HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 149


__ADS_3

Setelah kepergian Risa pagi itu, terasa berat bagi Leo untuk melepaskan kekasih hatinya...


Hubungan kita hanya di dasari dari rasa sakit dan air mata. semoga kita bisa membangun bahagia untuk masa yang akan datang...


Pandangan Leo kabur dengan seiringnya kepergian Risa.


Baru kali ini dia merasa hampa tanpa adanya sosok pengganggu macam Risa, namun ia heran kenapa semua hal yang di lakukan Risa begitu membekas dalam hati...


"Apakah aku sudah benar-benar pindah ke lain hati...?." gumam Leo dengan fokus pada kemudi mobil.


Pikirannya saat ini tidak menentu, ada banyak hal yang selalu membebani dirinya...


saat hati mulai tidak tenang, satu-satunya hal yang membuat dia bahagia adalah menemui para sahabatnya..


tak berapa lama, dia menuju rumah Dimas.


"Leo, tumben kamu kesini?." Heran Dimas sembari mempersilahkan Leo masuk.


"Aku hanya ingin melepas rindu pada dirimu..."


"Dasar bodoh! kamu kira aku penyuka lelaki? lebih baik aku merindukan wanita liar di luar sana." Cetus Dimas.


"Jangan main-main dengan para wanita malam. takutnya nanti kamu di tinggalkan saat kamu mulai nyaman...." Tanpa basa-basi Leo menuju lemari es lalu mengambil beberapa kaleng air dingin.

__ADS_1


"Sepertinya itu pengalaman kamu...?."


"Enak saja, aku tidak seperti itu." Leo menepuk pundak Dimas.


"Oh iya, katanya hari ini kekasihmu kembali ke Eropa?." Dimas mencoba membuka pembicaraan.


"Hemmmm..."


"Apa kalian benar saling mencintai? aku tau seberapa besar kamu mencintai Criz. tidak akan mudah untuk kamu menggantikan gadis baik seperti Criz itu." Dimas menatap wajah pucat sahabatnya tersebut.


Leo terdiam sejenak, ada satu hal yang tidak dapat dia ungkapkan kepada siapa pun.


karena dia masih mencari jalan untuk hidupnya....


Dimas sadar bahwa saat ini Leo tengah berjuang mati-matian untuk membunuh rasa cinta di dalam hatinya untuk wanita yang sudah menjadi milik orang lain.


"Jalani apa yang seharusnya kamu tempuh. wanita yang saat ini bersama dengan kamu, mungkin dia nantinya yang akan membuat kamu mengerti bahwa dia layak kamu cintai sepenuhnya." Jelas Dimas.


Beberapa menit setelah itu, mereka saling diam.


ada kebisuan yang menusuk di ruangan tersebut, akan tetapi Dimas sudah paham jika diam-nya Leo adalah suatu pertimbangan berat dalam dirinya.....


"Oh iya, lalu bagaimana dengan luka di kepalamu?." Tanya Dimas.

__ADS_1


"Sudah membaik, hanya saja masih belum begitu pulih." Jelas Leo dengan bersandar pada bahu sofa.


"Aku dengar dari Hans katanya anak yang kamu tangani waktu itu telah meninggal. apakah kamu sudah mengetahuinya....?."


"Aku sudah mendapat kabar dari pihak keluarganya, saat itu aku merasa sedih. jika saja saat itu aku tidak mengalami kecelakaan, maka anak itu pasti dapat terselamatkan..." terasa berat bagi seorang dokter mendengar kepergian dari pasien.


"Aku tidak bisa menyalahkan diri kamu sendiri, karena sesungguhnya kamu pun tidak menginginkan kecelakaan itu terjadi. semua sudah di atur oleh sang maha segala-Nya." Jelas Dimas sembari meraih rokok di meja.


"Tapi aku merasa gagal...." seketika Leo merasa sesak nafas.


tidak pernah terbayangkan jika semua itu terjadi begitu saja...


"Kamu memang banyak gagal dari pada berhasil...buktinya kamu gagal move on." Cetus Dimas dengan menghembuskan asap rokok.


"Hey, matikan rokok itu, atau aku akan menjahit mulutmu." Kesal Leo saat asap rokok beterbangan di ruangan tersebut.


"Hanya dengan ini aku merasa bahagia.." Ucap Dimas tanpa perduli dengan ancaman Leo.


"Oh iya, malam nanti kita kumpul di tempat biasa."


"Banarkah? kalau begitu aku bisa main-main dengan wanita cantik disana." Dimas bersemangat.


Leo menggeleng kepala, ia sudah bisa menebak jika Dimas akan bahagia seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2