HASRAT

HASRAT
Hilangnya Olive


__ADS_3

Malam harinya Damar menuruni anak tangga sambil memegang ponsel "Mbok, mbok Inah" lantangnya. Dari kejauhan muncuol sosok mbok Inah "Iya, Den. ada apa?" melihat raut wajah panik Damar tentu saja Mbok Inah bertanya tabya dalam hati gerangan apa yang telah terjadi pada dirinya.


"Itu Mbok....Olive udah kasih kabar belum ya?"


"Belum itu den. malah mbok inah baru aja tadi di telepon sama teman non Olive katanya hari ini dia ada janji sama teman arisannya tapi sampai sekarang belum juga datang" jelas Mbok Inah.


Damar semakin panik karena sudah hampir semua teman Olive di hubungi tapi tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya. Sambil mengotak atik ponsel Damar berjalan mondar mandir sampai mbok inah ikut pusing melihatnya. "Gini Den biar mbok bantu tanya sama teman teman non Olive ya, siapa tau non Olive ada di sana" ujar Mbok Inah lalu berlari kecil menuju telepin runahbyang ada di samping ruang keluarga. Mbok Inah nampak mencari daftar siapa saja teman Olive di buku kontak.


Damar juga tak luput mencari tahu keberadaan Olive sampai dia teringat seseorang "Jangan jangan...." Segera dia menaiki anak tangga menuju kamar mengambil kunci mobil.


"Loh den Aden mau kemana?" melihat Damar keliar dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Saya tau di mana Olive berada saat ini. Mbok Inah di rumah saja ya ini sudah larut" Damar mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat.


Tidak lama setelah itu sampailah dia di depan rumah mewah dengan pagar besi berwarna hitam. Kebetulan gerbang masih terbuka karena hari ini tidak ada penjaga di sana. Tanpa permisi Damar masuk ke dalam rumah mewah itu, matanya mencari letak kamar Gilang saat ini. Dari bawah ia mendengar suara televisi lalu ia pun menyusuri arah suara itu hingga sampailah Damar di sebuah kamar.


Brak...


"Keluar kamu Gilang...." teriak Damar saat pintu di dobrak olehnya.


Damar sudah hilang kendali saat melihat tampang Gilang, dengan kepalan tangannya di hantam sudah wajah Gilang sampai berulang kali. Gilang sendiri tidak bisa melawan karena Damar menyerangnya secara tiba tiba "Gilang Hendarman, saya sudah cukup sabar menghadapi kamu. sekarang katakan di mana istri saya" ucapnya penuh penekanan.


"Maksud kamu apa? saya tidak tau di mana Olive berada" Gilang coba menjelaskan ketidaktahuannya karena memang dia tidak tau apa apa.

__ADS_1


Damar kembali memukulnya sampai hidung Gilang berdarah "Jangan macam macam lagi Gilang, sekarang katakan di mana kamu sembunyikan istri saya" bentaknya dengan mata hampir keluar.


Gilang tersulut emosi. Dia mendorong Damar sampai menjauh darinya, saat ini gantian Gilang memukul wajahnya "Itu balasan untuk orang seperti kamu." Ketusnya sambil mendorong tubuh Damar.


"Kalau pun Olive pergi dari kamu itu semata karena dia mulai kesal sama sikap kamu. Selama ini dia selalu bersembunyi di balik senyum untuk menutupi kesedihan dalam dirinya. kalau kamu mengaku cinta sama dia harusnya kamu tidak menjauh di saat dia butuh dukungan kamu, justru di saat dia kenapa kenapa saya yang selalu ada buat dia dan anaknya. Laki laki seperti kamu ini tidak layak di sebut seorang suami dan ayah, dasar pengecut" Lantang Gilang.


Ucapan Gilang menggema di telinganya sampai ia berpikir apakah semua ini karena ulahnya. Di saat Damar terdiam beberapa saat Gilang menyeretnya keluar dari kamar "Pergi kamu dari rumah saya...." Gilang mengusirnga sampai ke pintu depan. Damar masih terdiam seribu kata.


"Jika dia tidak di sini lalu di mana dia? apakah dia baik baik saja, apa dia sudah makan atau......." Lirihnya sambil berjalan lunglai.


"Arghhhhhh...." pintu mobil di pukul berulang kali olahnya sampai tangannya terasa panas dan sakit. Damar pun segera pergi dari rumah Gilang.

__ADS_1


__ADS_2