
Dimas mencari keberadaan kekasihnya hingga dia menemukan Gea duduk meringkuk di bawah pohon kelapa. " Lagi-lagi aku menyakitinya." Segera Dimas mendekat.
" Maaf, aku terbawa emosi." Di peluknya tubuh mungil Gea.
" Pergi." Isak tangis semakin terdengar jelas. Tidak mudah bagi Gea menahannya lebih lama lagi. Dekapan hangat itu semakin membuatnya tersakiti. Beribu cara di lakukan tuk kuat menahan perih, tak satu pun cara di temukan. Cinta Gea terlampau tulus, tanpa rekayasa. Langkah hidupnya terasa berwarna atas hadirnya Dimas, lelaki yang di perjuangan hingga titik terdalam, Namun kisah mereka sedang di uji oleh Sang Maha Cinta.
Dimas mencoba tenang atas sifat Gea saat saat ini. Meski emosinya terguncang atas kerasnya diri Gea, Dia berusaha menata kembali hatinya...
" Semua terjadi karena rasa cemburu ku padanya. Bersamanya kamu melupakan aku, bahkan tidak sedikit pun kamu melihat ku ada di dekat mu. Selama beberapa hari belakangan, aku selalu mengikuti kamu. Sampai aku memesan Apartemen tidak jauh dari kamar kamu supaya aku bisa melihat kamu setiap waktu. Lagi-lagi kamu tidak merasakan atas hadir ku" Dimas kembali memeluk Gea, namun kali ini tidak ada penolakan. Hanya diam tanpa satu kata.
" Aku mencintai kamu, Sayang." Bisik Dimas.
__ADS_1
Gea pun menatap wajah lelaki tampan di hadapannya, mencari kebenaran dari tatapan mata. Ungkapan yang selama ini di nantikan kini tiba saatnya terdengar menggema di telinga. Jantungnya seolah tak bisa di kontrol, lepas dengan semua gejolak rasa dalam diri.
" Kamu di takdirkan Tuhan menjadi masa depan ku. Jika aku bisa menerima semua masa lalu kamu, lalu apa sulitnya untuk menerima masa lalu ku? Sepahit apa pun kehidupan kita di masa lalu mari kita mulai perubahan dari masa sekarang." Ucapnya dengan mengusap air mata.
" Tapi..." Ucap Gea penuh keraguan. Hatinya gentar mendengar ungkapan cinta tersebut, egonya perlahan melunak.
" Kamu milik ku sekarang, nanti, dan selamanya." Entah setan mana menghampiri Dimas, sehingga tanpa kata apa pun Dia langsung mencumbu Gea.
" Emmmmm....."
Setelah cukup lama mereka beradu kasih dengan di saksikan hamparan laut biru serta ombak yang meliuk bersorak bahagia, Dimas melepaskan Gea. Di lihatnya wajah memerah tengah tertunduk tersipu malu.
__ADS_1
Tentu saja Dimas merasa senang, akhirnya dirinya mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
" Itu balasan karena kamu sudah mencium lelaki lain di depan mata ku..." Dimas mengusap kepala Gea lalu menyandarkan kepalanya di bahu. " Sudahi perih ini. Jangan lagi menjauh dari ku, hidup dan mati hanya untuk kamu, sayangku."
Gea bisa kembali mendapatkan ketenangan. Ucapan Dimas menyapu setiap luka di hatinya, perjuangan mendapatkan kembali hak cinta membuatnya luluh. Air mata berubah menjadi senyum keindahan.
" Saat ini kamu menang." Lirih Gea dengan mendekap lengan kanan Dimas.
" Sekuat apa pun diriku melupakan, tapi tidak ada satu menit pun untuk tidak mengingat dirimu."
Senyum Dimas merekah. Tak lupa dia berbisik dalam hati atas kemenangan yang di dapat.
__ADS_1
" Jauh sebelum kamu ada, tidak pernah aku melakukan hal segila ini sampai nekat menculik anak orang. Kamu orang pertama yang mampu membuat ku bangkit dari kegelapan."