya sembari menengok kanan kiri depan belakang. Mobilnya benar benar terhimpit kendaraan lain sampai ia memijat kening "Astaga kenapa mobil depan belum juga jalan" Sangking paniknya Damar pun turun dari mobil berjalan menuju maju ke depan. Setelah di lihat ada kecelakaan di depan sana yang membuat kemacetan panjang. Dua pengendara motor saling beradu mulut karena menepis keslahan dari masing masing dan seorang wanita tergeletak kesakitan. Menyaksikan kejadian itu Damar mengingat sang istri, bagaimana kalau terjadi hal buruk pada istrinya. Dia pun langsung kembali menuju mobilnya.


Berulang kali mencoba menghubungi Olive namun tidak sekali pun di respon. Bahkan pesan ia mengirim beberapa pesan singkat, tetap saja tidak di respon. Semakin paniklah Damar saat ini sampai akhirnya jalan perlahan kembali normal. Setelah berhasil keluar dari kemacetan, Damar berusaha menelepon Mbok Inah"Mbok, Apakah Olive sudah pulang?"


Mbok Inah masih di dapur tengah masak makan siang, kemudian mematikan kompor karena mbok Inah tengah menggoreng ikan laut sehingga suara Damar tidak terdengar jelas "Maaf den Mbok Inah tidak dengar boleh di ulangi" Sambil berjalan keluar dapur.


"Apakah Olive sudah pulang?" Ulangnya lagi sambil terus menatap ke depan, fokus dengan stir kemudi.


"Non Olive belum pulang, Den. Apa mungkin Non Olive masih di rumah sakit"


"Jadi hari ini jadwal dia periksa kehamilan, Mbok?"


"Sepertinya begitu, Den. Tadi Non Olive bilang mau ke rumah sakit jadwal periksa kandungan sama mau USG atau bagaimana begitu, saya kurang paham"


"Baik, Mbok. Terima kasih" Segera panggilan telepon terputus.


"Pantas saja dia tanya pagi ini saya ada acara atau tidak, jadi hari in jadwal cek kandungan" Tidak butuh waktu lama Damar pun menuju ke rumah sakit tempat Olive biasanya periksa kandungan. Dari awal kehamilan sampai hampir lima bulan kehamilan baru beberapa kali saja sekali saja Damar mengantar Olive. Sejak saat itu ia merasa takut bagaimana kalau benar janin di dalam rahim Olive bukan miliknya. Ketakutan itu membuatnya sedingin es dan setenang air hujan.


Sampailah Damar di rumah sakit, di lihatnya sekeliling parkiran mencari mobil sang istri "Sepertinya itu mobilnya" Damar segera masuk lalu mencari keberadaan Olive.


"Maaf saya mau tanya apakah di dalam ada iatri saya, Olivia Sunandar?"


"Sebentar pak, saya cek sebentar" Sambil melihat daftar pasien "Ny Olivia Sunandar baru saja masuk, pak"

__ADS_1


Damar langsung masuk ke ruang pemeriksaan.


"Siapa anda?" Dokter yabg tengah melakukan USG terkejut melihat seorang laki laki menerobos masuk saat beliau tengah bertugas. Olive yang terbaring mengalihkan pandang saat melihat sosok Damar.


"Saya suami pasien" Ucap Damar sambil berjalan ke arah Olive.


"Baiklah kalau begitu, silahkan duduk" Setelah Damar duduk di samping ranjang Olive, di lihatnya monitor di depan tengah memperlihatkan bagian bagian dari janin tersebut. Setelah selesai pemeriksaan Mereka pun keluar ruangan. Olive terus berjalan tanpa menghiraukan Damar di belakangnya.


"Maafkan saya" Meraih lengan Olive saat dia hendak menuju ke arah mobilnya terparkir.Tanpa sepatah kata Olive pun menepis tangan Damar "Oke, nggak masalah, toh kami bukan prioritas kamu" Di bukalah pintu mobil namun lagi lagi Damar meraih lengannya.


"Dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu" Damar memaksa Olive masuk ke dalam mobilnya meski dengan perlawanan kecil dari snag istri tapi akhirnya dia berhasil membuatnya diam di dalam mobil. Damar pun mengendarai mobil. Di sisinya ada Olive yang terus menatap ke samping seolah membuang muka dan kedua tangan di lipat di atas perut buncitnya. Sesekali Damar menoleh ke arah sang istri "Saya hanya berziarah ke makan Fanya sebentar, setelah itu baru ke rumah sakit" Jelas Damar.


Olive tidak bergeming, perlahan Olive memejamkan mata tak ingin mendengar penjelasan itu. Bukan marah karena Damar mengunjungi makam Fanya tapi karena tadi pagi ia bertanya apakah dia sibuk atau tidak, Damar bilang sibuk tidak ada waktu. Hal itu yang membuat Olive sakit hati. Padahal Olive ingin memintanya menemani cek kandungan, tapi niatnya terhenti karena alasan kesibukan Damar. Damar sendiri juga tidak tau kalau hari ini jadwal periksa kandungan.


"Percayalah saya tidak tau kalau hari ini jadwal cek kandungan. Maafkan saya ya" di sentuhlah tangan Olive.


"Bukan begitu maksud saya...."


"Cukup! turunkan saya di sini. Saya tidak mau membebani kamu dengan keberadaan saya dan anak saya ini" Olive memaksa turun dari mobil, namun Damar tidak menghiraukannya. Laju kendaraan terus melaju dengan kencang tanpa perduli ocehan Olive. Damar sadar jika dia telah berbohong pada Olive, tapi dia benar benar tidak ingat kalau hari ini Olive ada jadwal cek kendungan.


"Turunkan saya sekarang" Teriak Olive.


Sontak Damar menepikan mobilnya "Saya harus meminta maaf seperti apa lagi sampai kamu mau memaafkan saya? apa perlu saya bersujud di bawah kaki kamu" Ucapnya dengan nada tinggi.


Mendapat perlakuan kasar Olive pun memalingkan wajah, menyembunyikan air matanya. Pantukan kaca mobil di samping Olive memperlihatkan semua yang di sembunyikan dari Damar. Damar memejamkan mata sambil menata kembali emosi dalam hati. Perlahan ia melepas pengaman lalu keluar dari mobil, kebetulan mobil berhenti di sebuah taman yang tidak terlalu ramai. Damar pun membuka pintu mobil "Kita bicara sebentar"

__ADS_1


"Tidak mau, lepaskan saya" Hendak menolak ajakan Damar tapi tangannya di pegang erat seolah menyeretnya menuju taman tersebut.


"Duduklah dulu kita bicara baik baik"


Mereka berdua duduk di kursi panjang taman. Olive tidak mau melihat wajah Damar sedikit pun. Damar sendiri mencoba membuat Olive menatap dirinya tapi Olive selalu menghindari kontak mata dengan sang suami.


"Saya mengakui kalau saya salah. Tolong maafkan saya" Meraih kedua tangan sang istri lalu mencium kedua tangan itu.


"Hentikan semua drama kamu mas. Kalau saja kamu tau bagaimana rasanya menjadi aku, pasti sedikit saja kamu tidak akan tahan. Di luar sana banyak orang tanya kenapa selalu cek up kandungan sendiri? dan banyak asumsi publik yang membuat mental down. Tidak sedikit pun kamu memperhatikan kita, mas. Selama ini aku selalu diam saat kamu bersikap dingin, dan lebih mementingkan pekerjaan kamu. Oke, aku ngerti itu memang tugas kamu. Tapi, kenapa kamu harus berbohong sama aku? kenapa?" Kesedihan Olive pecah saat itu juga. Air mata kian terurai di iringi isak tangis nan menyayat. Damar sendiri tidak memungkiri kebenaran ucapan Olive, ia pun sadar jika sikapnya memang berubah sejak kehamilan itu.


"Saya hanya...."


"Hanya apa, Mas? hanya merasa bimbag janin siapa yang saya kandung saat ini? oke, tidak masalah kalau kamu tidak memgakui bahwa anak ini darah daging kamu. Setelah dia lahir nanti kita akan lakukan tes DNA supaya kamu puas"Sudah cukup penderitaan Olive selama ini, selama hampir lima bulan lamanya mendapat perlakuan dingin dari suaminya. Hingga dia mulai muak dengan semua ini.


"Bukan begitu maksud saya, hanya saja saya butuh waktu untuk itu" Damar mencoba menjelasakan.


"Cukup sudah kesabaranku selama lima bulan ini mas. Kalau saja kamu tau bagaimana aku menahan sakit dan stres dengan sikap kamu ini. Padahal selama ini aku ingin kamu mengakui janin ini tanpa tapi nyatanya Gilang jauh lebih perduli dari pada kamu" Semakin amarahnya meluap semakin pula ucapannya tak bisa di kontrol.


"Selama ini dia selalu ada di saat kami butuh dukungan dan perhatian, dia juga yang setiap bulan diam diam mengikuti aku saat cek up kandungan. Dia mas yang selalu ada untuk aku dan anak ini, lalu kamu ini berperan sebagai apa?"


Mendengar kalimat menyakitkan sontak membuat Damar marah "Cukup, Live! laki laki yang kamu banggakan itu jauh lebih buruk dari sampah. Dia yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. Apa kamu pikir selama ini aku tidak kesakitan melihat kamu dalam pelukannya? Bahkan sampai melampaui batasan. Sungguh menjijikkan" Membuang muka mengingat betapa kejamnya dunia telah mempermainkan diri dan hidupnya.


Kedua kaki Olive melemah sampai dia kembali terduduk di kursi panjang itu. Wajah nan pucat dan tangan kanan mengelus perut, ia mencoba kuat demi buat hatinya.


"Baiklah kalau begutu kita tunggu sampai anak ini lahir baru kamu akan puas dengan hasilnya. Anak siapa pun itu tetap saja dia anak ku, akan ku lindungi dia segenap jiwa ragaku." Olive kembali berdiri lalu meninggalkan Damar sendirian.

__ADS_1


"Sayang, tunggu dulu" Damar mencoba menghentikan Olive, namun di tepis olehnya berulang kali.


Setelah Olive hilang dari pandangan, Damar pun mengingat semua kata kata Olive barusan. Membuatnya terpaku dalam diam, terhanyut dalam kesendirian. Duduk seorang diri meratapi takdir kehidupan.


__ADS_2