HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Racun dari sebuah hubungan adalah orang ketiga. Kehadirannya bagai sebuah stunami yang memporak porandakan seisi rumah, bahkan berdampak buruk bagi yang lain. Jika bisa di balik kepada orang ketiga tersebut, mampukan dia jadi pihak utama kemudian di adu oleh pihak ketiga, saya yakin si pihak ketiga ini akan menangis darah, karena ia tidak punya mental kuat dan tabah seperti tokoh utama. Sedangkan tokoh kedua(pihak yang membuka hati untuk orang ketiga) hanya bisa menyaksikan akibat fatal dari ulahnya sendiri, sebenarnya tidak akan ada tamu yang menerobos masuk jika tidak ada celah di pintu rumah mereka. Celah tersebut semakin melebar kala di dalam rumah mulai memanas, dan celah lebar membuat angin masuk dengan kencang sampai menambah kobaran api.


Sejatinya pihak ketiga dalam rumah tangga seseorang bukanlah bunga mawar, melainkan sebuah benalu yang hidupnya hanya menopang pada kehidupan orang lain. Sang Benalu yang tidak ada balas budi, malah perlahan akan membunuh batang, daun, bunga, dan buah, sampai ke akarnya. Pihak ketiga sama persis bagai parasait dalam hubungan rumah tangga orang lain. Menjadi pihak ketiga itu sangat berbahaya kalau sudah menguasai milik orang lain dia tidak akan pernah merasa puas, Dia pasti akan mencari lebih dari apa yang ia dapatkan karena memang hidup parasit itu sukanya menopang bukan berdiri sendiri. Suka membunuh tapi tidak suka di bunuh, itulah dia.


"Kalau saja aku bisa menukar posisiku sekarang ini dengannya maka saat ini aku pasti siap menggantikan posisinya. Maafkan aku telah membuat mu terluka..." Lirih Gilang sembari duduk di kursi, pandangannya menunduk merasa sangat bersalah.


Dari kursi sebrang, Damar menatap geram ke arah Gilang. Di dampingi Mbok Inah yang terus menasehati Damar dengan kata kata lembutnya. Meski begitu, Damar terus mengeratkan rahang menahan emosi yang meledak dalam dirinya.


"Den, sebaiknya kita berdoa demi keselamatan non Olive. Kita serahkan semuanya pada Tuhan" mbok Inah mengusap lengan Damar, mencoba menguatkan hati seseorang yang rapuh bagai ranting kering di timpa pohon tumbang.


"Melihat dia masih ada di sini membuat saya kehilangan akal, mbok. Andai dulu saya mendengarkan apa kata Olive, untuk tidak pindah ke tempat ini semua pasti masih baik baik saja, mbok. Saya sungguh menyesal"


Sebelum mereka pindah ke kota ini kehidupan keduanya jauh dari kata miring, semuanya baik baik saja. Dalam diam, Damar teringat betapa kekehnya Olive kala di ajak pindah dari kota kelahiran suaminya itu, dia sangat tidak setuju untuk pindah karena masa lalu terburuknya masih ada di sana. Tapi, Dengan mudahnya Damar meyakinkan Olive karena masa lalu tidak akan menghancurkan masa sekarang pikir Damar kala itu.


"Aden..." Mbok Inah menyentuh bahu Damar kala melihat sosok Dokter yang menangani Olive keluar.


"Dokter (Segera Damar bangkit) bagaimana kondisi istri saya"

__ADS_1


Dengan wajah serius Dokter terssbut menghela nafas "Untungnya pasien mendapat pertolongan dengan cepat kalau tidak pasien bisa kehilngan nyawa karena banyak kehilangan darah. Saat ini pasien butuh istirahat cukup, kalau kalian mau masuk saya sarankan jangan buat kegaduhan, biarkan pasien pulih terlebih dahulu. Saya permisi" Setelah Dokter pergi, segera Damar masuk begitu juga dengan mbok Inah.


Gilang mendekati pintu, membukanya perlahan, ia berada di balik tirai.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? apa kamu mau minum" Damar mengambil segelas air mineral di atas meja lalu membanrunya minum.


"Mas...." Kedua tangan Olive menyentuh tangan Damar yang masih memegang gelas "Aku minta maaf" Terlihat kedua mata Olive berkaca kaca, mengingat semua kesalahan yang telah ia lakukan.


Terlihat Damar mengeratkan genggaman pqda gelas di tangan kanannya "Jangan bahas iru lagi, sekarang ini kita fokus sama kesehatan kamu" Mencoba mengalihkan pembicaraan dengan meraih lengan sang istri yang sudah di perban.


Ada keraguan di mata Olive hingga membuat Damar yakin jika semua dugaannya itu benar.


"Kenapa diam? kalau ridak salah semua di sebabkan karena peetengkaran kalian berdua, bukan?" Damar melirik ke arah tirai samping ranjang, hingga membuat Gilang terkejut.


"Keluar kamu"


Gilang pun keluar dari balik tirai kemudian menatap Olive lalu melempar pandang ke arah Damar.

__ADS_1


"Den, mbok keluar dulu, ya" Mbok Inah pun keluar ruangan.


Olive memejamkan mata karena kehadiran Gilang hanya akan memperkeruh perselisiahan diantra mereka. "Ngapain kamu di sini? pergi kamu" Ketus Olive.


Damar tersenyum melihat lalu menghampiri Gilang "Kamu tidak dengar dia mengusir mu, Tuan Gilang Hendarman yeng terhormat"


"Saya hanya ingin memastikan kamu baik baik saja, atau saya akan merasa bersalah" Gilang pun berjalan melalui Damar kemudian ia menuju samping ranjang Olive "Saya sangat khawatir" Ketika Gilang hendak menyentuh tangan Olive, Olive lebih dulu menghindar.


"Saya tidak butuh kamu di sini, pergi" Olive mendorong Gilang sekuat mungkin sampai luka di tangannya kembali terbuka dan darah terlihat jelas di peeban yang telah di pasang Dokter.


"Olive..." Damar melihat perban di tangan Olive berwarna merah, segera ia menarik tangan Gilang "Pergi kamu" Pintu ruangan pun di tutup.


Tak berapa lama Tim medis dan Dokter datang ke ruangan Olive. Gilang menendang kursi di sampingnya, berusaha melampiaskan amarahnya.


"Tuan, Gilang lebih baik Tuan pulang dulu biar semuanya stabil terlebih dahulu, di saat ini suasana hati semua orang sedang tidak baik" Jelas Mbok Inah yang duduk di kursi tunggu.


Gilang hanya melihat wajah Mbok Inah sekilas lalu ia pergi.

__ADS_1


__ADS_2