
Setelah berganti pakaian Gilang pun beranjak keluar kamar, tak lupa ia membawa kunci mobil.
Brum brum....
Suara mobil di depan rumah membuat Alisya segera mengintip dari jendela dapur, benar saja mobil suaminya baru saja keluar dari pakerangan rumah. Hati seorang istri kembali terluka, ia tidak pernah di anggap keberadaannya oleh sang suami. Untuk sekedar berbasa basi pun tidak pernah sekali pun. Alisya sadar semua derita sengaja di suguhkan oleh Gipang padanya, mungkin Gilang ingin Alisya sadar bahwa hadirnya tidak pernah di harapkan. Tak mau ambil pusing Alisya pun melanjutkan masak. Seperti biasa dia masak untuk sang suami, entah di makan atau tidak yang penting dia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak hanya kewajiban dapur ia penuhi kuga kewajiban ranjang pasti ia turuti.
"Tanpa Tuti saya merasa sangat kesepian" Tuturnya sembari mengaduk sayur di atas wajan.
Saat ini Gilang pergi menuju rumah sakit di mana Fanya di rawat "Sial....lagi lagi rencana itu gagal. Padahal harapan saya mereka bisa menikah dan Olive bisa menjadi milik saya selamanya. Tapi.....ishhhh" Stir kemudi menjadi sasaran amarahnya. Tangan kanan Gilang memijat pelan keningnya.
"Non lebih baik kita pulang dulu, Non Olive tidak boleh terlalu kecapean" Ucar Mbok Inah yang sedari tadi menemani Olive di kursi tunggu runah sakit.
Dengan wajah pucat pasuh Olive berusaha tidak apa apa, meski merasa lemas dan sedikit pusing "Saya tidak apa apa, Mbok."
__ADS_1
Mbok Inah melihat wajah Olive semakin pucat dan matanya terlihat sendu "Mbok belikan minum dulu Non"
Olive mengangguk. Setelah Mbok Inah meninggalkan dia, kepalanya terasa snagat berat dan badan kian melemas, berkali kali ia mengerjabkan mata untuk mengurangi pusing. Dengan sempoyongan Olive berjalan menuju lorong ruamh sakit mencari letak toilet.
"Olive....." lantang seorang laki laki yang melihatnya hampir terjatuh.
"Kamu kenapa? sini kamu duduk dulu" Kebetulan di dekat Olive ada sebuah kursi.
"Kamu? pergi sana jangan dekati saya lagi" Olive tersadar bahwa seorang di dekatnya itu adalah Gilang. Tak ingin memperkeruh masalah Olive pun hendak bangkit tapi tubuhnya terlalu lemas sampai ia pun tak sadarkan diri "Olive, live, bangun....olive" Berulang kali Gilang mencoba menepuk pipinya tapi masih tidak ada respon, segera ia memapah wanita tercintanya.
Gilang terlihat panik, di depan pintu purih itu dia terlihat mondar mandir tidak karuan, sesekali ia mengintip ke dalam tapi tidak terlihat . Pandangannya terhalang tirai.
"Astaga, kenapa bisa seperti ini"
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dokter keluar "Bapak suami pasien?" Tanya Dokter tersebut dengan sekilas senyum
Gilang bingung harus menjawab apa, tapi ya sudahlah dia iyakan saja ucapan Dokter tersebut.
"Selamat anda akan menjadi seorang Ayah"
Deg...
Seketika Gilang memetung dengan ucapan Dokter, entah anak siapa yang ada dalam rahim Olivia saat ini. Jika berdasarkan hak milik tentu kehamilan itu milik Damar tapi dia juga menatuh benih di rahim Olivia.
"Pak...."
Sontak lamunan Gilang pecah kala Bu Dokter memanggil namanya "Iya, Dok. Terima kasih saya masuk ke dalam dulu"
__ADS_1
"Silahkan, Pak"
Setelah Gilang masuk ke dalam barulah Mbok Inah melewati raungan itu. Dia tidak tau jika Olivia berada di ruangan itu, dengan langkah terburu buru Mbok Inah menuju tempatnya tadi.