HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Setalah kejadian itu membuat Olive sangat terpukul. Di atas meja kerja ia luapkan kesedihan, kepala tergeletak di atas meja bertumpu pada kedua tangan yang terlipat indah "Jahat sekali dia. Di saat aku mulai keluar dari luka itu, dia kembali membawa beribu luka kembali. Kenapa hidupku selalu kesulitan saat ada di dekatnya." sambil meratapi apa yang baru saja menimpanya. Untungnya, kantor saat itu kosong. Jadi, tidak ada yang melihatnya bersedih. Sementara Olive masih di bantu Farhan(Ponakan) untuk menjelaskan semua tentang perusahaan. Awalnya Farhan tidak setuju jika perusahaan di pimpim seorang wanita. Akan tetapi, Damar memintanya diam dan mendampingi Olive sementara waktu. Sebelum Damar mengirim Farham ke luar kota, mengurus cabang perusahaan.


Ting...


Ponsel Olive menyala, segera ia menyeka air mata lalu melihat layar ponsel tersebut (Jangan lupa makan, sayangku) Tulisan tangan Damar membuatnya semakin tersakiti.


"Tuhan telah datangkan kamu dalam hidupku, Mas. Bahagiaku ada bersamamu. Tapi, kenapa Tuhan kembali datangkan luka dari masa laluku"


(Hari ini mas ada jadwal operasi. Doakan mas supaya operasi berjalan dengan lancar) tak lupa gambar hati tersemat di akhir pesan.


(Iya, mas. Semoga semua berjalan lancar. Jangan lupa berdoa sebelumnya) Balas Olive.


Tok tok..


"Masuk..."


Seorang wanita dengan menenteng sesuatu di tangannya "Maaf, mengganggu waktu ibu. Ada kiriman atas nama ibu" Di serahkan bingkisan tersebut. Satu paket makan siang ada di dalamnya "Kenapa tidak ada nama pengirimnya"


"Saya juga tidak tau, bu. Tadi ada kurir mengantar ini. Kalau begitu saya pergi dulu" Olive mengangguk. Segera wanita itu meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Apa mungkin mas Damar yang mengirimnya..." Ketika ia meraih ponsel, tertulis pesan (Mas mau masuk ruang operasi dulu, sayang. Jangan lupa makan dan jangan tertalu capek. Miss You)


Membaca pesan itu meyakinkan Olive bahwa makanan ini di kirim oleh suaminya. Perlahan Olive membuka makanan itu lalu memakannya.


Di sisi lain, ada Gilang tengah duduk di ruang kerja. Kebetulan perusahaan mereka tidak terlalu jauh. Jadi, Gilang bisa dengan cepat kembali ke kantornya.


"Aku harus mendapatkan dia apapun yang terjadi" Ucapnya seraya meraih ponsel di meja "Astaga, wanita itu masih saja sok perhatian" Kesal Gilang kala melihat beberapa pesan singkat dari Alisya. Pesan itu hanya ia baca tanpa ingin membalasan.


"Menyebalkan...." Gilang tak ingin di ganggu siapa pun sebab, hari ini hatinya merasa senang. Kemenangan hampir di genggam.


"Olivia saya sangat mengharapan kamu barada di sisi saya...." Seraya mengingat kejadian tadi "Untungnya saya punya kartu sim baru..." Gilang pun memasang kartu sim baru, hanya semata untuk menghubungi Olive. Gilang menuju cendela kantor. Pesan singkat ia kirimkan kepada Olive. Namun, belum ada balasan sebab, jam kerja sudah di mulai. Pasti Olive sibuk dengan pekerjaannya sampai ia mengabaikan semua pesan di ponselnya.


Brak...


Terdengar pintu ruangan di buka dengan keras. Sontak Gilang terkejut "Amora, apa apaan kamu" Gilang menghampiri Amora yang terdiam dengan mengepalkan tangan. Binar matanya memancarkan amarah "Kakak Jahat..."


Gilang mengernyitka dahi, mengingat hal buruk apa yang ia perbuat sampai adiknya semarah itu. Selama ini Amora tidak pernah semarah itu padanya, untuk sekedar merajuk saja Amora tidak mampu. Gilang adalah kakak kesayangan Amora. Sifat Amora cenderung manja padanya tapi, setelah beberapa tahun belakangan sifat Amora berubah. Semua itu di sebabkan atas kelakuan Gilang sendiri. Setiap saat Amora hanya melihat luka di mata kakaknya sampai ia merasa muak dan menjauh. Setiap kali kakaknya hanya mengingat wanita itu.


"Jelaskan dulu, baru kamu boleh marah. Memangnya apa salah saya" Ucap Gilang seraya menduduki meja kerjanya dengan Kedua tangan di lipat santai.

__ADS_1


Amora mendekat "Siapa yang menyuruh kakak menjodohkan aku sama pria ini..?" Ucap Amora, menunjukkan foto seorang pria tampan berkaca mata.


"Oh....jadi cuma masalah sekecil itu kamu semarah ini? gak jelas banget kamu, dek" Di usapnya kepala Amora.


"Apaan sih..." Menepis tangan Gilang "Aku bisa cari jodoh sendiri kak. Kenapa harus di jodohkan? apa lagi harus sama si mata empat ini"


Gilang terkiki geli "Tapi dia kaya, sholeh dan tentunya dari kalangan atas. Kamu pasti bahagia bersama dia"


Amora menghentakkan kedua kaki "Ah, kakak. Pokoknya aku tidak mau menikah sama dia." Rengek Amora.


"Biar kamu merasakan apa yang kakak rasakan. Menikah dengan orang asing, menyesuaikan diri, dan lain sebagainya. Bukankah selama ini kamu bilang Alisya wanita sholehah, kakak pasti bahagia bersamnya? Sekarang kakak juga mau lihat bagaimana sikap kamu saat menikah dengan orang asing." Gilang kesal saat dulu adiknya terus memaksanya menikah dengan wanita asing.


Amora terdiam sejenak. Perasaannya campur aduk, antara kesal di jodohkan atau menyesali ucapannya.


Gilang tersenyum kemudian berjalan menuju jendela kantor "Saya hanya ingin membuat kamu beserta mama dan papa untuk menyadari kesalahan yang kalian lakukan terhadapku." Perjodohan itu ia lakukan demi menyadarkan orang tuanya.


"Tapi, kak..."


Stttt..."Jalani saja dulu pendekatan, siapa tau kalian jodoh." Ucapnya santai. Tatapan mata Gilang memandang lurus jauh entah kemana. Sadar jika perbuatannya akan merusak masa depan sang adik.

__ADS_1


__ADS_2