
Malam mulai menjelang, Alisya bersiap hendak melaksanakan shalat magrib. Ketika ia selesai berwudhu, bergegaslah ia menuju balkon di mana suaminya berada. Gilang tengah duduk bersantai seraya mengotak atik ponselnya.
"Mas, mari kita shalat magrib" Ajaknya seraya mendekati Gilang
Gilang pun melirik sosok wanita yang saat ini telah resmi menjadi istrinya tersebut. Rambut terurai indah menjuntai, di balut baju tidur hangat, serta riasan wajah tipis menambah kecantikan Alisya. Rambut yang basah menambah aura kecantikan sang pengantin baru. Tanpa di sadari Gilang menelan ludahnya sendiri, tak menyangka gadis yang ia nikahi berparas bidadari.
"Mas...." Ucapan Alisya membuyarkan pandangan mata Gilang, sampai hampir kebingungan menyembunyikan muka. Meski secantik apa pun wanita di sampingnya jika hati dan cinta untuk wanita lain, tentu saja sulit untuk membuka pintu hati bagi saipa pun. Gilang bangkit lalu mendekati balkon, melihat cahaya yang mulai tenggelam "Kamu duluan saja"
"Tidak baik menunda shalat, mas. Lebih baik kita shalat berjamaah dulu" tuturnya lembut. Alisya memandang punggung suaminya dengan hati berdebar. Ketampanan lelaki itu membuatnya jatuh hati saat mereka di pertemukan pertama kali.
__ADS_1
"Tidak usah ceramah di depan saya. Kalau kamu mau shalat ya silahkan, tapi jangan mengganggu waktu saya." Ketus Gilang sembari berbalik menatap wajah istrinya dengan tatapan kesal "Jangan sok mengatur hidup saya, mengerti kamu!" Tegas Gilang.
Perlahan Gilang melangkahkan kaki menuju kamar, ia membuka lemari "Siapa yang menyuruh kamu melatakkan baju ini di sini?" Kembali amarah Gilang pecah kala melihat setumpuk alat shalat, seperti baju koko, peci dan sajadah.
Alisya tidak menyangka reaksi suaminya akan semarah itu, maksud dia tidak lah buruk. Ia hanya ingin suaminya lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Namun, Gilang malah melempar keluar semua hal yang di bawakan Alisya.
"Kamu pikir saya tidak mampu beli baju dan semua ini? saya juga punya semuanya, kamu pikir saya tidak pernah shalat? menghina sekali kamu ini" Gilang mendekiti Alisya yang masih mematung di depan ranjang. Kedua tangannya saling menyatu, pandangan wajahnya tertunduk."Maaf, mas. Bukan maksud saya untuk...."
Alisya menangis lirih "Mas, apa salah saya sampai mas merasa jijik terhadap saya? saya ini istri kamu mas, saya hanya ingin mengajak mas menuju janah." Jelasnya sembari sesekali menyeka air mata.
__ADS_1
"Istri? kamu kira saya menganggap kamu seperti itu?" Gilang memegang keningnya sendiri dengan sedikit mengusapnya "Cinta dan hati saya hanya untuk Olive, bukan untuk kamu. Jadi, jangan bermimpi menjadi nyonyo Gilang di runah ini. Jika waktu bisa di putar kembali, maka saya tidak akan pernah menikahi kamu, dan kamu itu tidak lebih dari tamu di rumah ini" Egonya terluka oleh cinta sehingga sulit baginya menerima cinta baru. Mata hatinya tertutup rapat. Gilang pun meraih kunci mobilnya.
Brakkkkk...
Dengan keras pintu di banting.
"Ya Allah, kuatkan hamba" Seraya mengusap dada. Alisya pun kembali memungut semua barang yang sengaja ia letakkan di lemari Gilang. Semua yang ia berikan itu sudah sejak lama di siapakan untuk imamnya.
Dengan terurai air mata, Alisya melibat baju itu lalu meletakkan di lemarinya "Sampai sedalam itu cinta kamu terhadap wanita itu mas, sampai kamu melupakan Allah."
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Alisya pun bersipa shalat.