HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Mas, buka pintunya..." Olive masih barada di depan pintu, mencoba berulang kali memohon kepada sang suami. Namun, apa boleh buat kesalahan yang begitu fatal tidak akan di maafkan dengan mudah.


"Aku akan berusaha sebisa mungkin mengembalikan kemeja ini" Meraih kemeja lalu membawanya ke samping rumah. Ia mencari kran air di samping rumah, biasa terdapat kran untuk menyirami tanaman. Sialnya Olive tidak menemukan ember, akhirnya dia memutuskan untuk menuju pintu samping di mana jam segini Mbok Inah masak.


Tok tok..


Pintu dapur di ketuk, berharap mendapatkan pertolongan dari Mbok Inah. Tapi, sudah berulang kali memanggil nama Mbok Inah, beliau tidak kunjung keluar.


Sebenarnya Mbok Inah ada di dapur. Ingin rasanya membukakan pintu, hanya saja Damar menghentikan dirinya.


"Saya mohon jangan biarkan dia masuk. Mbok tau bagaimana dia telah menghancurkan kepercayaan saya selama ini. Selama bertahun lamanya saya menjaga hati demi dia dan dalam sekejap dia hancurkan begitu saja. Sakit Mbok, sakit" Damar kembali memperlihatkan air matanya.


Mbok Inah membawa Damar dalam pelukan layaknya seorang ibu meminjamkan bahu bagi putranya. Kesedihan Damar juga kesedihannya.


"Mbok, saya tau Mbok di dalam. Tolong buka pintunya Mbok, saya mohon"


Damar memejamkan mata merasa tersayat mendengar rintihan Olive. Sebagai seorang suami ada rasa iba tapi sebagai seorang yang terluk hati ia merasa belum seberapa.

__ADS_1


"Saya ke kamar dulu, Mbok. Ingat, jangan kasih dia masuk" Damar memutiskan menjauh dari sana supaya suara istrinya tidak semkain menyaikiti hati.


"Bagaimana ini" Mbok Inah mondar mandir bingun apa yang harus di lakukan. Setelah berpikir sejenak, Mbok Inah memilih meninggalkan dapur.


Dari luar pintu, Olive memaku bertemankan air mata. Dia memikirkan cara bagaimana dia bisa menghilangakan noda itu.


Olive pun pergi dari kediaman Damar. Sesekali menoleh, melihat jendela kamarnya yang terbuka sebagian. Tirai putih menutup pandangan.


"Semua ini memang salahku, aku harus menerima hukuman darimu, mas. Aku pantas menerimanya" Perlahan Olive menyeret koper melangkahkan kaki keluar dari pekarangan rumah.


Duar...


Langit mendung mukai bergemuruh kencang, angin bertiup kencang dan hujan turun dengan lebat. Damar melihat Olive menyusuri jalan dengan basah kuyup.


"Apa yang ada dalam pikirannya, dia bisa sakit" Ketika hendak berbalik, kembali ia mengingat kejadian malam itu. Damar menghentikan niatnya dan hanya melihat sang iatri dari jendela kamar. Air hujan di terpa angin menelusup masuk melalui celah jendela.


"Kenapa semua terjadi dalam hubungan kita"

__ADS_1


Di sisi lain, Olive terus berjalan dengan guyuran air hujan. Matanya tak henti menatap bawah, menyesali semua yang telah terjadi.


"Hujan, hapus jejak kesakitan yang telah ku perbuat" Seketika Olive berteriak kencang, wajah menengadah air hujan, kakinya bersimpuh di tanah penuh air.


Olive benar benar tidak bisa melewati semua tanpa Damar, sosok wanira yang sudah membuatnya jatuh cinta. Olive juga adalah obat penawar pertama yang mempu membalut luka dari masa lalu, hingga ia kembali merasakan indahnya mencintai dan di cintai. Sosok Olive sendiri termasuk anugrah tuhan bagi Damar selama ini, yang mampu membuatnya bangkit dan terus berjuang, kini semua hancur bagai debu jalanan.


"Apa dia bodoh" Damar segera berlari kala melihat Olive bersimpuh di bawah hujan seperti itu.


"Mbok, ambilkan payung" Teriak Damar sambil menuruni anak tangga.


Dari kejauhan Mbok Inah berlari "Iya, Den." Di ambilnya Payung di samping pintu dapur lalu memberikannya pada Damar.


"Aden mau kemana, di luar hujan lebat?"


"Pokoknya Mbok buat susu jahe anget ya, saya mau keluar sebentar" Danar pun berlari.


"Lah kok si Adena malah keluar. Katanya minta di buatin susu jahe, lah ini malah pergi. Keburu dingin dong. Ah...tinggal bikin aja lah dari pada ntar salah"

__ADS_1


__ADS_2