HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Nggak nyangka dia juga bisa marah" Sambil menapaki anak tangga, Gilang mengingat bagaimana raut wajah Alisya. Tidak seperti biasanya saat Hati dan perasaan Alisya di buat hancur olehnya, tapi saat Gilang mengusik tentang Tuhannya dia pasti akan murka.


Bruk...


Tanpa sengaja Tuti menabrak Gilang hingga keduanya terjatuh.


"Tuti.....kalau jalan itu lihat lihat dong, punya mata kok di pake lihat hp terus. lama lama kamu nikahin aja hp itu" Maki Gilang dengan nada tinggi.


Tuti segera memungut ponselnya yang tergeletak akibat tertabrak oleh Gilang. Matanya terlihat sembab sepeetinya habis menangis.


"Ada apa?"


Tuti menyeka sisa air mata yang hampir saja lolos dari teluk, lalu ia berusaha bangkit tapi kakinya serasa lemas hingga ia pun memilih duduk "Ibu saya...." Isak tangisnya kembali menghentikan ucapannya.


"Jelasin dulu baru nangis. Kalau kamu nangis gini gimana cara jelasin sama saya" Cetus Gilang sembari mendekati sofa. Ia pun duduk di tepi sofa sambil terus melihat Tuti yang tertunduk lesu. Sesekali tangannya menyeka air mata dan sesekali pula ia memejamkan mata.


"Ibu saya meninggal dunia, Tuan"


Gilang terperanjat "Kalau begitu tunggu apa lagi kamu cepat pulang. Jarak kota ini sama kampung halaman kamu cukup jauh, sekarang saya ijinkam kamu pulang kampung, saya pesankan travel dulu"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Tuti berlari menuju kamarnya sedangkan Gilang menelepon pihak travel. Tak berapa lama Gilang melihat Tuti sudah bersiap dengan menenteng tas jinjing lumayan besar, mungkin berisikan beberapa baju dan lainnya.


"Saya mau pamit sama Non Alisya dulu, Tuan" Pintanya.


"Tidak perlu, yang lebih penting sekarang kamu segera pulang" Titahnya sambil berjalan ke luar rumah di ikuti Tuti. Di depan pintu gerbang sudah ada sebuah travel berwarna abu abu setelah Gilang memberi uang untuknya dia juga telah membetikan uang gaji selama 1 bulan ke rekening Tuti.


"Gaji kamu sudah saya transfer, dan ini ada sedikit uang untuk jaga jaga kamu selama di perjalanan. Saya serta keluarga turut berduka cita ya Tut, semoga ibu kamu mendapatkan tempat terindah di sisi Tuhan" Gilang pun memberikan amplop itu lalu menepuk lengan Tuti.


"Gaji saya bulan kemarin bukannya sudah saya ambil Tuan, kenapa anda memberi gaji sama saya lagi" Seminggu yang lalu Tuti menerima upah dari jerih payahnya selama bekerja di rumah Gilang. Setiap bulan Gilang mengirim gqji ke rekening Tuti.


"Tidak apalah, anggap ibu bonus untuk kamu." Tuturnya.


"Hati hati di jalan Tut banyakin doa" Teriak Gilang.


Terlihat dari kejauhan Tuti mengangguk, sesekali ia menyeka air matanya.


"Loh itu Tuti mau kenama?" usai shalat tanya di sengaja Alisya melihat Tuti keluar dari pinru gerbang. Dengan masih mengenakan mukena Alisya berlari menuju balkon kamarnya "Kok naik travel, sebenarnya Tuti mau kemana?" Alisya pun segera melipat mukena lalu memakai jilbab dan cadarnya.


"Ya Allah ada apa dengan Tuti, jangan jangan maa gilang memecatnya...." Pikir Alisya "Astagfirullah....saya tidak boleh berburuk sangka." Segera ia berlari menuju teras rumah di mana terdapat suaminya tengah duduk di kursi depan rumah.

__ADS_1


"Mas kemana Tuti?" Dengan tertatih ia menghampiri suaminya.


"Pulang kampung" Singkatnya.


"Memangnya ada masalah apa?" Heran Alisya yang masih menatap ke arah pintu gerbang, namun travel itu sudah terlanjur pergi.


"Ibunya meninggal" singkatnya.


Alisya menatap wajah suaminya "Innalillahi wainnailaihi rojiun....kenapa mas tidak memanggil saya, kita bisa mengantarkan dia pulang kampung, mas."


"Nggak perlu" Gilang pun bangkit hendak masuk ke dalam rumah.


"Mas...." Gilang meraih lengan suaminya.


"Apa salahnya kalau kita mengantarnya pulang , bagaimana pun Tuti sudah menjadi bagian dari kita. Ayo mas kita susul Tuti"


Gilang menepis tangan Alisya dengan tatapan mata tajam "Kalau kamu mau ke sana silahkan. Saya banyak kerjaan" Gilang pun meninggalkan Alisya.


"Ya Allah terbuat dari apa hati suamiku ini, kenapa dia seperti itu" Alisya mengusap dada.

__ADS_1


__ADS_2