HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Semua berjalan seperti biasa, ada kecanggungan di balik wajah Alisya saat bertatap muka dengan sang suami. Setiap kali berpapasan Gilqng selalu nampak canggung seolah ingin menghindar darinya. Sejak kejadian malam itu membuat Gilang sedikit menaruh simpati padanya, bukan karena ia mulai mencintai Alisya tapi rasa bersalahnya.


"Bibi...."Teriak Gilang sembari menuruni anak tangga.


Alisya menoleh sang suami yang terlihat panik, kebetulan Alisya sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


"Mas ada apa? jangan teriak seperti itu"Ucap Alisya lembut.


Kebetulan letak ruang makan bersekatan dengan dapur, jadi ketika Gilang hendak ke dapur mencari asisten rumah tangga, Ia melewati Alisya.


Gilang tidak menjawab, ia hanya melirik sembari melewati sang istri.


"Bibi..." Panggilnya lagi.


"Eh, Tuan. Ada yang bisa Tuti bantu" Sembari melempar senyum


"Nggak usah senyum senyum. Nih kenapa baju saya masih kusut, padahal saya ada meeting jam 9 nanti. Sekarang cepat setrika" Ucap Gilang sambil melempar kemeja di tangannya.


"Ada apa ini Gil?" Datangalah Lily dari luar mendengar kegaduhan sang anak.


"Tuti, nih Mi. Kerjanya nggak becus, kebanyakan lihat drakor jadi nggak fokus sama kerjaan"


"Bi, biqr saya saja yang menyetrika. Bibi lanjut masak saja." Alisya pun mengambil kemaja di tangan Tuti.


"Saya tidak suka ada orang lain menyentuh barang saya. Tuti, cepat setrika baju saya" Tegas Gilang seraya berbalik badan, namun seketika kembali berbalik lagi "Jika saya tau bukan kamu yang nyetrika kemeja saya, maka kamu saya pecat" Ketusnya Gilang lalu berlalu begitu saja.


"Gilang, dia ini istri kamu kenapa tidak boleh menyetrika baju kamu? keterlaluan kamu, Gil" Maki Lily yang mengejar langkah Gilang.

__ADS_1


Di dapur hanya tinggal Tuti dan Alisya. Sesungguhnya Tuti tidak enak hari, tapi mau bagaimana lagi majikannya telah memberi ancaman terbesar yang menakutkan. Akhirnya Alisya pun memberikan kemeja itu pada Tuti.


"Ya sudah Bi, biar saya lanjutkan masak. Bibi setrika baju mas Gilang saja" Santun Alisya sembari mengulas senyum. Meski senyum itu tak tertutup oleh cadar yang di kenakan tapi Tuti bisa melihat dari mata Alisya.


"Maaf, ya Non. Saya tidak berani menentang Tuan Gilang. Sekali lagi maafkan saya" Tuti mnunduk merasa sangat bersalah.


Di sentuhlah lengan Tuti "Tidak apa apa Bi, cepat setrika bajunya nanti mas Gilang marah lagi"


Tuti mengangguk "Kalau begutu saya permisi dulu, Non"


"Mami ini apaan sih..." Gilang merasa kesal saat Liky terus menyalahkan dia hanya dengan sebuah kemaja saja.


"Seharusnya kamu itu bersyukur punya istri sholehah dan pengertian seperti Alisya, bahkan dia rela tidak makan kalau kamu belum menyentuh makanan. Istri mana coba yang bisa seperti itu. Toh, Alisya itu benar sebagai istri yang baik, dia berkewajiban mengurus segala sesuatu yang kamu butuhkan, termasuk menyertrika pakaian kamu juga." Lily membawa sang putra duduk di teras rumah. Sebagai orang tua, Lily ingin memberi pengertian kepada putra yang keras kepala ini. Sifat keras kepalanya turunan dari dirinya sendiri, tapi dia tidak menyangka kerasnya Gilang membuatnya angkat tangan.


"Pokoknya Gilang tidak suka dia menyentuh barang barang Gilang, sekalipun itu baju" Tegas Gilang.


Lily mencoba bersabar supaya tidak menimbulkan masalah.


"Maksud Mami?"


"Alah, nggak usah pura pura lupa. Malam itu mami lihat Alisya mandi basah pas malam hari. Pasti kamu dan dia...."


Sontak Gilang bangkit dari duduknya "Itu kesalahan, Mi. Kalau Gilang tidak mabuk, malam itu tidak akan pernah terjadi. Gilang menyesal telah lepas kontrol"


Dari balik pintu ada sepasang telinga mendengar ucapan Gilang. Alisya, berdiri memaku di sana. Awalnya Alisya hanya ingin mengatakan kalau sarapan sudah siap, tapi dirinya di kejutkan atas pengakuan Gilang.


"Jadi kamu menyesal telah menyentuh saya, mas" Lirihnya sambil berbalik arah.


Plak...

__ADS_1


Habis kesabaran Lily menghadapi kerasnya gilang sampai tangan pun ikut bertindak. Sebagai sesama wanita, Liky merasakan sakitnya ucapan Gilang.


"Jaga mulut kamu, Gil. Dia itu istri sah kamu, dia berhak mendaoatkan hati, jiwa dan raga kamu. Bahkan kamu juga wajib memberinya nafkah batin. Jangan jadi pengecut kamu" Ucap Liky dsngan nada tinggi. Air matanya pun ikut tumpah.


Gilang mengeratkan rahang, baru pertama kalinya Gilang di tampat ibu kandungnya setelah lama mereka terpisah jarak. Hal itu teejadi atas salahnya senditi, tapi Gilang tetap menyalahkan Alisya. Mendengar makian dari Lily membuat Gilang semakin tersulut emosi sampai ia tak tahan lagi.


"Stop, Mi. Mami nggak perlu menceramahi Gilang karena Gilang tidak salah. Semua ini kesalahan kalian yang sudah memaksa saya menikahi wanita yang tidak saya cintai. Mami tau betapa tertekannya Gilang selama ini? Pernah tidak sekali saja pikirkan perasaan Gilang jangan cuma mikir baiknya di kalian tapi berdampak buruk di kehidupan Gilang."Gilang segera masuk ke dalam rumah. Ketika baru saja masuk di lihatnya Alisya masih mematung membelakangi pintu. Gilang tidak perduli, ia segera menaiki anat tangga sambil berlari kecil.


"Tuti....bawa kemeja saya ke atas"


"Baik, Tuan" Setelah selesai menyetrika, Tuti membawakan kemeja Gilang.


Setelah selesai memakai pakaian kerja, segera Gilang pergi.


"Mau kemana kamu?" Tanya Lily yang duduk masih duduk di teras sembari melipat kedua tangannya.


Gilang masih diam dan terua mengkah menuju mabil "Pak, buka pagarnya" Teriak Gilang seraya membuka pintu Mobil.


"Gilang, mami bicara sama kamu. Gilang....." Teriak Lily kala putranya meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata.


Dalam tangis Alisya mengintip suaminya dari jendela. Air matanya membasahi cadar yang ia kenakan. Isak tangisnya semakin kencang terdengar.


"Sungguh keterlaluan anak itu" Sembari berjalan masuk Lily menggerutu kesal.


"Loh, Alisya?" Lily terkejut melihat sosok menantunya bersandr pada tepi jendela.


"Nak kamu kenapa"


"Mami saya ini hanya istri yang tidak di harapkan. Alisya sudah tidak tahan lagi, Mi. Alisya hanyamenjadi beban untuk hidup mas Gilang, lebih baik Alisya pergi dari kehidupan mas Gilang" Alisya menundukkan kepala sambil menangis.

__ADS_1


Melihat wanita setabah Alisya menjadi rapuh membuat Lily semakin merasa sakit. Di peluklah sang menantu "Cukup, sayang. Jangan bilang seperti itu. Kamu harus bertahan. Mami yakin kesabaran dan ketabahan kamu akan berbuah manis"Alisya meluapkan air mata di pundak sang mertua. Sudah bukan sakit lagi tapi lebih dari itu yang ia rasakan. Sudah banyak kata kata menyakitkan dari Gilang yang telah ia telan. Tapi masih belum ada berubahan sedikit pun darinya.


Sekuat apa pun hati seorang wanita pasti akan rapuh dengan sebuah kata. Sejatinya hati manusia bagaikan kain sutra yang halus, jika sedikit saja ada kata menyakiti hati pasti ia akan luruh menjadi butiran air mata.


__ADS_2