
Gilang mencoba menghubungi Damar sejak tadi tapi tidak di respon olehnya sama sekali. Satu satunya cara saat ini ia harus pergi ke rumah Damar.
"Demi kamu aku rela menjemputnya....." kendaraan melaju dengan kencang. Perjalanan menuju rumah Damar sangatlah memakan waktu hingga Gilang terus ngebut supaya dia cepat sampai. Apa lagi saat ini Olive sedang di operasi jadi sebelum Olive keluar dari ruang operasi dia harus membawa Damar secepat mungkin.
"Dia kemana sih, bukankah ini hari libur masa iya dia masih kerja....." kesal Gilang sembari melihat layar ponsel.
"Mbok, saya mau keluar sebentar...." ucap Damar merapihkan jaket yang ia kenakan seraya menuruni anak tangga.
Mbok Inah yang tengah menyapu seketika menghentikan aktivitasnya lalu berjalan ke arah Damar "Aden mau pergi kemana?" sembari melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Sepertinya mau bepergian jauh, biasanya nggak pernah keluar pake jaket"
"Saya mau mencari istri saya, Mbok. Kemungkinan saya akan pulang larut jadi Mbok nggak usah nungguin saya pulang. Sebelum tidur pastikan pintu dan cendela terkunci rapat. Oh iya satu lagi nanti saya akan menyuruh pak sopir buat berjaga di halaman rumah sekalian jaga mbok Inah" Tutur Damar menjelaskan.
"Memangnya ada urusan apa sampai aden pulang larut?" Tidak biasanya Damar keluar hingga larut malam membuat Mbok Inah khawatir akan sesuatu.
Damar menarap Mbok Inah "Saya ingin mencoba mencari Olive ke suatu tempat, tadi pagi orang suruhan saya ada yang melihatnya. Doakan saya supaya bisa cepat menemukan dia"
"Amin" Sembari mengusap lengan Damar.
__ADS_1
"Semua terjadi karena saya terlalu acuh padanya hingga dia memilih pergi" menunduk lesu menyesali apa yang di perbuat selama masih bersama.
Mengusap lengan Damar "Yang sabar ya Den perbanyak usaha dan jangan lupa sertakan doa. Mbok yakin Non Olive pasti baik baik saja Tuhan akan senantiasa menjaga dan melindungi beserta bayi dalam kandungannya"
"Amin. Kalau begitu saya pergi dulu ya mbok" Damar pun segera meninggalkan rumah.
Di saat hendak membuka pintu mobil dia kembali mendapat telepon "Dia mau apa lagi sebenarnya...." Entah kenapa saat itu Damar enggan mengangkat telepon dari Gilang.
"Ada apa Den? apa ada masalah"
Damar segera mematikan ponselnya sebab ia merasa tidak nyaman terus menerus di telepon Gilang "Nggak penting hanya orang iseng saja kalau begitu Saya pergi dulu Mbok..."
Setelah Damar pergi Mbok Inah bergegas ke samping rumah hendak melihat jemuran, namun tiba tiba saja ada sebuah mobil masuk pekarangan rumah "Loh kok den Damar balik lagi...." Dengan membawa beberapa helai jemuran kering Mbok Inah berjalan ke depan rumah "Bukan den Damar lalu siapa...." sembari mendekari mobil hitam terparkir di halaman rumah.
"Mbok...." Kaca mobil terbuka.
"Eh, den Gilang" Sambil menunduk memberi senyum.
__ADS_1
"Damar ada Mbok? ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama dia" Gilang pun membuka pintu mobil sembari terlihat panik.
"Kebetulan sekali den Damar baru saja keluar paling sekitar lima menitan"
"Astaga....."
"Ada apa den nampaknya aden panik begitu? kalau tidak aden telepon saja"
"Nggak bisa mbok. Sudah berulang kali saya coba menghubunginya tetap saja dia tidak mau mereapon" Sambil melihat jam di pergrlangan tangan.
"Memangnya ada masalah apa biar nanti mbok Inah sampaikan sama den Damar"
"Mbok Inah ikut saya sekarang juga, nanti saya ceritakan" Gilang lengsung membukakan pintu mobil untuk mbok Inah.
"Maaf den saya nggak bisa takutnya nanti den Damar pulang nyariin saya"
"Mbok ini tentang Olive"
__ADS_1
Mendengar kata itu segera mbok Inah masuk ke dalam rumah, mengunci pintu lalu pergi bersama nya.