HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Mau gimana ya, Gil. Namanya perasaan cinta itu datangnya dari Tuhan. Saran saya sih mending jadiin istri ke dua saja. Beres kan. Enak di Kamu enak juga di Dia. Tapi pastinya akan ada hati yang terluka" Jawab Kenzo santai.


Gilang mengernyit, mengerti siapa orang yang Kenzo maksud "Masalah wanita itu (Alisya) saya tidak perduli. Keberadaannya tidak saya inginkan, jadi untuk apa saya pertehankan."


Kenzo semakin geleng kepala, tak menyangka otak sahabatnya telah di rusak oleh rasa cinta itu sendiri. Kenzo memilih diam dari pada harus berdebat hingga berujung kemarahan.


"Saya tidak akan menjadikan dia orang ketiga dalam urusan pernikahan. Pantasnya dia itu jd satu satunya dan di nomor satukan..." Gilang kembali duduk dengan kepala bersandar, melihat langit langit ruangan.


Sebenarnya Kenzo sangat menyalahkan Gilang tentang rasa cintanya ini. Mengingat kondisi dan ego Gilang terlalu tinggi, membuatnya enggan berpendapat normal. Sifat Gilang memang menyebalkan bagi sebagian orang yang baru mengenalnya. Akan tetapi Gilang sangat setia kawan. Gilang selalu ada ketika sahabatnya membutuhkan bantuan. Tidak jarang Gilang memberikan modal besar besaran kepada mereka. Sikap keluarga Gilang kepada mereka juga sangat baik, sampai mereka di anggap anak kedua dan ketiga keluarga itu.

__ADS_1


"Bagaimana pendapat kamu, Ken? saya tidak tau harus berbuat seperti apa lagi. Di sisi lain saya ingin mengejarnya dan di lain sisi..." Gilang terdiam sesaat.


"Kenapa?"


Menarik nafas panjang sebelum mengucap kata yang memberatkan hati "Di lain sisi dia sudah menikah.."


"Haaaa....menikah?" Betapa terkejutnya Kenzo kala mendengar sahabatnya mencintai wanita bersuami. Bahkan, Kenzo tak habis pikir bisa bisanya orang seperti Gilang terjatuh ke dalam jurang seperti itu.


"Lalu saya harus bagaimana(Menatap mata Kenzo) kamu pikir mudah melalui semua ini. Saya juga tau ini tidak benar, tapi hati saya yakin jika dia adalah jodoh saya" Egonya mulai mencul ke permukaan. Gilang sudah hilang kendali seperti beberapa tahan belakangan ini.

__ADS_1


Ting...


Ponsel di atas meja menyala, tentu ponsel itu milik Gilang. Kenzo melirik nama di balik pesan tersebut. Dengan cepat Gilang meraihnya "Kenapa dia selalu menggangguku.. " Kembali Ponsel di letakkan dengan posisi terbalik.


"Kenapa kamu acuhkan, bukankah tadi istri kamu mengirim pesan"


"Tidak penting!" Ketusnya.


Ternyata di balik pembicaraan mereka sedari tadi Alisya mendengarnya. Ia berdiri di depan pintu selama hampir sepuluh menit. Kedatangannya semata ingin mengirimkan makan siang. Namun, ketika ia hendak mengetuk pintu terdengar suara Gilang bercakap dengan seseorang. Katika ia membuka pintu terdengarlah gelegar kata menyakitkan dari mulut suaminya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mendengar semua ucapan Gilang, langkah kakinya mulai melangkah mundur, hatinya sakit, kakinya lemas, dan tentunya air mata meluap seketika.


"Ya Allah, apakah ini ujian bagi kehidupan baru hamba...." Lirihnya saat berada di dalam mobil. Alisya segera peegi dari lokasi perusahaan Gilang. Mengendarai mobil dengan kesakitan luar biasa. Sepanjang perjalanan hanya kata kata Gilang teringang di otaknya. Kemudian ia meraih ponsel, memberi tahu pada Gilang bahwa makan siang ada di meja sekertarisnya. Ia tak mampu bertatap muka saat itu, hatinya hancur berkeping keping. Ibarat gelas pecah di terpijak kaki. Sudah luka kehilangan gelas masih di tambah luka diri. Astaga, begitu kejamnya dunia.


__ADS_2