
Dengan hal yang baru saja menimpanya, tentu Olive syok bahkan badannya gemetar. Nafas terasa sesak, keringat dingin mengalir deras "Astaga....apa yang telah dia lakukan" Olive hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Namun, tiba tiba ada seseorang di belakangnya.
"Kamu kenapa, sayang?" Ia adalah Damar. Ketika Olive menoleh ke belakang, Damar telah bersiap menopang tubuhnya. "Pasti kamu lelah, ya"
"Tidak, mas. Mungkin karena tadi belum sempat makan siang" Tuturnya seraya kembali fokus mengaduk teh dan secangkit susu hangat.
"Kalau begitu mari kita makan bersama..."
Olive mengangguk dengan senyum tipis, ia pun membawa minuman ke meja makan. Dimana sudah ada Gilang. Tatapan mata Gilang seolah menggoda. Bahkan, Ketika Olive berjalan dengan membawa minuman, tatapan mata Gilang tidak lepas darinya.
Kenapa dia menatapku seperti itu....
"Sayang, awas..." Segera Damar menghentikan langkah istrinya ketika nampan di tangannya hampir tergelincir.
"Hati hati..." Sambung Gilang. Ia berdiri dan hendak membantu Olive. Namun, Olive memilih menoleh suaminya lalu ia tersenyum tipis "Saya hanya terlalu ceroboh, maaf ya"
Melihat kedua suami istri saling memandang, membuat Gilang mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia berontak, wanita yang ia cintai menatap seoarang lelaki penuh dengan cinta. Sedangkan Olive tidak pernah melihatnya sedalam itu.
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang kita makan..." Damar mengusap kepala Olive lembut.
Gilang semakin geram. Dengan terpaksa mengendalikan emosi di depan Damar.
"Kalau begitu, sialahkan duduk kembali..." Tutur Damar seraya menarik kursi lalu duduk.
Olive meletakkan secangkir susu hangat untuk suaminya, kemudian memberikan secangkir teh untuk Gilang.
"Silahkan di minum..." ucap Damar seraya meraih cangkir tersebut.
"Mas, sini piringnya biar saya ambilkan" Olive pun menyiqpkan makanan untuk suaminya. Setelah selesai ia hendak duduk, Damar memintanya menyiapkan untuk Gilang.
"Tapi mas...."
"Tamu adalah raja..." Jawab Damar dengan memberi senyuman manis.
Semakin lama melihat mereka mesra seperti itu, membuatku semakin mual...
__ADS_1
Gilang mengutuk Damar sebisa yang ia pikirkan. Otak dan hatinya telah di penuhi hawa nafsu, sampai ia menutup mata dan kedua telinganya. Sebagai seorang muslim, seharusnya ia tau kecintaannya itu tidaklah benar. Perasaan itu tidak salah, hanya saja ia tidak bisa mengendalikan rasa itu sendiri.
Cinta itu bagai ladang dosa. Di mana banyak pikiran kotor dan niat yang tidak terpuji. Salah satunya mencintai suami atau istri orang lain. Meski begitu perasaan cinta itu sendiri tidak bisa di salahkan. Sebab, kita sendiri tidak tau dari mana datangnya cinta, kepada siapa, dan kapan. Tuhan menciptakan hati untuk merasa. Tapi, Tuhan tidak menciptakan rasa untuk menjadi ladang maksiat.
Tergantung bagaimana kita menyikapainya, juga menilai cinta yang salah atau yang benar.
Dengan demikian, kita sendiri harus bisa mencari jalan terbaik untuk rasa yang salah. Jika kita ingin mengejar cinta dari milik orang lain, bersiaplah pergi lalu tinggalkan.
Berharap dari milik orang lain tidak akan menjanjikan kebahagiaan, bahkan Tuhan telah menyiapkan bara api di depannya.
"Terima kasih.."Tutur Gilang sembari tersenyum jahat. Niat yang Gilang miliki saat ini adalah memiliki Olive bagaimana pun caranya.
Mereka pun makan bersama. Setelah selesai Gilang kelaur hendak mengambil sesuatu.
"Mas, kenapa lama sekali.." Protes Alisya. Ia sengaja membawa Alisya mampir ke ru.ah Gilang, untuk mengembalikan tas Olive. Alisya tau jika wanita yang di cintai suaminya itu adalah pemilik tas tersebut. Namun, Alisya hqnya bisa berdoa untuk kesadaran suaminya tersebut.
Gilang meraih tas Tersebut tanpa perduli dengan Alisya.
__ADS_1