HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Olive sudah di perbolehkan pulang, bersama dengan suami dan mbok Inah dia berjalan keluar dari rumah sakit. Tanpa mereka sadari ada sosok Gilang melihat mereka dari dalam mobil, ia bersama seorang wanita cantik.


"Sekarang waktunya" Ucap Gilang.


Si wanita tersebut segera turun dari mobilnya lalu berkarian kecil menuju arah Olive.


"Damar....." Seorang wanita cantik tiba tiba berlarian ke arah mereka.


"Apa apaan kamu ini" Damar terkejut kala Fanya memeluknya dengan erat.


Fanya masih memeluknya sambil memperlihatkan wajah sedih "Tolongin Mama, mama, sedang sakit di rumah Dam, tolong mama...." Sembari menghuyung lengan Damar. Air matanya mengalir deras seolah benar terjadi


"Harusnya kalau mama kamu sakit di bawa ke rumah sakit kenapa harus minta tolong sama Den Damar" Celetuk Mbok Inah. Gelagat tidak baik di rasakan dari wajah Fanya.


"Dia juga Dokter kan, kelamaan kalau di bawa ke rumah sakit" Fanya terus menerus menarik lengan Damar.


"Lepas..." Damar hendak melepas tangan Fanya di lengannya tapi Olive menyentuh lengan Damar yang satunya "Tidak apa apa, saya dan Mbok Inah bisa pulang naik taksi. Mas pergi saja" Olive pun menganjak Mbok Inah menjauh dari Damar dan wanita itu. Sebenarnya Olive merasa sakit hati karena wanita dari masa lalu suaminya kembali hadir dalam hidupnya.

__ADS_1


"Sayang tunggu..." Damar mencoba menghantikan langkah kaki Olive.


Olive berbalik lalu tersenyum "Sudah kewajiban kamu menolong orang sakit"


Damar merasa hati istrinya sakit terlihat dari senyum getir di bibirnya.


"Tuh kan istri kamu saja paham kenapa kamu masih ragu..." Fanya terus menerus menarik lengan Damar.


"Apaan sih...." Kembali Damar menepis tangan Fanya tapi kali ini Damar sedikit risih karena Fanya menempelkan dada di lengannya sampai terasa dua gundukan itu terasa menyentuh kulitnya.


"Kalau gitu ayo...."


Mereka pun menuju rumah Fanya, sesampainya di depan rumah Fanya, Damar sedikit ragu mamasuki rumah itu karena pintunya tertutup rapat. Di tambah lagi Fanya baru beberapa bulan dintinggalkan suami karena meninggal dunia.


"Ayo masuk..." Fanya membuka pintu lalu meminta Damar duduk di ruang tamu.


"Di mana mama kamu?"

__ADS_1


"Em....mama, masih di kamar. Kamu minum dulu ya" Fanya menyuguhkan secangkir teh di hadapan Damar.


"Saya tidak haus, tujuan saya ke sini bukan untuk minum teh tapi mengobati mama kamu"


Fanya duduk di samping Damar sembari meraih cangkir di depan Damar tersebut "Minum dulu, tidak baik kalau masuk ke rumah orang tanpa minum. Setelah ini baru kamu obati mama"


Tidak mau basa basi lebih lama lagi, Damar pun meminum Teh tersebut sampai habis "Saya sudah meminumnya sekarang mari kita lihat kondisi mama kamu" Damar hendak berdiri tapi kepalanya terasa pusing berkunang kunang, akhirnya Damar kembali terduduk.


Fanya sengaja memasukkan obat kedalam teh Damar.


Badan Damar terasa panas sampai Damar membuka baju dan nafasnya terengah engah.


"Sini biar saya bantu dinginkan badan kamu" Fanya segera memeluk Damar yang sudah hilang kendali. Dia dalam pengaruh obat perangsang, meski begitu Damar tidak mau di dekati Fanya.


"Minggir kamu..." Damar mendorong Fanya sampai ia terjatuh ke lantai.


"Ah....sakit" Fanya pun kembali berdiri lalu memeluk tubuh Damar dengan kuat, Damar hendak mendorongnya lagi tapi tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Fanya pun ambil kesempatan dengan menarik tangan Damar masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2