
Bukan jawaban yang Gea dapat melainkan tindakan Dimas. Segala Hasrat dalam diri mulai mengikat keduanya, Semua rasa meluap dalam satu pandangan.
" Jika kamu menjauh karena aku punya anak, sekarang saatnya akan ku buat kamu tidak akan bisa lepas dari ku. Sekecil apa pun alasannya..." Tanpa pikir panjang Dimas membawa Gea masuk ke dalam kamar. Tatapan mata Dimas membungkam mulut Gea, membuatnya tenggelam dalam lautan keindahan.
Wajah Gea memerah, jantung berdetak kencang, seluruh tubuh terasa panas dingin, lidah seolah terkunci rapat sehingga tak sedikit pun dia bersua. Meski bagi Gea hal seperti ini bukan pertama kali, tapi dia merasa gugup karena baru pertama untuk sekian lamanya melihat Dimas penuh senyum, dan sedikit nakal padanya.
Sentuhan manis di dagu kekasihnya...
" Sungguh indah ciptaan Tuhan ini." Berulang kali Dimas membuat Gea tenggelam dalam rayuan.
" Dimas.." Lirih Gea sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. " Jangan membuat ku malu seperti itu."
Senyum Dimas melukiskan bahagia berlebih. Dan pada akhirnya mereka melakukan keindahan tanpa adanya paksaan.
Luapan Hasrat mengguncang kedua manusia saling cinta, berlabuh dalam satu titik(Cinta).
Sesaat setelah itu, mereka saling menatap, kepala Gea bersandar di lengan kiri kekasihnya dengan tangan melingkar di badan Dimas. Sedangkan Dimas meraih ponselnya melihat ada beberapa panggilan dari Lily dan ibundanya, tapi dia memilih mematikan ponsel supaya tidak terjadi masalah lain antara Gea dan dirinya.
" Kenapa di matikan?"
Dimas meletakkan ponsel lalu beralih pandang padanya....
__ADS_1
" Tidak ada satu hal penting dari apa yang saat ini ada di hadapan ku." Satu tangan kanannya membelai rambut panjang Gea yang terurai indah.
" Sepertinya sinar matahari hari ini redup..."
" Redup apanya, di luar saja nampak panas begitu." Dengan melihat jendela terbuka berhias cahaya terang.
Kembali Dimas tersenyum lalu mencubit hidungnya. " Sebab matahari ku jauh lebih terang."
Kali ini Gea benar-benar di buat gelagapan dengan semua rayuan. Segera dia bersembunyi di balik selimut, menutupi rasa malu. Namun Dimas bukan seorang hilang akal, Dia pun menarik selimut hingga dirinya pun berada dalam dekapan selimut yang sama. " Tak perlu di tutupi, semua dalam dirimu aku sudah melihatnya." Dalam balik selimut Dimas kembali membuat Gea gentar, dirinya kembali mendapat keindahan untuk kedua kalinya.
Tak berapa lama mereka menyudahi aksinya, dan saling membersihkan diri dari sisa keringat keindahan. Dimas lebih dulu keluar dari kamar mandi, sedangkang Gea masih ada di dalam. Maklum seorang wanita lebih lama berada di kamar mandi.
Baru kali ini ada seorang wanita yang membuat ku gila...
Bersamanya ku temukan kembali hidup ini..
Sebelum Gea keluar, segera dia mengirim pesan singkat kepada seseorang. Setalah itu kembali ponsel di letakkan di atas meja. Pandangannya menuju luar jendela, angin perlahan masuk melalui sela-sela jendela menerpa wajah Dimas.
Angin datang padanya memberi ucapan selamat atas datangnya bahagia.
Tak berapa lama Gea keluar...
__ADS_1
" Sayang, duduklah." Pinta Dimas. Saat ini
mereka masih berada di dalam kamar.
Dengan hanya menggunakan kimono dan balutan handuk di kepala, Gea menuruti perintah Dimas.
" Iya. Ada apa?"
" Aku bantu keringkan rambut." Segera Gea duduk lalu mengurai rambut basahnya. Wajah sedikit mendongak, memudahkan Dimas mengeringkan rambut.
" Oh iya, sayang. Besok ada tamu datang kesini, apakah kamu keberatan?"
" Siapa?"
" Pastinya mereka tidak akan merusak liburan kita ini."
" Bersiaplah untuk hari esok, cinta." Sedikit ketukan pada dahi kekasihnya.
" Memang besok ada acara apa sih?" Heran Gea.
" Besok juga tau sendiri." Ucapnya kembali melanjutkan mengeringkan rambut Gea.
__ADS_1