HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Mas, Damar...." Olive melihat suaminya membuka pintu kamar.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


Olive tersenyum "Sudah membaik, mas. Terima kasih, mas telah menolong saya"


Damar berdiri di samping ranjang melihat Olive terbaring di tempat tidur, hatinya sakit melihat balutan perban di kepala sang istri.


"Syukurlah kalau begitu..." Sikap Damar mulai terlihat berubah, sedikit acuh. Biasanya Damar paling tidak bisa melihat Olive terluka sedikit pun. Pernah suatu ketika jari Olive tidak sengaja terkena pisau kala hendak mengupal apel, reaksi Damar di luar dugaan, dengan panik di panggilnya teman medis untuk memastikan kondisi sang istri. Ingatan itu memberi kesan mendalam di hati Olive sampai saat ini. Namun, kali ini ada yang berbeda. Goresan luka terlalu dalam membuatnya tersakiti. Andai saja kejadian iti tidak di alami Olive, maka saat ini Damar masih sama seperti sedia kala. Cinta tidak berubah, hanya saja Damar sedikit menjauh, menyembunyikan rasa di balik luka.


"Mas..." Lirih Olive.


"Hem...." Damar sudah duduk di kursi samping tempat tidur sembari mengotak atik ponsel. Ponsel di tangan hanya sebagai alat pengalihan semata.


"Saya...."


Belum sempat Olive berkata, ucapannya sudah di potong.


"Besok saya mau keluar kota." Ucap Damar.


"Ha, keluar kota? berapa hari, mas? bukankah mas ambil cuti"

__ADS_1


Damar meletakkan ponsel, beranjak dari tempat tidur menuju jendela kamar "Saya menyesal telah mengambil cuti waktu berharga saya hanya demi menyaksikan kelukaan itu. Sudahlah, jangan ungkit masalah kemarin lagi, lebih baik kamu fokus sama kesembuhan kamu dulu" Tatapan Damar terus menatap luar jendela, kedu tangannya masuk di saku celana.


Olive merasa sangat bersalah, pastinya hati dan jiwanya terluka. Meski petaka itu tidak pernah sekali pun terbayang olehnya.


"Mas.....apakah kamu mau menerima ku kembali? aku janji akan menebus semua kesalahan itu. Aku mau ikut mas kemana pun mas pergi"Walah memelas Olive tidak di perdulikan Damar. Ingatan itu terus mengisi hatinya sampai tidak ada celah kebaikan dalam diri Damar untuk Olive. Meski begitu Damar tidak menampik rasa cinta untuk sang istri.


Pandangan Damar tertuju padanya "Entahlah..." Merasa terusik dengan pertanyaan Olive, segera ia meraih kunci mobil di atas meja rias. Ketika tengah menunduk hendak mengambil kunci di lihatnya wajah Olive tertunduk lesu, dan buliran air mata menetes di pipi.


"Saya masih ada tugas di rumah sakit. Kamu istirahat saja, jangan banyak memikirkan sesuatu. Hujan saja turun tanpa terduga, jadi setelah hujan hanya ada dua pilihan, pelangi setelahnya atau banjir yang menenggelamkan. Yang berhak memutuskan bukan kamu atau saya, melainkan Takdir kita nantinya." Damar bergegas keluar dari kamar.


Tangannya memegang ponsel "Temui saya di taman xx sekarang juga"


Damar segera keluar rumah dengan mobil mewahnya.


Menangisi segala semua yang telah terjadi.


"Semua ini salah ku. Kenapa aku harus kembali berhadapan dengannya(Gilang). Aku tidak mau kehilangan kamu, mas." Jika waktu bisa di putar ke belakang, maka Olive ingin mengembalikan waktu sebelum ia bertemu kembali dengan Gilang. Masa indah mereka berdua, penuh tawa, penuh cinta, dan bahagia.


"Aku kangen kamu yang dulu, mas. Selalu ada saat aku sakit, semua perhatian kamu berikan penuh hanya untuk ku. Tapi sekarang kelihatannya aku sudah tidak pantas untukmu." Olive melihat arah jendela. Semilir angin menerpa tirai putih, menyadarkan Olive betapa sakitnya setelah kehilangan.


Air mata Olive tumpah ruah "Aku telah melukai sosok malaikat seperti kamu, mas. Aku memang tidak pantas untuk kamu lagi."

__ADS_1


"Ada apa?" Seorang laki laki berdiri tegap di samping kursi taman yang telah di duduki Damar.


"Duduklah dulu, santai saja Bro" Ucap Damar sambil menggeser badan memberi ruang untuk Gilang.


"Nggak usah basa basi. Nggak ada waktu buat debat, mending langsung poinnya aja"


Damar tersenyum, kedua tangannya melipat di atas perut, tatapan mata lurus ke depan "Apa kamu masih mencintai Olivia?"


Gilang terkejut, pertanyaan itu jelas jawabannya.


"Seharusnya kamu tidak perlu bertanya karena jawabannya kamu sudah tau" Gilang merasa ada maksud besar di balik pertanyaan itu.


Mencoba bersikap baik baik saja "Jika saya meminta kamu berhenti mencintai istri saya apakah kamu akan meninggalkan dia?"


"Pertanyaan macam apa ini? kamu sengaja mempermainkan saya, ya? saya sangat mencintai dia. Tidak akan pernah saya meninggalkan dia, paham kamu" Gikang tersulit emosi sampai terhenyak dari duduknya.


"Sabar dulu jangan buru buru, duduk saja dulu" Damar melihatnya sedang merasa kesal.


"Kalau kamu menginginkan dia, mungkin saja saya bisa berikan sama kamu. Tapi...." Ucapan Damar tertahan sesaat.


"Tapi apa? kalau cuma harta atau tahta atau yang lainnya saya bisa berikan semua sama kamu asal, Olive jadi milik saya." Gilang pun tanpa pikir panjang rela melepas segala yang ia punya demi seorang wanita. Padahal Damar tau jika cinta Gilang itu sekedar Obsesi semata, sebab sejatinya cinta itu bukan untuk mengorbankan.

__ADS_1


"Kamu bisa miliki dia tapi kamu tidak akan mendapatkan rasa cintanya." Dengan santainya Damar mengulas senyum.


__ADS_2